Edelweiss Kering di Dalam Vas

Oleh: Edeliya Relanika Edelweiss tercerabut, walau hanya seikat Angin angin gunung menjadi semrawut Lebah-lebah kalang kabut Tanah menjadi begitu masam Membawa luka pada bebatuan Aku, yang mencabutmu, memanglah jenis manusia biadab Aku mencintaimu, Edelweiss adikku Kuantar penggantimu yang mengering ke rumah, pulang kembali Pada sebuah hunian kecil di kota tua Tepatnya di ruang tamu, di Lanjutkan Membaca

Negeri di Ambang Pilu

  Negeriku sudah tak seperti dulu Dimana tongkat dan kayu jadi tanaman Dimana sawah dan pembangunan mampu berdampingan Dimana petani dan pengusaha mampu bersua dalam satu suara Dimana budaya masih membudaya dalam langkah satu usaha   Namun Negeriku sekarang Revolusi Industri Yang diidam-idamkan menuju peradaban baru Tongkat dan kayu ku kau renggut jadi bangunan baru Lanjutkan Membaca

Langkah Kaki

  Langkah kaki tercecer dalam sebuah gedung Ada langkah kaki para insinyur Ada langkah kaki para pegawai bank Ada langkah kaki para petani Ada langkah kaki para manajer perusahaan Langkah kaki itu tertata rapi Dalam lorong lorong serta Keramik di gedung yang penuh  Dengan sebuah harapan serta derita

DISORDER

    Seiring dengan perjalanan atas segala perkembangan yang terjadi ditanah ini, semua kemelut bertransisi menjadi makanan gurih sehari-hari. Sedangkan anti tesa dan kritik hanya sebagai sesuatu yang dijelmakan sebagai biang kerok masa lampau sampai pada saat ini. Sedikit demi sedikit kita upayakan membuat celah agar dapat membuka kotak pandora tersebut, dan sedikit demi sedikit Lanjutkan Membaca

Sepulang Ngaji dari Langgar

Oleh: Edeliya Relanika (1) Pukul 5 sore, aku buyar ngaji, lalu lapar. Lapar mengutuk tanganku memukul gemas kepala dengan kopyah putih keras. Kenapa tangan menjadi anarkis pada diri sendiri? Karena Wak Inggih masih menghukum Ulfah, tiada lancar melantunkan hapalan surah pendek sampai khatam. Terpaku, kami masih terlikat di lantai Langgar. Kami arek Kroman Gang 7 Lanjutkan Membaca