Gunung Semeru

Sunyi malam ini, dudukku meratapi langit dan kilauan cahaya dipuncak gunung arjuna, atau sering disebut puncak para dewa. Gunung itu berbeda dengan gunung lain, karena setiap gunung memiliki ceritanya sendiri, sama seperti kita, kita juga harus memiliki cerita dan jalan kita sendiri, sebagai seorang manusia. “Hayoooo”, “mas-mas, sampean iki nyapo delok gunung iku terus?” Tanya seorang bocah, padaku, yang membuatku sontak tak kaget. Gunung itu gunung arjuna le, tempatnya para dewa. Lah hubungane opo mas-mas, piye toh.

Reneo lungguh bareng aku. Cobalah amati gunung iku jo. duwure plontos ra ono pohon. gunung iku terjal dan angel mundak e, dek awak e iku, akeh pohon-pohon rimbun tumbuh serta banyak hewan-hewan yang hidup disana. lah? kan meh podo karo gunung semeru mas? bedo, semeru duwe ceritane dewe. tapi karena didepan kita iki arjuno makanya mas lihat arjuno iki.

Emang ada apanya disana mas? demit? sampai-sampai sampean lihat itu terus. opo sampean pengen mendaki iku ta? demit-demit, iso tutuk kono loh, hmm. ora, mas belum punya niatan naik kesana. lah terus, kan apikan semeru toh mas? sampai-sampai difilm no, batu orang-orang berebut naik kalau 17an. hahaha, iyo-yo. tapi le, menurut mas, apa yang mau kita lihat dipuncak? pemandangan indah? atau kita koyok wong-wong lek mari mundak gunung, mereka bilang “aku telah mengalahkan gunung itu?”.

Huffttt. ilingo yo le, mundak gunung iku seperti perjalan urip. kita memiliki tujuan dan bersusah payah dan menghabiskan banyak energi untuk menuju puncaknya, toh pada akhirnya kita akan berjalan turun lagi, dan kita hanya menikmati waktu dipuncak hanya sementara. kenapa mas belum pengen naik kesana. soale mas itu masih bertanya apakah aku rumongso lebih gede teko gunung iku. kadang kita merasa lebih besar dan memiliki hak untuk sesuatu hal, tanpa bertanya pantaskah kita untuk memilikinya?

urip-urip, aku termenung dan menggelengkan kepala.

“Kenapa sampean sedih mas”,ora aku ra sedih le. Lah, nyapo kok sampean cemberut? Le, sampean ojo bingung kalau mas cemberut, tapi bingunglah kalau aku tersenyum/atau tertawa. Loh kok malah ngono? Ruwet sampean iki. Pisan-pisan sinau titik nang uwong, wong sedih gurung tentu sedih, wong senang gurung tentu senang le. sampean pisan-pisan lihat kita ini tertawa karena apa? atau sedih karena apa? menertawakan orang lain atau menertawakan dirikita? sedih karena orang lain tidak sesuai apa yang kita inginkan, atau sedih tak bisa memiliki, ataukah sedih karena kita bahagia?

ngeeekkkk, bunyi pintu tua dan besi yang mulai berkarat. ayo makan, le. “ibu udah nyediain makan malam buat kita”. oke,budal.kata adik kecilku. lek masalah mangan bantere kon aki, haha, iyo toh mas, aku kudu makan ben suatu saat aku iso berada dipuncak gunung iku. haha, aku tersenyum lagi kala itu……

2 komentar pada “Kutemukan Permataku”

  1. aku sering menimang nimang kemampuanku, diantara keraguan dan keyakinanlah aku berada. dan tepat saat itu aku tak menemukan satupun indikator yang membentakku dalam ruang tanpa sudut, entah untuk maju atau mundur. dan semakin lama aku menunggu semakin lama pula bentakan itu datang. lantas bagaimana seyogyanya diri ini menghela nafas?

  2. Jadi menurut saya mas, patutnya bernafas, ya sebagaimana anatomi digunakan sebagai fungsinya. terkait sepatutnya untuk menghela nafas/menarik napas sendiri lebih tepatnya coba kita lebih sadar diri bahwa sebenarnya kita tidak akan bisa 100% mengatur diri kita. seperti kapan kita makan, lapar, haus,bangun,detak jantung,fluktuasi detak jantung,dan memilih-milih udara yang masuk seperti (02 atau H aja atau juga CO2,dan jenis lainnya). Terkadang ada hal yang kita hanya sekedar cukup tahu, biarkan alam semesta berjalan dengan sendirinya untuk menghidupi. saran saya coba kita lebih memahami nilai hidup yang ada dalam sebuah kata seperti “keraguan” dan “keyakinan”. apa sebenarnya hakikat/ontologi dari 2 kata tersebut. Terima Kasih, mohon maaf jikalau jawaban saya kurang dipahami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *