coretan tangan

Coretan tangan seorang gondronger :  panggil aja Kehed

 

 

 “Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja”.

Terkadang manusia akan mendadak hilang ingatan akan kalimat itu. Apalagi saat bertemu dengan seorang lelaki gondrong, seakan kalimat atau kata-kata itu tak pernah terdengar bahkan tak pernah ada. Lalu bagaimana perasaan seorang lelaki gondrong akan kenyataan itu? Ya, tidak salah lagi akan sangat kecewa ibarat tersayat sembilu tapi tak berdarah. Pemikiran seseorang saat bertemu dengan lelaki gondrong akan langsung penuh dengan hal buruk atau prilaku yang tidak baik, preman,copet,maling,suka mabuk-mabukan dan sebagai nya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gondrong adalah ketika seorang lelaki sudah lama tidak memangkas rambutnya. Hal atau sifat yang pasti dimiliki oleh seorang gondrong adalah unik,sabar,tabah,keras kepala,melawan arus dan lain-lain, karena tanpa sifat itu akan diragukan seorang lelaki bisa menjadi seorang gonrongers melawan celaan-celaan realita. Dimula cobaan secara fisik yang pada awalnya menjadi hambatan. Mulai dari rasa gatal dan gerah dikepala, hal ini akan mulai terasa dikarenakan factor “ketidakbiasaan” memiliki rambut panjang. Tetapi semua dapat diatasi dengan berbagai perwatan mulai dari yang alami sampai yang buatan (shampoo dan sebagai nya).

Di pandang sebelah mata atau mendapat persepsi kurang baik dari lingkungan sekitar atau masyarakat adalah resiko yang pasti dialami seorang gondrongers. Dimanapun gondrongers berada pasti saja akan mendapatkan persepsi yang sama mungkin hanya sedikit orang, atau bahkan hanya orang lain yang pernah menjadi seorang gondrongers saja yang akan menerima atau memaklumi hal tersebut. Sebagian orang atau kebanyakan orang yang mulai menjadi seorang gondrongers dimulai dari bangku kuliah. Hal itu disebabkan karena pada saat SD, SMP atau SMA setiap siswa diwajibkan untuk berambut pendek, sedangkan dibangku kuliah tidak diharuskan rambut pendek atau dibebaskan rambut pendek ataupun gondrong. Walaupun pada saat tertentu diwajibkan untuk berambut pendek.

Alasan mahasiswa atau yang bukan mahasiswa pun memiliki alasan tersendiri mengapa meraka memilih menjadi seorang gondrongers. Mulai dari menambah kepercayaan diri ,terinspirasi dari seseorang yang ia kagumi ,ikut-ikutan atau bahkan sampai perlawan terhadap penilaian orang bahwa berambut gondrong yang berprilaku tidak baik. Ya menurut saya mahasiswalah yang menjadi korban pada saat menjadi seorang  gondrongers harus mendapatkan persepsi kurang baik dari masyarakat atau lingkungan. Kenapa demikian? Hal ini saya ambil dari pengalaman pribadi saya saat menjadi gondrongers , persepsi masyarakat langsung terlihat atau langsung terdengar bahwa pada saat seseorang memutuskan menjadi seorang gondrongers, maka masyarakat akan langsung menilai bahwa orang tersebut berperilaku buruk.

“Pijakan awal gondronger  didiskriminasi”

Sejarah rambut gondrong sendiri di Indonesia sudah ada sejak jaman kerajaan atau zaman dahulu kala atau zaman sebelum penjajahan bangsa barat. Dan cerita-cerita itu dapat dibuktikan dengan foto, gambar, atau deskripsi orang-orang terdahulu, atau setidaknya dari serial televisi yang bercerita tentang pahlawan nasional atau pahlawan daerah dari bebagai kalangan atau lapisan masyarakat. Kita bisa melihat bahwa lelaki berambut gondrong tidak sepantasnya mendapat persepsi yang kurang baik dimata masyarakat. Bahkan saya sebagai seorang muslim sendiri saya mendapat gambaran bahwa Nabi Muhammad SAW juga memiliki rambut yang panjang, seperti yang kita ketahui bahwa beliau adalah panutan bagi umat Islam. Pada zaman sekarang pun banyak dari kalang ulama ,musisi ,budayawan ,seniman dan lain-lain memiliki rambut yang gondrong. Terus dari semua penjelasan diatas lantas masih pantaskah seorang di pandang dengan persepsi yang kurang baik di masyarakat?.

Menurut beberapa sumber yang saya baca, perkambangnya sitgma negatif apabila seorang lelaki mempunyai rambut gondrong dimulai dari zaman penjajahan. Dimulai dengan kedatangan bangsa barat ke Nusantara walaupun masih banyak masyarakat di nusantara yang beranggapan rambut gondrong sama saja dengan rambut pendek. Karena di zaman itu masih sangat banyak pahlawan atau panutan masyarakat yang masih memiliki rambut gondrong. Terus kapan mulai nya persepsi kurang baik dari masyarakat terhadap lelaki gondrong? Ya, jawabannya berasal dari zaman orde baru. Mulai dari penanayang di televisi yang membuat peran antagonis bagi lelaki berambut gondrong.

Tayangan di televisi saat itu menunjukan bahwa lelaki berambut gondrong adalah orang yang berprilaku buruk. Mulai dari menjadi preman, pencopet, maling, dan sebagainya. Bahka musisi, budayawan, seniman atau lelaki yang memiliki rambut gondrong pun dilarang tampil di televisi nasional, karena dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintahan. Stigma buruk yang diberikan oleh pemerintah berlanjut pada tindakan-tindakan represi. Seperti sering terjadi razia atau penangkapan terhadap lelaki yang berambut gondrong pada kala itu. Bahkan pemerintah membentuk sebuah satuan/badan untuk menekan orang-orang gondrongers ini, dan  dibentuklah yang namanya BAKOPERGON (Badan Komisi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Begitulah perilaku diskriminatif pemerintahan terhadap lelaki berambut gondrong pada zaman orde baru. Kala itu Pemerintah beralibi bahwa lelaki yang memiliki rambut gondrong mempunyai sifat yang acuh ,pembangkang ,dianggap sebagai symbol perlawanan atau bahkan dianggap TIDAK INDONESIA/Nasionalis. “Karena menganut budaya barat”, (katanya). Tetapi menurut saya dengan semua hal yang dilakukan pemerintah saat itu pemerintah juga mecabut hak kebebasan berekspresi bagi seorang lelaki gondrong.

”Gondrongers juga Manusia kok, kita juga punya hati”

Ya seperti kita tahu, bahwa sekarang kita tidak hidup di zaman kolonial maupun zaman orde baru. Dimana akan sangat sulit lagi perlakuan-perlakuan seperti diatas yang akan kita alami sebagai lelaki gondrong. Tapi, karena hal tersebutlah yang juga membuat kita sebagai gondrongers mendapat persepsi yang kurang baik di mata masyarakat. Kenapa? Hal semacam presepsi yang kurang baik bagi lelaki gondrong sudah tertanam dipikiran masyarakat setelah zaman orde baru. Bukan menyalahkan satu pihak tapi lebih kepada rasa kecewa terhadap perlakuan kurang adil yang dialami para gondrongers, yang di cap memiliki prilaku kurang baik atau berpribadian buruk.

Padahal sangat besar kemungkinan bahwa, tidak semua orang-orangnya berkelakuan buruk. Walaupun, ya memang ada yang seperti itu, tapi sama halnya dengan orang yang berambut pendek. Juga belum tentu berkelakuan baik. Contoh? mungkin tidak perlu dijelaskan contoh orang berambut pendek yang berkelakuan buruk. Bisa jadi sangat banyak atau sebaliknya. Dan seorang gondrongers yang berkelakuan baik juga sangat banyak ,mungkin salah satunya adalah saya Juga 🙂 . Hehehe

Rapi? kenapa hanya karena rambut gondrong seseorang bisa dinilai tidak rapi?  Itu pertanyaan yang selalu terngiang dikepala saya. Padahal Indonesia sendiri adalah Negara Demokrasi yang katanya bebas berpendapat dan bebas berekspresi, dan mengedepankan hak asasi manusia (HAM). Tapi hal tersebut hanyalah bualan-bualan, yang nyatanya tetap saja masih banyak orang yang ditindas serta dirampas hak asasinya. Dari sebagian kecil atau sangat kecil rakyatnya. Ini hanya sebuah tulisan atau suara dari seorang gondrongers yang merasa teraniaya atau dianggap berkelakuan buruk padahal tidak melakukan apapun sesuatu yang buruk . JANCOK.

SEKIAN !

LALU APA SALAHNYA MENJADI SEORANG GONDRONGERS ???

 

Sumber :

Plukme.com

Medium.com

Pema-usm.blogspot.com

Suaramahasiswa.com

2 komentar pada “HATI BAJA SEORANG GONDRONGERS”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *