Aku ingin berlayar ke bulan dan ku tinggalkan bumi ini. Siang itu terasa panas dengan cahaya matahari yang terus menyengat. Bagaikan anak panah yang tiada hentinya menghujam, aku terus berjalan. Di pinggir trotoar jalan, aku merasa bersemangat dan ku ayunkan kaki ini. Adapun tujuanku sampai sore nanti adalah berlabuh ke tepi gunung yang terdekat.

Aku tidak sabar menunggu sore hari datang. Jujur saja, aku sangat merindukan bulan purnama yang anggun nan menyejukkan itu, karenanya inginku berlayar ke bulan dan ku tinggalkan bumi ini, Sementara sinar matahari yang menyiksa, mulai tertelan oleh malam.

Aku berjalan masuk ke dalam gang-gang yang semakin sempit. Perjalanan ku Semakin jauh dari keramaian kota juga dering mesin kendaraan. Aku mulai menemui aspal, beralih ke batuan makadam, juga tanah yang mulai mewarnai jejak langkahku, liku terjal jalanan dan naik turunnya lembah ternyata bisa ku tempuh jua, wah bangganya diriku. Meski terasa sangat melelahkan, tapi keinginanku berlayar sudah dekat tercapai. Tusukan panasnya matahari mula-mula tertelan oleh kegelapan, menjadi remang, kemudian berganti malam secara perlahan. Bersamaan dengan itu, semburat cahaya yang syahdu dipancarkan oleh rembulan yang sayu.

**

“Aku merindukan ini, kabut mulai turun!”, sahutku bahagia bak anak kecil mendapatkan ikan koki baru.

“Namun aku sendiri”, keluhku.

Tapi tidak mengapa. Alasan aku ingin berlayar ke bulan dan ku tinggalkan bumi ini, karena aku sendiri. Kemudian gelap sudah mulai datang. Hanya berbekal tas ukuran sedang yang berisi matras aluminium, korek api, pisau, jaket, dan sedikit minuman serta bahan makanan. Aku mulai memeriksa, satu demi satu. Tidak lupa anjuran pemerintah, yakni masker dan Instant Hand Sanitizer Gel.

Aku mulai merasa muak dengan yang terjadi beberapa belakangan ini. Situasi yang tidak bisa dianggap baik-baik saja. Kebijakan Penguasa yang jauh dari kata pencapaian kondusif. Wabah yang menakutkan ini, masih saja ada orang-orang yang dengan sadar menebarkan wabah yang lebih mematikan. Berita pembodohan dan kabar bohong. Satuan aparat yang menangani bencana ini pun memiliki sentimen berkaitan dengan masker. Iya, Masker dari simbol pembungkaman.

Untuk itu, aku memutuskan untuk berlayar malam ini. Aku merencanakan menepi, mencari makna hidup sejati, tujuan akhir sebuah perjalanan yang aku telusuri sendiri. Kemudian aku berharap bulan menyambutku, memberiku pelukan yang hangat dengan tatapan teduh, dalam lamunan perjumpaanku dengan Sang Rembulan. Selanjutnya aku sempatkan barang sejenak untuk mengemasi kenangan ku dengan bumi, sekedar menemani pelayaran ku bulan malam ini.

Semakin menanjak jalanku ini, aku mulai menebang kayu untuk membuat kapal. Menentukan singgasana sudah. Pada tempat cukup luas, tinggi, terlihat beberapa sorot atau bahkan ratusan lampu kota, cocok untuk nantinya aku berpamitan, setelah aku tebang beberapa pohon, aku mulai merangkainya. Ikatan kuat menyetut lingkaran-lingkaran kayu itu. Seretan kayu dan bunyi jangkrik memecah hening malam itu, dingin pula ternyata, karena kabut mulai menebal. Dan bulanpun tak mau kalah, sedikit cahaya dan bentuknya keluar, sedikit tertutup kabut dan awan.

**

Aku sadar bahwa aku harus lebih cepat merangkai bahteraku, agar tidak ketinggalan. Konon jarak terdekat bulan berada tepat di atas kepala, jadi aku tidak akan melewatkan itu. Aku muak di bumi. Bongkahan kayu mulai ku potongi, ku tata seperti susunan kapal. Cukup untukku sendiri. Mulai aku gelar matrasku di atas kapal karyaku. Tentu bangga aku bisa membuat kapalku sendiri. Aku menyiapkan dua pengayuh kapal. Aku tentu bahagia.

“Oi….oi… warga kota, kalian tidak mau bergabung denganku kah?!”, teriakku yang girang.

Lampu kota yang kerlipnya semakin berkurang. Mungkin itu jawaban mereka atas pertanyaan cerdasku. Benar, mereka terlelap, dimana tanda lelap adalah lampu mati.

Bulan sudah di pucuk kepalaku, kemudian aku kayuh benar-benar kapalku. Dari yang pelan, sampai agak cepat, kemudian stabil dan cepat. Seakan aku tidak mau kehilangan tiket kapalku. Tak sadar aku sudah melayang tinggi benar. Menembus awan, lapis per lapis. Semakin dekat dengan cahaya bulan itu.

Selama berlayar ke bulan dalam rangka ku tinggalkan bumi ini, aku selalu merasah resah dan tak sabar. Aku merasa resah apakah di bulan nanti adakah apa yang ku cari, yang tidak ku temui di bumi, namun tak sabar untuk meninggakan bumi dengan segala jenuhnya kehidupan bumi. Diantara kegamangan dalam perjalanan ini, aku merasa apakah kepergian ku ini menjadi kerinduan bumi terhadap ku?. Entahlah, rasanya aku bosan dengan semua ini.

Tak sadar, air jatuh. Kemudian aku mencarinya, ternyata bukan hujan. Namun air mataku menetes, menjadi sedu sedan. Ketika aku meninggalkan bumi. Tapi, ini pilihanku, aku murka benar dengan kota ini. Aku kayuh lagi, semakin mendekati bulan purnama yang ranum. Seperti aku bisa meraihnya. Ah… menyenangkan, betul.

**

Sesampainya di bulan. Aku sejenak mengamati, hanya hamparan kosong yang pucat pasi, seakan cahaya yang teduh itu pergi. Bulan sama sekali lain bila dipandang dari kejauhan, dari bumi yang membosankan. Dan betul aku terkaget-kaget kepalang dibuatnya. Dipikiranku, kemana cahaya yang menenangkan tadi?

Aku mulai merasa bingung dan mencari-cari, namun tidak ada ketenangan ataupun keteduhan itu. Cahaya yang ku damba-dambakan tiba-tiba hilang, menjadi gelap gulita, benar gelap gulita. Aku pikir bulan itu hangat, tentram, dan membuatku lebih tenang, ternyata tidak, cahaya itu hilang. Kini tentram yang ku cari nihil. Sial, betul-betul sial, apa yang ku cinta dan tuju selama ini hanya seperti ini. Dengan segala yang ada di bulan, kesendirian dan kesepian menampakan sikap aslinya, dingin menakutkan.

Aku mulai merasakan sesak, pada luasnya padang sunyi ini, sepi tak lagi menjadi kedamaian, melainkan menjadi riuh kegelisahan. Sesaat setelah aku terkapar dan jatuh dari lena harapan pada hamparan kosong ini aku tersadar. Segala khayal kedamaian abadi yang dijanjikan oleh sepinya bulan dan kesendirian ku ini, ternyata hanyalah ilusi. Dalam kalud aku masih memanjakan bumi, walaupun aku dan keluargaku disiksanya. Dan kini tersisa hanya aku. Ah… tapi tidak.

Setidaknya bulan memberi ku ruang sendiri. Harapku, aku bisa leluasa menjadi diri ku sendiri, merdeka benar, sehingga aku terbebas dari belunggu yang ramai menindasku. Ketika malam semakin laut, aku mencoba berdamai dalam pergulatan yang dihadirkan bulan, menjadi beribu pertanyaan, mengapa aku datang kemari?.

**

Bersamaan dengan letih, setelah aku menyapa setiap palung dan gunung bulan, sebuah salam perkenalan dari relung hati yang paling dalam, aku mulai merasa lapar, aku memutuskan rehat dan merunungkan bahwa di bumi aku sendiri, di sini pun jua, tetap sendiri.

Untuk itu aku semakin bulat tetap di sini, mengadu nasib ku sendiri. Kemudian aku mengambil perbekalan, kini makanan dan minuman mulai masuk ke tenggorokan, rasa laparku hilang. Namun ketika aku berjalan sendiri di bulan yang gelap, tiba-tiba aku disergap oleh rasa rindu, perasaan itu muncul, aku merasakan kerinduan terhadap pekerjaan yang aku tinggalkan tanpa pamit, warung makanan sederhana. Hingga merindukan perempuan yang bernama Rika, PSK langgananku. Ketika gejolak kerinduan itu memuncuk, aku harus mengambil sebuah keputusan, maka dengan tekadku yang tetap bulat, memilih di sini. Meskipun sendiri bisa aku melewati, dan aku telah berdamai denganya, namun gelombang keresahan itu hanya bertahan mungkin 3 jam.

Kemudian datang lagi kegelisahan baru, tentang ketidak pastian akan kesendirian ini, sebuah kesepian yang aku kira kedamain yang mandiri. Pada saat itu aku merasa bahwa aku telah selesai, namun aku salah. Selanjutnya mulai bergejolak melawannya, semakin keras aku melawan, perasaan itu menyerang semakin kejam pula. Kemudian aku tersungkur pada ratapan yang percuma.

“Tak tahan aku dengan kesemuan ini”, tiba-tiba keluar kata itu dari mulutku.

**

Supaya tidak malu terhadap bumi, mulai ku putar otak. Aku hancurkan kapalku nanti di tengah perjalanan saja. Semoga bumi menerimaku. Aku mulai naik dan ku kayuh meninggalkan bulan. Benar, tengah perjalanan aku memutuskan untuk menghancurkan kapal dengan pisauku.

Kepingan kapal mulai lepas sedikit demi sedikit. Sampai aku hanya berpeluk satu kayu utama yang cukup Panjang dan lebar. Dengan eratnya ku peluk sebagai tanda malu. Mulai, aku pura-pura terdampar di bumi, aku membawa tas dan ku peluk bongkahan sisa kayu. Aku pura-pura terbangun. Kesakitan pula. Dan ku katakan.

“Maaf bumi, aku gagal berlayar ke bulan. Aku ditakdirkan untukmu, begitu pula sebaliknya, namun maafkan aku. Kini Aku mencintaimu”, ucapku berpura-pura manis, karena kegagalanku menikmati perselingkuhanku.

Ternyata hidup pada kesemuan tidak menyenangkan. Lebih baik aku disini, berjuang untuk melawan derita. Terus berusaha. Sekuatnya, semampuku. Kayu dalam pelukanku, ku letakkan dan membakarnya. Perlahan asap dan api mulai mengebul. Seolah ku bakar bumi. Ku lihat bulan dengan sungguh kesejukannya. Dan itulah caraku menikmati pelayaranku. Dengan melawan derita.


______________________________________________

Penulis

Penulis :
Tri Raharjo
Twitter : @TRhrjo

Editor
Nasrullah. MK Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi