Filsafat

Filsafat itu Haram ?

“Jangan teruskan kata-kata mu itu”. “Filsafat itu haram!”. “Ilmu itu menjauhkan kita dari tuhan”, begitulah ekspresi saat saya ingin memulai berdiskusi dengan teman saya. saya sangat kaget dan bingung kok bisa seperti ini? apa yang salah dengan ini?. Di saat itu saya berhasrat tentang tulisan ini.

Mohon maaf nih, bukan saya bermaksud menggurui atau sejenisnya, sebatang rokok saya nyalakan. Apakah suatu hal yang baik, saat kita memutuskan sesuatu, baik-buruk, benar-salah tanpa memahami dan memaknai perihal suatu hal, seperti saat ini, ya,tentang filsafat itu sendiri, sembari saya sodorkan kursi dan menawarkan satu gelas kopi pada teman saya. oke kita mulai, sebenarnya Apa sih  filsafat itu?

Apa philosophia Itu Sebenernya?

setau saya filsafat itu berasal dari kata philosophia yang terdiri kata 2 kata; philos/philein (cinta) dan Sophia yang berarti kebjaksanaan, Jikalau orang arab mengakatakannya sebagai falsafah. Secara umum merupakan dasar dari segala sesuatu yang kita cari. Apakah kita bermasalah dengan kedua kata diatas atau pengertian secara umum ini?

Mohon maaf nih, saya kurang sepakat dengan statement di atas, karena menurut saya sebenarnya secara sadar/tidak, kita sering melakukan filsafat. Bahkan, jikalau kita mencari tentang penjelasan tentang statement yang disebutkan tersebut, secara tidak langsung mereka juga berbicara menggunakan filsafat. Kita sering menanyakan hal-hal yang berbau filsafat, contoh “apa yang menyebabkan seorang menjadi galau?”.

Filsafat ini identik dengan proses  berfikir secara mendalam untuk memahami persoalan dan menemukan titik tengahnya untuk  digunakan sebagai acuan dalam menetukan tindakan. Bahkan salah satu teknologi besar dalam sejarah manusia tentang penemuan Teknik budidaya pada zaman dahulu atau waktu nabi Ibrahim as mencari siapa tuhannya itu juga tentang filsafat, bro.

Oleh karena itu saya kurang sepakat dengan kata sampean. Filsafat ini berguna bagi kita, karena bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam menilai, berspekulasi. Sebab harus melakukan proses refleksi netral, tanpa adanya tendesi untuk hal-hal yang memenangkan argumen kita sebagai senjata. Contohnya, kita sering berdebat ngalor-ngidul (debat kusir) entah kearah mana, seng penting kita merasa menang. Hal-hal ini bukanlah perilaku berfilsafat, berfilsafat tidak mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita mencoba mencari nilai objektif didalam suatu perkara, dan merumuskan antithesis dari premis yang kita permasalahkan.

“filsafat bukan sekedar merefleksikan suatu perkara/hal. filsafat juga bukan tentang perdebatan keras, untuk mencari siapa pemenangnya. filsafat adalah suatu jalan mencari jawaban dalam koridor cinta dan kebijaksanaan”.

“Lho, apa yang sampean jelaskan kesaya kok bertolak belakang dengan saya dengar mas?”. soalnya, kalau gitu penting dong berfilsafat? tetapi kenapa stigma yang tersebar seperti sekarang? ya saya berterima kasih mas, soale sampean mau menerima pendapat saya, hahaha. Tapi memang benar mas, dalam artian saya tidak memojokkan pada satu pendapat tentang filsafat seperti yang sampean sebutkan di awal, terkadang orang-orang yang belajar filsafat cenderum jumawa dengan pengetahuannya tentang filsafat, yang melontarkan kata-kata yang tidak konsumtif bagi masyarakat. sehingga terjadi miss perception dalam argumen yang dikeluarkan.

Pentingkah Berfilsafat?

Jadi mas, filsafat menurut saya penting dan memang benar-benar dekat dengan kita, hanya saja dengan ketidak netralan kita dalam menilai sesuatu dan kurang ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok ini, yang membuat kita keliru dalam berfikir, “haha, ruwet yo pancen ruwet mas” wkwk. Karena disini kita mencari hal tentang cinta dan menjadikan kita lebih bijaksana. Jadi Filsafat ini memang susah, “apalagi sekarang anak filsafat mencoba tidak menganggap ibunya” atau memisahkan diri dari ibunya (sungguh perbuatan yang tidak baik).

Seperti science yang ngengkel kalau dia itu beda dengan filsafat. Dampak dari hal-hal seperti ini, yang menyebabkan semakin semrawutnya science berjalan hanya dengan kehendak apa yang dia inginkan tanpa landasan cinta akan kebijaksanaan. Makanya kita sering melihat konflik-konflik, misal pada revolusi industri dan jaman modern sekarang, hasil-hasil produk teknolgi sekarang, begitu bermanfaat, tapi tanpa menggunakan kekuatan personal serta perilaku cinta dan bijaksana, menjadikannya dominan pada kekeliruan dan malah seolah-olah menciptakan sebuah shindrome modern, dan mungkin kita merasakan saat ini. s

Perilaku yang tidak didasari dengan filsafat dapat menyebabkan seorang menjadi bahaya. Bayangkan saja bagaimana kita melaksanakan suatu hal tanpa berlandaskan cinta dan bijaksana? Lalu cinta dan bijaksana itu apa? Apakah segala tindakan yang kita lakukan berdasarkan cinta dan bijaksana? Jadi cobalah kita bertafakur kembali dalam menilai suatu perkara, kita timbang-timbang.

Kesimpulan

Mungkin filsafat tidak memberikan materi, filsafat juga bukan instrumen mencari eksistensi, seperti video-video seorang istri yang melemparkan uang kepelakor, dan tuhan juga  mustahil melemparkan ke wajah kita uang saat kita berdoa untuk meminta rezeki yang merujuk pada materi-materi duniawi. Ya demikian lah, kita hanya menemukan langkah-langkah dalam menjalankan kehidupan dengan cinta dan bijaksana. Belajar filsafat memang ruwet banyak mazhab-mazhab, terusan-terusan, bahkan isme-isme , yang tambah membuat pusing kepala ini. Kalau mau mengetahui lebih dalam tentang filsafat boleh deh dibaca buku-buku yang kita senangi. Dan bukan berarti filsafat hanya berasal dari barat toh. Yang penting apa dan bagaimana, kita ya harus mendasarinya pada cinta dan bijaksana itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *