Chrematistike

Oikonomia atau Ekonomi

Ekonomi atau OIkonomia merupakan suatu kegiatan untuk mengatur rumah tangga, sebagaimana Aristoteles menyatakan dalam buku Politics, buku 1 bagian 4. 

” Property is a part of a household, and the art of acquiring property is a part of the art of managing the household; for no man can live well, or indeed live at all, unless he be provided with necessary”. 

berawal dari pemikiran Aristoteles ini secara praktis para pemikir dan pelaku ekonomi modern memahami ekonomi sebagai kegiatan untuk mengatur harta benda, padahal bila kita pelajari secara mendalam tentang Prinsip Tindakan yang menjadi dasar pemikiran Aristoteles adalah Teleologis  sebagaimana ia menyatakan “Apa yang baik adalah pemenuhan tujuan”, Semua hal ada tujuanya masing – masing.

Hal – hal tersebut akan menjadi baik bila dijalankan sesuai dengan tujuan dasarnya. Semisal, Sisir di gunakan untuk merapikan rambut (sebab itulah tujuan dibuatnya), Gunting di gunakan untuk memotong (memotong adalah tujuanya), atau mata di gunakan untuk melihat, dan Cangkir menjadi tidak baik ketika kita gunakan untuk kencing di dalamnya (kita tahu alasanya ?).

Bila kita tinjau dari landasan teleologis atau prinsip tindakan aristoteles ini kita akan menemukan perbedaan pengertian ekonomi. Dimana secara etimologi, Ekonomi adalah kegiatan untuk mengatur rumah tangga bukan kegiatan mengatur property atau harta benda. Sebab tujuan ekonomi adalah rumah tangga adapun property adalah bagian dari rumah tangga itu sendiri.

Hemat kata Ekonomi adalah sistem penyelenggaraan property untuk rumah tangga:

“siapa” yang harus menguasai “apa” dalam “jumlah seperti apa” dan untuk tujuan “apa”. 

Baik dan tidaknya ditentukan dari tujuan, inilah prinsip teleologis aristoteles tentang ekonomi. Jika pengumpulan dan pengaturan “apa”-nya itu di tunjukan untuk “hidup lebih baik”, maka tindakan ini dianggap benar: Aristoteles menybutnya sebagai Oikonomia, sementara tindakan Pengumpulan dan pengaturan “apa”-nya itu dijukan untuk penguasaan dalam jumlah banyak, penimbunan dan memperbanyak saja maka ini yang di sebut oleh Aristoteles dengan Chrematitike

Chrematistike

mari kita pahami apa itu Chrematistike, Bila gunting diproduksi dengan tujuan menjualnya — Artinya ia dibuat untuk uang, bukan untuk memotong– Tentu, Gunting bisa di perjualbelikan.

Namun, jual beli itu hanya disebut baik bilamana uang hasil penjualan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan lainya. Misalnya untuk membeli pakaian dan pakaian hanya akan menjadi baik. Bila digunakan sesuai dengan tujuan, yaitu membungkus tubuh atau berpantas diri.

Ini berarti kalaupun untuk uang, uang itu pada akhirnya digunakan untu tujuan lain yang lebih baik.

memangnya ada orang yang menjual uang demi uang?. Aristoteles menyatakan

“Ia Yang menjual sepatu untuk mendapatkan uang demi uang belaka telah melakukan apa yang bukan tujuan.”

Aristoteles menyebut menjual uang demi uang itu adalah Chrematistike yakni siasat pengejaran harta dan uang demi uang itu sendiri, meski baiasnya muncul dari ekses Oikonomia – Ekonomi, Chrematisktike bukan bagian dari Oikonomia

Jadi Chrematistike adalah jual beli uang demi uang sendiri dalam berbagai bentuk.

Tindak Chrematisktike dianggap buruk, Sedangkan OIkonomia dianggap baik. Kenapa? Semua bermuara pada satu hal: orang – orang yeng melakukan Chrmatistike “hanya berhasrat untuk hidup, tetapi bukan untuk hidup yang baik, Hanya berhasrat untuk hidup dengan Property bukan untuk hidup dengan tatanan Rumah Tangga”.

penyelewangan prilaku dasar inilah menjadikan manusia kehilangan kemanusiaanya, sebab hidup bukan didasarkan pada tujuan. Melainkan hanya pemenuhan hasrat untuk menimbun kepentingan pribadi. Saat ini kita berada dimana orang tidak takut mati tapi takut lapar, bagaikan tikus yang mati dilumbung padi.

Semoga kita menjadi manusia yang tetap sadar akan tujuan, mengetahui apa yang kita ingikan. Dan pastinya keinginan serta kebutuhan dasar manusia untuk hidup adalah terwujudnya kehidupan yang baik dalam kebaikan.

3 komentar pada “Ekonomi Dan Chrematistike : Matinya Ekonomi, Tumbuhnya Chremastitike Dan Akhir Dari Kemanusiaan”

  1. Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada penulis karena telah memperkenalkan sebuah kata baru, yakni “Chrematistike”. Dalam tulisan di atas, “Chrematistike” diartikan sebagai “siasat pengejaran harta dan uang demi uang itu sendiri” dan juga disimpulkan oleh penulis sebagai”jual beli uang demi uang sendiri dalam berbagai bentuk”. Pertanyaan saya, apakah hal ini sebegitu buruknya? Mengingat hampir seluruh negara di dunia saat ini memperdagangkan mata uangnya di pasar uang. Mereka berlomba-lomba jual beli uang, dengan uang, untuk mendapat uang juga. Padahal, kegiatan ini adalah salah satu penyokong perekonomian di negara. Bagaimana penulis menanggapi hal ini? Haruskah praktik “Chrematistike” harus benar-benar hilang? Ataukah ada batas-batas khusus? Semoga penulis berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya.

    Salam,

    Tim Admin Thecocopost.id

    1. Sebelumnya Terimakasih atas Analisis Cerdas dari saudara, 🙂
      dengan tanpa mengurangi rasa hormat, sebagai pengatar saya sertakan cuplikan dari pemikiran seseorang pembelajar yang bijaksana, “Satu Pertanyaan lebih berpotensi untuk menghidupkan…… -suatu peradaban, daripada seribu jawaban”.

      Untuk itu tanggapan saya mungkin mengecewakan, namun saya akan mencoba mengomentari pertanyaan anda dengan meminta pendapat anda, lantaran saya yakin bahwa di dalam pribadi anda telah ada jawaban yang lebih bijaksana dari setiap pertanyaan – pertanyaanya kita.

      Sesuai dengam artikel diatas, memang Aristoteles tidak setuju dengan Kremastistik, bahkan krematistik sendiri oleh beliau dianggap suatu yang berbeda dari kegiatan ekonomi. Prihal Pasar Uang, bukankah pasar uanglah yang menjadikan Indonesia dilanda krisis berualang kali?,
      Di tandainya dengan krisis 1998 yang melanda sebagian besar negara berkembang tak terkecuali Indonesia, di susul dengan fakta bahwa perdagangan Uang sejatinya hanya permaianan dagang komoditas regulasi bukan?
      Dimana beberapa kali bank di Indonesia mengalami devisit bahkan pailit sehingga terjadinya manipulasi property dan menjadi faktor utang Negara melalui Bantuan Likuiditas.

      Bukankah dalam ekonomi makro seharusnya komoditas ekspor sebagai pendapatan devisa negara adalah Produk (baik barang maupun jasa)?. sementara Uang adalah alat tukar maka uang sama sekali bukan produk, yang harus di perdagangkan bukan?

      Demikian pula dengan kebijakan fiskal ekonomi makro yang mempengaruhi kebijakan Suatu Negara, apabila Uang dan regulasi sebagai komoditas maka Negara harus menjadi negara yang bertahan bukan?,

      Ini jelas berbeda manakala Negara meningkatkan Produktivitas Sumber Daya untuk memenuhi kebutuhanya sendiri, sehingga mampu ekspor, bukankah ini menjadikan ekonomi kita mampu berdaulat?.

      dan ini sedang terjadi beberapa negara, ketika merasa dirugikan dengan regulasi Arbitase yang jelas merugikan maka mereka menjadi negara dengan kebijakan ketahanan dalam status negera berkembang.

      Hemat tanggapan saya terkait prilaku Krematitisk sebagai penyokong ekonomi suatu negara merupakan suatu tindakan yang berisiko tinggi, semacam suplemen sintetis atau psikotropik. secara infrastruktur memang kita mengalami pembangunan, namun dampaknya adalahpada Suprastruktur yang friksi.

      Bukankah Peradaban itu tentang kemandirian ekonomi dan kemanusian suatu negara bukan sekedar pembangunan infrastruktur belaka?

      Sepertinya Adam Smith saat ini telah melakukan revisi atas pemikiranya, tentunya atas bimbingan aristoteles di alam lain. 🙂

      dan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda, harap kesediaanya memberi tanggapan ulang.

      untuk selanjutanya Admin akan memposting sebuah artikel tentang “Money and Currency”. Terimaksih telah berkunjung di bausastra.net, salam kenal dan salam sejahtera. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *