Merdeka atau Mati

Pasca Teaterikal ‘Aku Merdeka Atau Mati’

“Kitorang Harus Merdeka toh?” tanya seorang bocah papua kepada teman – temanya seusai pagelaran budaya di pelataran balai kepala Suku, kulihat mereka masih bergerumbul. Membicarakan atau sekedar mengapresiasi bahkan sedikit memperagakan ulang dialog teaterikal ” Aku Merdeka atau Mati?” malam ini. Dan malam berlalu mengiringi langkahku menuju ruang ganti. Dan kini kau bersama ku berlakon dalam Drama sesungguhnya, kau dengan ekspresif berpuisi.

Di Ruang Ganti

“Sementara aku adalah debu – debu yang bertebaran, terinjak kemudian terhempas. sebelumnya aku adalah lumpur yang mungkin akan subur. Tanah dan Air yang bercampur, lalu terkubur di bawah akar – akar yang menjulur. kemudian aku menjadi sari yang di serap oleh xylem pembuluh pohon atau mungkin jamur.”

     Sejenak ku terdiam ketika ku dengar kata – kata yang kau rangkai, dan kau sebut itu adalah puisi sastra kemerdekaan. di ruangan itu yang berukuran tidak lebih dari 3×4 meter aku terhening memperhatikan mu dan kau pun terdiam, kita saling bertatap muka. ada persaaan dimana dalam kurun waktu sepresekian detik aku hilang dalam renungan, dan kita hilang. setelah kembali alam sadarku, kubasuh denga air yang sedari tadi mengalir diatas westafel dengan bunyi gemricik sebagai backsound  perbincangan kita. kali ini aku yang bertanya padamu.

Pertanyaan Merdeka Macam Apa?

mengapa engkau selalu saja menggerutu akan kondisi dan keadaanmu, bukankah pernah engkau katakan padaku kala itu, kondisi dan keadaan tidak pernah disalahkan bukan?. Karena mereka bukanlah pelaku atau sebab dari akibat kedudukan mereka saat ini?. Jika memang demikian kenapa puisimu seolah – olah memaksa bangsa manusia harus merasa bersalah sedangkan tabiatmu hanya menyalahkan dan mencari alasan, lantas kau temukan pembenaran?. Apa yang menjadikan manusia bisa berkuasa hingga layak dan pantas kau salahkan akan hal yang sebenarnya ia pun tak menghendakinya? dan mana mungkin manusia bisa berkuasa jika ia tidak mengehendakinya pula? lantas dimana kedudukan sebenarnya antara manusia dengan kondisi dan keadaannya? jika manusia dengan kekuasaanya adalah sebab dan kondisi dan keadaan adalah akibat, bukankah seharusnya manusia bisa mencipatakan kondisi dan keadaan yang ia mau, lantas mengapa ia semaunnya saja menjadi akibat dan berkuasa atas dasar kondisi dan keadaan sebagai sebab?.

Perang dan Pembebesan bukan? akankah ada perdamaian tanpa menanti berakhirnya perang, apakah lantas kemudian begitusaja, manusia terdiam dalam belenggu penjajahan. bukankah kita saat ini benar – benar terjajah ? sebelum aku selesai bertanya sekalipun, kita masih dalam tekanan yang begitu besar bukan?

Kau terdiam bahkan mengabaikan pertanyaanku, kau biarkan aku menerka – nerka apa kiranya jawaban yang kau sampaiakan, akankah sama?. “kali ini kita tak bisa sepaham.” seru mu lantas kau diam, menarik nafas yang dalam kemudian kau berpuisi.

” aku kembali menjadi debu, dan rasanya ingin ku segera berlalu.
Sebab telah kau rampas Tanah – Air ku.
kau jarah semua buah, getah, daun, ranting dan pohon ku.
dan Aku adalah Debu yang Merdeka atau Mati, maka biarkanlah aku berlalu.”

Seketika aku terbelalak, dan kemudian aku terpejam. mencoba mereka memori dalam ingatan, Aku dan kamu kemudian diam, sama – sama terjebak dalam sebuah pertanyaan. Aku ini Merdeka Atau Mati?, Aku di depan cermin yang terpatri diatas westafel ruang ganti malam itu, melihatmu menjadi aku yag sama, sama mersakan kebimbangan, betapa beruntungnya mereka yang hidup dalam kemerdekaan, dan betapa menyedihkanya bagi ku saat ini, bahkan aku mati pun belum merasakan kemerdekaan.

-mk

Satu komentar pada “Aku Merdeka atau Mati?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *