Kritik sastra : Celoteh menuju postmodern

  Dunia ini semakin berkembang, menuju zaman postmodern, apakah kita telah siap? berdiri tegak membusungkan dada sembari berteriak “sek talah”, sebatang dulu gan. tahapan-tahapannya akan kita rasakan perlahan demi perlahan. dan sudah banyak sekali kritik-kritik tentang ide-ide, kritik sastra, puisi yang berjimbun, apakah mampu mengkontruksi kita kedepan? Seiring dengan perjalanan atas segala perkembangan yang terjadi Lanjutkan Membaca

Sepulang Ngaji dari Langgar

Oleh: Edeliya Relanika (1) Pukul 5 sore, aku buyar ngaji, lalu lapar. Lapar mengutuk tanganku memukul gemas kepala dengan kopyah putih keras. Kenapa tangan menjadi anarkis pada diri sendiri? Karena Wak Inggih masih menghukum Ulfah, tiada lancar melantunkan hapalan surah pendek sampai khatam. Terpaku, kami masih terlikat di lantai Langgar. Kami arek Kroman Gang 7 Lanjutkan Membaca

Edelweiss Kering di Dalam Vas

Oleh: Edeliya Relanika Edelweiss tercerabut, walau hanya seikat Angin angin gunung menjadi semrawut Lebah-lebah kalang kabut Tanah menjadi begitu masam Membawa luka pada bebatuan Aku, yang mencabutmu, memanglah jenis manusia biadab Aku mencintaimu, Edelweiss adikku Kuantar penggantimu yang mengering ke rumah, pulang kembali Pada sebuah hunian kecil di kota tua Tepatnya di ruang tamu, di Lanjutkan Membaca