immorality

Kususma Ndaru

Mahasiswa Psikologi UNTAG Surabaya

 

 

“Kita tidak tahu bagaimana memanfaatkan waktu”

Lebih di 90% masyarakat kita sudah melek huruf. Ketika waktu senggang, Kita mempunyai TV, bioskop, internet murah, surat kabar, smartphone untuk setiap orang. Namun kita bukan di sodori musik atau literatur terbaik zaman dulu dan masa kini. Media komunkasi saat ini ditambah dengan iklan mengisi pikiran manusia dengan sampah murahan yang tak ada kaitanya dengan realitas, dengan fantasi-fantasi sadistis. Sementara pikiran setiap orang tua dan muda diracuni, kita terus berjalan dengan penuh rasa bahagia, seakan tidak melihat adanya unsur “immorality”. Kita tidak tahu bagaimana memanfaatkan waktu.

Apakah individu itu sehat atau tidak, yang utama bukanlah soal individu, tetapi tergantung dari struktur masyarakatnya. Kesehatan mental tidak dapat di batasi dalam istilah ‘penyesuaian diri” individu terhadap masyarakat. Tetapi sebaliknya, harus didefinisikan dalam istilah penyesuaikan diri masyrakat terhadap kebutuhan manusia. Sebuah masyarakat yang sejahtera memajukan kemampuan individu untuk mencintai sesamanya, untuk bekerja secara kreatif, untuk mengembangkan akal budi. Suatu masyrakat yang tidak sehat adalah masyarakat yang menciptakan permusuhan, saling tidak percaya, yang menjadikan manusia sekedar alat dan ekploitas bagi orang lain. Masyrakat memiliki dua fungsi, memajukan kesehatan mental dan menghambat. Kenyataanya masyrakat melakukan keduanya.

Sakit mental macam apa yang di idap oleh masyarakat indonesia? Fakta yang mencengangkan bahwa kita tidak memiliki data  yang menjawab pertanyaan ini. Walaupun ada data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan, sekitar 14 juta orang di Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gejala depresi dan gangguan kejiwaan. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400.000. Salah satu data komparatif yang dapat memberi petunjuk kesehatan mental adalah kasus bunuh diri. Tidak diragukan lagi bahwa kasus bunuh diri merupakan problem paling kompleks, dan tidak ada satu faktorpun dapat di ambil sebagai penyebabnya. Namun tingkat bunuh diri yang tinggi di suatu negara merupakan cerminan kurangnya stabilitas kesehatan mental tersebut.

Syndrome: “Fear of Missing Out”

Dewasa ini muncul sebuah efek FOMO “fear of missing out” (takut akan tertingal) melanda penduduk dunia. Sehingga memberikan pengaruh, meningkatnya  intensitas manusia dalam mengakses media informasi. Salah satu kelemahan dari (media informasi) smartphone dan internet, mereka adalah sumber gangguan konstan, dan mayoritas apa yang mengalihkan perhatian kita adalah sesuatu yang tidak penting. Sumber komoditi yang mahal saat ini adalah perhatian. Semua media komunikasi berlomba untuk mendapatkan perhatian kita, orang-orang psikologi berperan sentral dalam mendisain media komunikasi, Psikologi juga ikut andil dalam  menjerumuskan kemanusian dalam lembah penderitaan.

Mayoritas pengguna teknologi  merupakan orang-orang yang mengalami emosi negatif, ini pemicu yang sangat kuat dan sangat berpengaruh dalam rutinitas sehari-hari. Perasan bosan, kesepian, frustasi, kebingungan dan keraguan sering menghasilkan rasa tidak nyaman dalam diri, sehingga mendorong tindakan yang nyaris spontan dan sering kali tanpa pertimbangan untuk meredam sensasi negatif tersebut.. Tingginya penggunaan sosial media menandakan tingkat kecemasan dan depresi yang tinggi, 90% berusia 18-29 tahun. Kesadaran yang meningkat terhadap bahaya yang belum jelas disebut kecemasan. Ciri-ciri lain perilaku depresi di internet termasuk peningkatan frekuensi menonton video, chatting dan bermain game. Pengguna internet yang berlebihan memunculkan perasaan terisolasi yang disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial, sehingga berdampak dalam kesulitan bekerja dalam kelompok soial.

Dampak lain dari paparan teknologi informasi adalah meningkatkan konsumsi. Manusia dikenal dengan “homo konsumen” orang yang mengkonsumsi penuh yang tujuanya hanya untuk memiliki sebanyak-banyaknya dan menggunakan lebih banyak. Sehingga memunculkan (harapan), yang merepresentasikan gagasan kesempurnaan akan hidupnya (forma), sehingga kita tidak dapat lepas dari proyeksi, yang menjadi bagian dari kehidupan. Kita di kelilingi oleh media komunikasi dari berbagai zaman, koran, tv, dan internet memberikan gambar-gambar dari apa yang kita suka memerankanya, atau kita benci. namun saat realitas tidak mampu memenuhi harapan. Harapan ini akan hancur  sehingga berdampak munculnya tindakan-tindakan destruktif dan kerasan. Orang yang harpanya hancur akan membenci hidup dan mengalami kecemasan.

Manusia memiliki naluri atau motivasi dasar yang diwarisi oleh nenek moyang, fighting, fleeing, feeding, dan fucking (melawan, kabur, makan, dan sex), sistem ini teletak di hipotalamus di dasar otak (otak reptil). Berkat itulah emosi yang dimunculkan kuat, dan otomatis. karena itu otak kita selalu menempatkan perhatian pada bahaya, ada dua cara untuk mengatasi bahaya. Bertarung dan kabur, dorongan ini merangsang bagian otak-otak tertentu.

Rasa takut warisan masa lalu yang berhubungan dengan bahaya yang menurut naluri harus dijauhi, kalau tetap di temapt dan melawan, kita jusru akan merasakan amarah. Kita akan diselimuti perasaan dengan sebutan masing-masing: gugup, risau, curiga, ngeri dan seterusnya.  Pemicu kecemasan jangka pendek meningkatkan kadar epinerfin dan norepinefrin, hormon yang membuat degup jantung lebih kencang dan kaki terasa dingin. Hormon ini menyiapkan tubuh untuk melawan atau lari.Ketika kita dalam keadaan marah, secara otomatis reaksi yang muncul adalah perlawanan. Namun saat kita dalam keadaan takut, kita secara tidak sadar akan kabur. Saat ini kita cenderung kabur ke dalam dunia maya umtuk mencari hiburan. Mencari hiburan dapat dianggap sebagai kebutuhan untuk menghilangkan kecemasan.

“Ketakutan pada rasa sakit”

Semua manusia termotivasi untuk mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit. Untuk mencari harapan dan menghindari rasa takut, dan akhirnya, mencari penerimaan sosial dan menghindari penolakan. Bayangkan saat diri kita gagal dalam memenuhi ketiga kebutuhan motivasi ini, saat manusia di selimuti rasa sakit, dihantui oleh rasa takut, dan masyarakat menolaknya. Hanya ada dua pilihan, terus menjalankan hidup dengan kentyataan atau memilih mengakhiri sendiri hidupnya.

Namun secara berkala ketika individu sudah tidak mampu lagi menahan kecemasan dan depresi yang terakumulasi, serta sosial media dan aktivitas lain tidak mampu memberikan pelarian, salah satu jalan yang ditempuh adalah bunuh diri. Pelaku bunuh diri yang cenderung bersifta impulsif  sering kali adalah mereka yang kekurangan serotonin. Menurunya kadar serotonin akibat dari kecemasan dan depresi.

Berdasarkan rata-rata statistik, dalam sehari setidaknya ada dua hingga tiga orang yang melakukan bunuh diri di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. Angka tersebut adalah yang tercatat di kepolisian. Angka riil di lapangan bisa jadi lebih tinggi..

World Health Organization (WHO), badan di bawah PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional, memiliki data tersendiri. Berdasarkan data perkiraan WHO, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2012 adalah 10.000. Tren angka tersebut meningkat dibanding jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2010 yang hanya setengahnya, yakni sebesar 5.000.

Media komunikasi menjadi pelarian sementara untuk mengurangi kecemasan. Namun di satu sisi, media komunikasi juga memberi kontribusi dalam  peningkatkatan kecemasan. Manusia hidup dalam tiga masa: masa lalu dan segala kenanganya, masa depan dengan segala khayalan, dan masa kini yang tak pernah dijalani seutuhnya. Banyak diantara kita hidup dalam lebih dari satu masa yang akhirnya  memberikan beban fikiran dan kecemasan. Kita selalu disibukan dengan memberi makanan dan pakaian sehingga melupakan aktivitas yang fundamental dalam bertahan hidup. Kita di ajarkan untuk merawat tubuh, namun kita tidak diajarkan bagaimana merawat kesehatan mental atau jiwa kita.

Penderitaan tidak disebabkan oleh ketidakberuntungan, oleh ketidakadilan sosial, atau oleh tingkah laku illahi. Sebaliknya, penderitaan disebabkan oleh pola perilaku pikiran seseorang. Ketika pikiran mengalami ketidak nyamanan, ia ingin terbebas olehnya, apapun akan di lakukan, mengorbankan segalanya bila perlu. Namun bila pikiran kita mengalami kenyamanan, kita berusaha mati-matian untuk mempertahankanya. Kita takut kesenangan itu hilang. Akal budi selalu tidak puas dan gelisah.

Manusia mengatasi keputusasaanya yang tidak disadari dengan rutinitas hiburan berupa menonton bioskop, menikmati musik, mengakses internet, traveler, dan menonton televisi. Keputus asaan, kecemasan, dan ketakutan menjadi faktor mendasar dari kasus bunuh diri dan kasus kesehatan mental lainya. Salah satu jalan untuk mencegah kasus bunuh diri, dan masalah kesehatan mental lainya, di perlukan  adanya pendidikan tentang kontrol diri (menjadi tuan atas pikiran sendiri). Untuk mengetahui siapa diri kita, dan apa yang kita inginkan dari kehidupan.

Selama ribuan tahun para filsuf dan nabi telah mendesak orang untuk memgenal diri sendiri, nasihat ini menjadi begitu mendesak di abad ke 21, karena kita memiliki pesaing yang serius. Google, instagram, facebook, coca-cola, apple, dan pemerintah berlomba meretas kepala kita melalui media komunikasi revolusi industri 4.0. Untuk bertahan  dan berkembang di dunia saat ini, kita membutuhkan banyak fleksibilitas mental dan cadangan keseimbangan emosi yang besar untuk menghadapi perubahan, serta mempelajari hal baru dan untuk menjaga keseimbangan mental.

Pengendalian otak reptil yang menjadi akar seluruh kekacauan psikologis manusia. Dan meningkatkan neokorteks yang berisi emosi positif, belas kasih, sukacita, ketenangan, dan kasih sayang. Kita memiliki kapasitas alamiah untuk berbelas kasih sekaligus untuk kekejaman. Kita mampu menekan aspek-aspek tersebut dari tradisi kita, religius maupun sekuler. Baik di dalam pendidikan formal maupun lingkungan masyrakat. Bila memungkinkan menggunakan media komunikasi untuk mengkampanyekan ini, sehingga lebih masif dalam mencegah kasus bunuh diri dan masalah psikologis lainya. Ini menjadi tantangan bagi sarjana psikologi. Namun butuh waktu yang lebih panjang untuk mereorientasi pikiran dan hati kita, transformasi semacam ini berjalan lambat, tidak dramatis, dan bertahap.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *