Pertanian-bausastra

Pertanian sebagai satu hal yang umum ditelinga masyarakat Indonesia, karena menjadi sebuah hal yang utama bagi negara Indonesia. Dimana di negara ini yang katanya negara agraria yang memiliki luasan lahan yang besar dan tanah yang subur, dan juga dijadikan sebuah topik kebijakan bagi para pemimpin atau calon-calon pemimpin yang akan menduduki kursinya disetiap daerah. Tetapi tetap saja semboyan-semboyan itu tidak mampu mesnyelesaikan permasalahan pada pertanian saat ini.

Permasalahan yang dimulai dari fluktuasi harga, ketersediaan, alih fungsi lahan, gagal panen dan lain-lain. Masih sering terdengar dikuping kita. Apakah sebenernya masalah ini benar-benar berat untuk ditangani, dikarenakan terjadinya resistensi dan resurgensi, menurunnya produktivitas, meningkatnya harga pupuk dan pestisida ataukah sebenarnya masalah ini tidak benar-benar dibahas secara serius oleh pemerintah dan koleganya? Coba kita berdiam dan berfikir sejenak.

Oke, mari kita cari tahu dari awal. Definisi pertanian (Agriculture), secara etimologi terdiri atas dua kata, yaitu agri atau ager yang berarti tanah dan culture atau colere. kesimpulanya adalah pengelolaan/untuk menumbuhkan.

Pertanian disini dibagi menjadi dua:

  1. Pertanian dalam arti sempit Menurut Kipps (1970), Agronomy adalah: the study of applied of the science of soil management and of the production of crops (studi tentang aplikasi ilmu pengelolaan tanah dan produksi tanaman).
  2. Pertanian secara luas Menurut Van Aarsten (1953), agriculture adalah digunakannya kegiatan manusia untuk memperoleh hasil yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan atau hewan yang pada mulanya dicapai dengan jalan sengaja menyempurnakan segala kemungkinan yang telah diberikan oleh alam guna mengembangbiakkan tumbuhan dan atau hewan tersebut.

Pertanian merupakan suatu teknologi besar yang ditemukan oleh manusia, dimana pada awalnya manusia berburu untuk memenuhi kebutuhanya. Lalu menemukan sebuah teknologi besar yaitu budidaya. Pada fase ini, dahulu manusia cenderung hidup secara nomaden, lalu lambat laun karena terjadi konflik-konflik tertentu yang menyebabkan manusia menetap dan membentuk sebuah kelompok-kelompok sosial. Hingga terbentuknya kerajaan lalu berganti menjadi negara dengan proses-proses otentik yang disepakati bersama.

Indonesia memiliki luas dataran 1.922.570 km², dengan bentukan-bentukan topografi yang berbeda, disebabkan terjadinya konvergen, divergen dan transmform dimana hal ini menyebabkan perbedaan bahan induk yang berakibat pada perbedaan jenis tanah yang juga berkolerasi pada tanaman-tanaman yang memiliki syarat yang cocok dimasing-masing bentukan lahan tersebut. Banyaknya gunung aktif di Indonesia juga mempengaruhi kualitas tanah yang ada di Indonesia, dimana bahan-bahan yang keluar dari gunung vulkanik akan terdekomposisi menjadi bahan organik. Lalu proses alamiah terjadi, dimana tanaman, hewan, dan adanya manusia yang menyebabkan tanah-tanah di Indonesia subur, serta letak Indonesia yang juga berada pada garis khatulistiwa/ekuator.

Oke mungkin dari penjelasan tadi kita menemukan, keanekaragaman dari flora, fauna bahan organik yang melimpah, jenis tanah (dikarenakan proses dekomposisi yang matang karena Indonesia hanya memiliki 2 musim). Lalu kenapa masih saja harga-harga komoditas pertanian tinggi hingga terbentuknya lahan-lahan marjinal serta terancamnya flora dan fauna kita? Ya kalau menurut saya sih, jelas problemnya adalah “eksploitasi”. Eksploitasi disini kita harus dapat melihat perihal kausalitasnya, seperti pernyataan-pernyataan teman-teman saya baik didesa ataupun dikampus menyatakan “tingginya kebutuhan diakibatkan meningkatnya penduduk”, oke saya menerima statement itu dengan sedikit keganjalan, apakah sebanyak itu kebutuhan manusia sehingga pertanian tak mampu kebutuhan rakyatnya sendiri?

Dari data BPS pertumbuhan luasan panen beberapa tanaman diindonesia, pada rentang waktu (2013-2017) padi sawah 4,63% , padi 4,17%,Pasal 69 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, diundang-undang ini diatur terkait pembukaan lahan. Beranjak pada dua poin tersebut, sebenarnya  terkait dengan kegiatan eksploitasi, sudah diatur, tetapi permasalahan utama akan terjadinya eksploitasi itu tidak dipotong dasarnya, yaitu tentang sistem ekonomi dan bagaimana berjalannya mekanisme pasar tingkat domestic serta globalnya. Mungkin jikalau diteruskan mungkin akan semakin dalam kita melihat efek dari sistem ekonomi yang dianut, seperti dampaknya kepada pertanian, perilaku, pendidikan dan lain-lain.

Mengapa? Karena urusan makan ini memang susah, dimana makan dan minum saja harus kita beli dengan proses produksi, dengan dalih-dalih lainnya, sehingga semisal ketika harga padi naik maka kecenderungan para petani padi akan menanam padinya, apabila padi telah sampai pada massa panen lalu apa yang terjadi? Sehingga menurut saya para akademisi pertanian tidak boleh hanya terfokus pada kegiatan produksi baik hulu-hilir, yang dimana hanya berkutat pada sistem tadi, tapi kita harus kembali mengkaji bagaimana masalah pangan diIndonesia menjadi ketahanan pangan seperti kata dasarnya tahan. Soalnya, kegiatan pendidikan/pembelajaran yang berkaitan dengan pertanian jarang membahas tentang ekonomi yang relevan, hanya mencocokkan dengan keadaan yang ada, dimana keadaan yang dinamis tersebut sangat sulit disentuh hanya oleh petani tersebut. Hingga saya sedikit menghimbau marilah para akademisi dan segala orang yg memiliki kesadaran, menyusun sebuah konsepsi bagaimana pertanian kita bisa berlanjut dan  tidak hanya terfokus pada produksi yang hanya dikuasai oleh segelintir orang saja.

3 komentar pada “Pertanian Di Negeri Agraris”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *