Oleh: Edeliya Relanika

(1)

Pukul 5 sore, aku buyar ngaji, lalu lapar. Lapar mengutuk tanganku memukul gemas kepala dengan kopyah putih keras. Kenapa tangan menjadi anarkis pada diri sendiri? Karena Wak Inggih masih menghukum Ulfah, tiada lancar melantunkan hapalan surah pendek sampai khatam. Terpaku, kami masih terlikat di lantai Langgar. Kami arek Kroman Gang 7 masygul, telah menghapal khatam seluruh Juz 30! Apa yang luput? Kenapa juga ikut dihukum? Direnungkan kembali. Maklum saja, muasal Ulfah dari Gang 8, jarang mengaji bersama seusai salat Maghrib di Langgar Gang 7.

(2)

Sial, guru ngaji kondang di Kroman macam Wak Inggih hanya mau bertengger di Langgar di Gang 5, berpendingin udara. Maklum, daerah Pantura bukanlah Puncak Gunung, kesejukan adalah barang mahal di sini. Ya sudah, di Langgar Gang 5 kami untung-untung ikut terciprat rasa sejuk.

(3)

Sepulang ngaji, sejurus jalan menuju rombong Cak Adhim penjual pentol sari laut pantura. Rasa lapar menongol seperti tonjolan lipatan lemak di perut. Pentol udang, pentol cumi, pentol gurita, pentol ndog bader. Masih berenang dan mengambang di dandang dagangan, menikmati masa utuhnya sebelum terlumat mulut-mulut lapar. Terciptanya tampilan pentol gemol nan menggugah, harus dimandikan air siraman kaldu, kemudian kalbu Cak Adhim seorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *