Oleh: Edeliya Relanika

Edelweiss tercerabut, walau hanya seikat
Angin angin gunung menjadi semrawut
Lebah-lebah kalang kabut
Tanah menjadi begitu masam
Membawa luka pada bebatuan
Aku, yang mencabutmu, memanglah jenis manusia biadab

Aku mencintaimu, Edelweiss adikku
Kuantar penggantimu yang mengering ke rumah, pulang kembali
Pada sebuah hunian kecil di kota tua
Tepatnya di ruang tamu, di atasnya tergantung chandelier emas warisan omah

Keindahanmu tetaplah tegar
Biarlah debu menumpuk, bagai selimut salju puncak Himalaya, di kelopakmu
Ketika mengering, kau memutih dan pucat. Mencipta efek kaku seperti mayat
Tepat seperti diriku saat mendengar kabar bahwa kau melesap

Kini, kau menjelma jadi Edelweiss kering di vas

Maaf, Edelweiss kering di vas
Sudah dua kali musim penghujan
Mama terus mengigau; meracau
Edelweiss anakku.. edelweiss berbibir ranum
Tak pernah pulang
Terakhir, Edelweiss berbibir ranum hendak menantang diri
Untuk mendaki Semeru, merasa hatinya telah setinggi Semeru

Mama terus menangis, tak memberi restu padanya
Katanya: kelak kau ke sana, bersiaplah takkan pernah berpulang
Apalagi merawat Obi, kucing kesayanganmu
Bersiaplah kau akan terganti dengan Edelweiss kering di vas

Sadar bahwa kau takkan pernah kembali, maka biarlah kami memandang selalu Edelweiss kering di vas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *