Mari kita belajar tentang cinta, tapi sebelumnya ingatlah bahwa dalam tulisan ini mungkin tidak mencantumkan cinta yang distandarisasi, yang mengungkap makna: Definisi cinta. Tidak juga tentang ilmu terapan praktis yang mengajarkan bagaimana cara menemukannya: Teknik  kebahagiaan dalam cinta. Ataupun keterangan akan keindahan dan penjelasan cinta yang bertele-tele dan rumit: Hakikat cinta sebagai filosofi dan seni hidup. Apalagi argumentasi cinta sebagai doktrin yang dogmatis: Agama cinta sebagai pedoman dan cara pandang hidup manusia.

Sebenarnya telah banyak kata-kata indah menjadi puisi dan syair cinta yang terangkai oleh pujangga. Kalimat bijaksana yang memotivasi, atau yang menyadarkan akan kebahagiaan yang sederhana dari para pakar. Namun ternyata masih banyak juga pertanyaan – pertanyaan tentang cinta itu sendiri. Mengapa demikian?, karena cinta berbicara dengan bahasa perasaan.

Sekalipun tulisan ini merupakan upaya penerjemahaan prasasti yang terpahat dengan aksara cinta pada hati, dan prasasti ini penuh dengan ornamen sayat-sayat keindahan sekaligus kepiluan. Sementara bahasa perasaan itu bersifat unik dan penuh rahasia. Apabila kita sering mengungkapnya, maka ia akan terlihat sama dengan yang lainya, dan justru tidak menjelaskan apapun tentang perasaan mu itu. Dan selayaknya rahasia perasaan cinta perlu dijaga kemurniannya dengan tulus bukan? Maka tidak mengherankan bila cinta dapat melahirkan beragam karya seni, dan menjadi pusat penilitian bagi ilmu kebijaksanaan tertinggi. Dan selamanya akan menjadi misteri.

Tentu kita bisa belajar tentang cinta dari banyak hal, atau mungkin kita telah menemukan bahkan mengalaminya. Sebelumnya cobalah untuk mengingat satu peristiwa yang memberi mu sebuah perasaan yang bergejolak, perasaan yang menggairahkan ataupun yang menyedihkan. Ingatlah di ambang kesadaran yang samar-samar itu, dan mulailah mendaurnya untuk mengenali perasaan cinta kembali.

Jika kamu pernah merasa jatuh cinta pada siapapun atau apapun, ingatlah bagaimana ia bisa menjadi kegilaan yang membuatmu saat ini mungkin merasa geli, heran, menyesal, atau bahkan sedih dan menangis karena ingin mengulang lagi? Demikianlah perasaan manusia, ia dapat begitu mendamaikan juga meresahkan. Gelombang perasaan manusia yang bergejolak itu adalah dampak dari getaran kecil yang menggerakkan, ialah cinta.

Baca Juga : Kisah Para Pecandu Temu

Gelombang itu bermula dari getaran kecil1

Bilamana saat ini ketika mengenang pengalaman bercinta kemudian perasaan mu mulai riuh, maka mulailah untuk meredamnya. Karena perasaan itu seperti air, ia akan teduh dan mendamaikanmu bila ia tenang, namun ia akan menjadi bencana seperti badai dan air bah. Satu hal lagi, ingatlah ketika kamu tenggelam pada danau yang memiliki permukaan air yang diam, kamu akan sulit untuk menyelamatkan diri.

Tentang ombak di samudra, ia merupakan dampak dari aktivitas makhluk hidup yang menggerakan kehidupan. Mereka adalah kawanan ikan yang setiap saat tergerak oleh perasaan yang menghidupi. Semesta membelai permukaan samudra dengan angin. Sungguhpun demikian angin bergerak atas dasar kerinduan dan rasa ingin temu yang menggebu. Angin bergerak untuk menghidupi makhluk hidup di daratan belahan lain. Mungkin karena ada setangkai bunga yang menantinya untuk menitipkan benih cinta, juga para perindu yang naif yang mengirim pesan kangen kepada sang pujaan melalui angin. Atau kerinduan oksigen yang dihembuskan plankton yang menguap, sehingga angin mengantarnya pada segenap kehidupan. Seperti itulah cinta, ia menggerakkan dan menyentuh siapa saja yang dilaluinya2.

Sebenarnya taifun, pusaran angin yang mahadahsyat di samudera, merupakan pertunjukan pertemuan cinta antara awan dan samudera. Mereka sama-sama bermula dari gelombang yang terpantik oleh gerakan kecil. Fenomena ini ada karena getar pertama, analogi inilah yang tersirat dalam teori Butterfly Effect3.

Secara sederhananya, segala sesuatu yang besar itu bermula dari yang kecil. Dalam teori Domino Effect, kamu  akan memahami kenapa sebuah balok yang besar dapat dirobohkan oleh balok yang kecil. Seperti itulah gelombang pada seutas tali yang diayunkan, perhatikanlah gelombang itu memiliki bukit dan lembah. Tidak terkecuali perasaan manusia. Oleh sebab cinta, kita dapat melakukan hal yang tak terduga. Pasti gelombang perasaan ini perlu dikendalikan.

Penggembala Gelombang

Kita adalah tuan bagi diri dan parasaan kita sendiri. Perihal cinta semua orang adalah pembelajar. Seperti halnya nelayan ia perlu mengenal dan memahami pergerakan gelombang samudera, hafal akan arah angin bergerak. Bukan sekedar untuk mendapatkan ikan saja, melainkan bagaimana ia harus bisa pulang dengan selamat untuk melangsungkan kehidupanya bersama keluarga yang tercinta. Maka dari itu nelayan akan senantiasa mempelajari musim, cuaca dan kondisi alam sesaat sebelum ia pergi melaut. Sekalipun nelayan itu telah berkenalan dengan garam dan lautan sejak lama, namun tentunya tidak semua tabiat alam yang terekam dalam ingatan nelayan. Laut memiliki hukum tersendiri.

Di lautan lepas, semesta bersifat bebas. Ia dapat terlepas oleh ikatan ingatan, ada banyak hal yang tak terduga yang perlu di kenali lagi. Untuk itu setiap perubahan situasi alam ia harus peka. Seorang pelaut ulung adalah pembelajar.  Seorang pelaut yang mahir itu akan selalu waspada, tidak pernah meremehkan juga tak boleh tunduk oleh kehendak bebas alam raya. Maka seorang pelaut harus menjadi penggembala samudera yang bisa melayani sekalipun ia adalah tuan bagi bahteranya.

Begitu juga tentang bagaimana ia menggembala nahkoda untuk bisa berdamai dan selaras dengan samudera, ia perlu menggembala perasaannya sendiri. Sebab dalam kecamuk dan hempasan ombak yang menggila. Sudah barang tentu terpaan angin badai, dapat menjadikan gelombang perasaan nelayan itu ikut bergejolak bukan? Maka sebelum ia menaklukan gelombang pasang, ia mesti menyurutkan kegundahan dan kepanikan. Hanya dengan begitu ia bisa menggembala gelombang samudera, dan selamat dari badai yang menerjang.

Belajar Tentang Cinta ?

Dari samudera kita belajar tentang cinta, sebuah semesta lain yang peghuninya adalah para pecinta. Aliran airnya tergerak untuk menghidupi, arus anginnya menuju kehidupan lain. Dan mereka sama saling mencipta getar awal dari sebuah gelombang, yang menghidupkan sekaligus mematikan. Menantang sekaligus melenakan. Dua sisi yang berlawanan ada dalam setitik hujan yang jatuh di lautan. Gerak lembut sirip ikan mungil, juga belaian halus angin menghembus. Namun getar yang mereka ciptakan memiliki dampak yang luar biasa, resonansi gelombang yang menakjubkan.

Tak jarang cinta bermula dari hal-hal remeh. Banyak sekali cinta itu bermula dari kehangatan, iya hangat. Sebutan dari tempratur yang tidak dingin juga tidak  panas. Sebuah idiom yang selaras dari cinta yang ideal.

Dan kenyamanan merupakan salah satu tanda awal dari hadirnya perasaan cinta itu. Meskipun terkadang ia lahir dari keramahan atau malah justru dari kekesalan. Namun di samudera, cara mencintai merupakan bagaimana tentang cara bertahan dan berjuang, sekaligus bagaimana cara menghormati kehilangan. Maka menjadi nyaman di samudera hanyalah prihal bagaimana kamu mencintai atau dicintai, apatah arti kepergian tanpa menjadi kerinduan, menjadi hilang dan tak dirindukan?

Sebelum nelayan itu jatuh cinta pada samudera, dia mencintai keluarganya sekaligus dirinya sendiri secara bersamaan. Maka sebelum mencintai yang lain kita perlu mencintai diri sendiri, berdamai dengan cuaca perasaan yang tak menentu, mempelajari musim di ruang hati masing-masing dan teruslah bergerak. Karena cinta itu selayaknya air, ia akan keruh bila tak mengalir4.

Sekarang, bagaimana dengan perasaan mu, adakah getar pertama yang kau sadari saat ini? Apakah sedang bergejolak atau malah sedang datar-datar saja? Ingatkah bahasa apakah yang digunakan oleh cinta? Bila perasaanmu biasa saja saat ini, mungkin hatimu sedang bisu. Namun tak mengapa asal jangan sampai perasaanmu mati, sebab lautan yang diam itu membahayakanmu. Pada akhirnya, dari tulisan ini apa pendapatmu tentang cinta itu?

Pada tulisan lanjutan kita akan memanjat dan memetik buah dari sebuah pohon cinta, untuk memahami titah semesta: Jatuh cintalah dan patah hatilah!!!

꧁_________꧂

Refrensi :

  1. _Re, Puisi Kembara rasa dalam “Kitab Among Diri”, (2018)
  2. Eko Triono, Omong Kosong Tentang Cinta, (2014)
  3. Dee Lestari, Supernova 1 : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (2001)
  4. Ahmad Fuadi, Negeri 5 Menara, (2009)

Penulis :
Nasrullah. MK. Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi

Editor :
Tri Raharjo
Twitter : @TRhrjo

About the Author

Nasrullah MK. Al-Chudjazi

Lurah Sekaligus Carik

Om-om "single parent" anak satu yang berprofesi sebagai penggembala aksara, sering disebut sebagai Cah Angon. Karena sering hilang ingatan, saat ini tengah sibuk merawat kesadaranya lewat tulisan.

View All Articles