Falsafah Peradaban Nusantara Lama

Falsafah Peradaban Nusantara Lama bila dilihat terlepas dari  budaya (cipta, karsa dan karya) dan Agama manapun yang saat ini cukup mewarnai, memang memiliki karakteristik yang unik.

sebagaimana kita ketahui sudah menjadi kodrati Tuhan menciptakan Manusia  berikut perangkat ‘build-in spirituil’ atau ‘wiji spirituil’ sebagai microcosmos yang ‘jumbuh’ (sesuai) dengan alam semesta sebagai macrocosmos (Geo-Spirituiil), sebab itu Manusia memiliki peran sebagai pemimpin di muka bumi. inilah yang dimaksud dengan Antroposentrisme, sebagai micrososmos di perlukan penyelarasan terhadap macrocosmos secara lingkungan sekitar, dimana manusia itu hidup, Dengan demikian, ada perbedaan ‘wiji spiritual’ pada masing-masing bangsa manusia demi bisa ‘jumbuh’ dengan kondisi ’geo spiritual’ tempat masing-masing bangsa tersebut tercipta.
Interaksi ’wiji spirituil Jawa’ dengan ’situasi, kondisi, dan geo spiritual’ habitat Jawa menumbuh kembangkan ‘cipta rasa karsa’-nya wong Jawa. Dari ’cipta rasa karsa’ ini tumbuh kesadaran adanya ’hubungan’ antar semua yang ada di jagad raya -The Law Of  ‘Divine of Oness’ -.

Kesadaran-kesadaran tersebut berupa;

  1. Kesadaran adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta. (Manusia Sebagai Mahluk Bertuhan)
  2. Kesadaran adanya hubungan kesemestaan antara Microcosmos dan Macrocosmos ; Manusia Sebagai Mahluk individu dan alam.
  3. Kesadaran keberadaban (hubungan antar sesama manusia) Manusia Sebagai Mahluk sosial.
Kesadaran-kesadaran tersebut merupakan pemikiran dasar ’kawruh kejawen’ atau ’ngelmu urip’. Maka dengan demikian ’cipta rasa karsa’ Jawa yang berdasarkan kesadaran ’ber-Tuhan, kesemestaan, dan keberadaban’ kemudian melandasi ’Ngelmu Urip’ (falsafah hidup) Jawa yang selanjutnya melahirkan budaya dan peradaban Jawa yang mencakup: sistim religi & spiritualisme, falsafah hidup, tradisi & laku budaya, sistim organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan, sistim ilmu pengetahuan dan tehnologi/peralatan, bahasa (termasuk aksara), seni budaya yang terdiri dari: kesenian, kriya, dan sastra.

Adapun falsafah kejawen mengalami pengkristalan yang kini kita ketahui sebagai falsafah Pancasila dengan semboyan “Bhineka Tunggal Eka”.

Falsafah Peradaban Nusantara Lama dan Kejawen: Sebuah Pemikiran Dasar #1
-N-MK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *