Kaweruh Among Diri

Perihal keweruh Among Diri dalam website www.amongdiri.wordpress.com

Dalam proses membaca tentang tulisan tersebut, mungkin bisa saya simpulkan, bahwasanya

Keweruh Among Diri adalah proses Pendidikan

Keweruh Among Diri adalah suatu proses dialektis dalam memahami tentang posisi personalitas seseorang. Dengan menggunakan instrumen-instrumen yang telah disediakan oleh pencipta”. Proses ini begitu absurd atau bahkan lebih dalam dari mikroskopis, jauh lebih kecil dari quarck, yang ditemukan oleh fisikawan Rusia. Hal ini begitu sarat dengan pendidikan, dimana seperti Tan Malaka mengatakan “tujuan pendidikan adalah mempertajam pengetahuan, memperkukuh kemauan serta meperhalus perasaan”. Begitu juga dengan konsep yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan adalah suatu alat yang mengarahkan kita pada potensi diri, walaupun pendidikan sekarang mulai menjauh pada tujuan dasarnya. Pendidikan sendiri, mengajak kita untuk mengetahui keadaan dan sadar akan diri sendiri. Pendidikan tak boleh terlepas dari realitas, pendidikan bukan sebuah komoditas, karena manusia bukan suatu barang, yang dapat dibentuk semau kita. Pendidikan harus diarahkan pada suatu proses pengenalan untuk memahami tentang suatu konsep personalitas dan identitas, dan juga perihal posisi terkait 2 hal itu. Menurut  saya identitas adalah suatu posisi/status yang kita jalani saat ini, seperti siswa, mahasiswa, pejabat dan lain-lain.

Sedangkan personalitas, saya bagi menjadi personalitas eksternal suatu bentuk/sifat dari diri yang dipengaruhi oleh hal-hal yang diluar dari lingkup diri, seperti tubuh, logat, sifat, dan lain-lain. Personalitas internal adalah suatu bentuk/sifat yang tak kasat mata, dimana kita dapatkan diluar kehendak kita. Mungkin secara sadar kita mengetahui diri personalitas eksternal. Suatu pengetahuan yang dapat kita ketahui melalui indra kita, seperti melihat cermin, foto, pendengaran dan lain-lain. Tetapi, untuk mengingat-ingat rupa wajah kita sangat sulit, apabila tanpa bantuan dari perkakas yang membanyu kita tadi.

Psikologi tak mampu menjelaskan Among Diri

Jhon locke pernah mengatakan tentang “tabula rasa” bahwa manusia seperti selembar kertas. Dimana kertas tersebut tertetulis oleh proses-proses kita di dunia ini. Dimana lingkungan berperan aktif dalam itu, yang didukung oleh ilmu psikoanalisis oleh Sigmund freud, yang berbicara tentang “Id, Ego, dan Super Ego“. Dalam memahami ini saya harus melakukan proses tabbayun agar tidak menjadi suatu hal yanh dogmatis.

Saya dapat menerima pendapat Jhon Locke dan S. Freud, tentang konsep mereka, tetapi saya mengatakan ini hanya sebuah proses mengenali efek dari personalitas eksternal yang dipengaruhi oleh lingkungan dan genetik. Yang membentuk personalitas semu. Mengapa? Mungkin mari kita coba, sedikit bertanya-tanya tentang beberapa hal, apabila kita melihat seseorang mengalami musibah, atau ketika orang-orang terdekat kita menangis, dan kita mengalami rasa kesedihannya juga.

Mungkin pertanyaan ini juga seolah-olah berhimpitan dengan argumen 2 orang di atas. Padahal kita memahahi bahwasanya sedih, senang adalah ekspresi yang keluar dari proses sebab akibat kondisi yang ada. Seperti seorang bayi menangis ketika baru keluar dari rahim seorang ibu, apakah ini bentuk ekspresi sedih kah, senangkah atau seperti apa?. Dan jika kita bertanya, apa yang menyebabkan ketika seorang ibu menyadari saat anaknya mengalami sebuah musibah ataupun sebaliknya? padahal ia tidak melihat, tidak mendengarkan, tetapi mengalami gejala dan tanda tersebut sehingfa timbul firasat ingin menelpon, atau apapun itu.

Tafakur

Yang jelas, saya melihat rasa-rasa itu sudah termuat dalam diri kita, dimana tidak perlunya pengalaman pribadi untuk menentukan rasa-rasa itu. Karena rasa itu keluar dari sebuah kondisi yang kita alami, bukan sebuah hal yang baru kita dapat setelah mengalami kondisi itu. sehingga hal tersebut tidak benar-benar menjawab dari pertanyaan-pernyataan oleh MKN pada blognya. Sehingga “mungkin ilmu pengetahuan hanya menunjukan kita tentang gejala dan tanda saja, bahwa sebenarnya kita tidak benar-benar tahu tentang siapa kita”.

Sehingga kita perlu sadar bahwa kita, benar-benar tak tahu apa-apa, dan hanya sekedar berspekulatif. Lalu dengan apa kita mengenal diri ini? Mohon maaf mungkin saya tidak benar-benar dapat menjawab tentang itu. Tetapi ada hal yang mungkin dapat kita sadari bahwa ada pendengaran bukan dari telinga, ada penglihatan bukan dengan mata, merasakan bukan kulit, atau memiliki fungsi sama bukan dengan indra-indra kita. Tetapi lebih tajam dengan yang kita ketahui lebih orisinalitas dari apa yang kita perhitungkan, ia tak terpengaruh oleh apapun selain yang menciptakan dia. Lalu apa itu?

Hingga salah satu yang kita dapati untuk mengenali diri kita adalah dengan meyakini suatu Dzat yang mutlak, dikarenakan kita diciptakan maka ada yg menciptakan. Tetapi  penting juga kita memahami, buat apa kita tau diri kita?, jikalau kita masih naif. Seolah-olah tahu tapi tidak tahu, seolah-olah yakin tapi sadar kita masih kebingungan.

Ilmu-ilmu jawa kuno mengajak dan membantu kita untuk mengetahu sejatining diri, melalui proses dan tahapan tertentu. Seperti sastra jendra hayuningrat, ajaran sunda wiwitan dan juga ilmu taswuf. Seperti yang dikatakan oleh Rumi dalam Fihi ma Fihi, “manusia seperti seorang yang mengendarai kuda, apa yang kita lakukan dalam pemenuhan kebutuhan biologis, hanya sekedar menyelesaikan kebutuhan kendaraan kita, bukan sang pengandara”. Boleh jadi saya berspekulasi bahwa apa yang disebut indra spesial adalah salah satu instrumen yang dapat kita manfaatkan untuk mengenal diri. Tetapi, saya juga mengatakan benar-benar sulit untuk mengenal diri, saya saja tidak tahu dimana letak hati hanya bisa menerka-nerka.

Keterasingan dalam Penemuan Jati Diri

Menurut saya Kita tak akan bisa menemukan jati diri kita sebenarnya, yang benar-benar orisinil, karena kita sering dipengaruhi lingkungan. Adanya ketidak seimbangan dari rasa seperti cinta, nafsu dan lain-lain yang saling mendominasi. Mengenali diri tidaklah lebih. Ada sebuah diksi yang mungkin kita sering dengar, “manusia adalah manifestasi tuhan”, dikarenakan manusia memiliki kehendak, sifat-sifat yang mirip, sehingga dengan jumawa kita mengatakan “manusia adalah manusia itu manifestasi dari tuhan”.

Kita begitu jumawa kali ini. Ayolah kita membangkitkan hasrat untuk mengetahui bahwa keadaan kita sedang berada pada kondisi kebingungan. Dan tersadar bahwa apa yang kita miliki, kita makan, hirup, gunakan bukanlah milik kita. Jangan kita sombong karena kita tak punya apa-apa, apalagi merasa kita adalah manifestasi tuhan. Sehingga terhempaslah kita pada kalimat, “Ashadualla ilahailallah”.

Sehingga kita benar-benar meyakini bahwa iman/keyakinan menandakan kita tak berhak atas apa-apa dan tak pantas akan apa-apa, dan tak tahu tentang apa-apa. Yang kita tahu, kita hanyalah wayang dapat memilih peran apapun. Seperti saya saat ini tak dapat menjawab apa-apa, hanya bicara, padahal saya tidak tahu apa-apa. Seperti saat ini saya sadar sedang berperilaku naif.

-DMS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *