Bicara Tentang Petani, Tak dapat dipungkiri bahwa petani merupakan tulang punggung kehidupan. Sumber dari segala bahan pangan bersumber dari petani, baik petani kecil ataupun tuan tanah. Dari segala jasa manfaat yang beliau berikan kepada kita selaku konsumen, sudahkah kita berterima kasih terhadap beliau-beliau ini?

Banyak pelajaran dan sikap yang dapat kita adopsi dari para petani yang setiap hari rajin ke sawah ataupun berladang. Pelajaran yang selalu relevan dan pas untuk kita gunakan dalam kondisi apapun. Coba aku ajak teman-teman berjalan-jalan ke sawah, ketika kita memasuki pematang sawah dengan menyebrangi selokan kecil. Angin sore menyambut dan menghempas tubuh kita sehingga membawa ke hamparan padi yang kita makan sebagai nasi.

Dari pematang sawah inilah, sumber kehidupan sekaligus lahan perenungan hidup kita. Bicara tentang petani, kita musti belajar banyak hal, tentang bagaimana mereka menyikapi hidup, ketulusan dan etos kerja mereka yang bukan sekedar untuk melangsungkan hidup mereka dan keluarga mereka saja, melainkan menghidupi segenap kehidupan kita semua. Berikut beberapa hal mendasar yang patut kita semai dalam ladang perenungan hidup kita dari petani ;

Keikhlasan,

Ikhlas adalah pelajaran utama dari petani. Dari mulai membajak sawah, penyiapan benih, penanaman, perawatan rutinnya, dan panen yang kadang maksimal serta kadang juga panen mepet ambang bawah ekonomi. Alias boncos dan rugi. Namun, apa yang terjadi, tetap saja petani ini akan tetap menanam dan belajar hal baru secara mandiri tentang ‘mengapa tanaman tidak panen maksimal?’.

Percobaan itu berulang, seakan tidak terjadi masalah yang begitu besar dan sampai mencapai panen yang sesuai harapan. Bukan karena mereka pandir, tapi bertani adalah jalan rejeki yang mulia. Mereka ikhlas dalam menanam, perkara panen atau tidaknya, itu urusan dari yang Maha Kuasa, tugas petani hanya berusaha. Sungguh mulia, namun yang tidak lolos pada ujian dasar ini pasti akan memilih pekerjaan lain entah pekerjaan apa dan jadi apa.

Nol Korupsi,

nilai kedua ini adalah pelajaran relevan yang dapat kita ambil. Petani yang menanam dan merawat tanamannya secara sungguh-sungguh akan menuai panen yang setimpal. Hasil panen akan terjual dengan kuantitas dan kualitas yang sesuai aslinya. Tidak ada embel-embel korupsi semacam janji palsu dan ita itu tentang hasil panennya, apa yang dia timbang itu adalah apa yang ia dapatkan, simpel toh.

Lagipula jika ada timbangan yang sengaja disusutkan atau digelembungkan itu juga bukan petani. Petani menjual hasilnya dengan apa adanya. Jadi aku mohon kalau memang membeli langsung dari petani, Jangan Sampai Menawar, ra ilok kata orang jawa. Pekerjaan apa yang mulia dan nol korupsi? Saya bisa menjawab, Petani.

Hidup dinamis dengan biasa saja.

Pernah suatu kali bapak ibu saya yang sebagai petani menanam kangkung dengan luasan yang cukup besar. Dan ketika panen harga pasar anjlok sampai 60-70% an lah. Ketika itu aku pikir untuk menahan panen beberapa hari sampai kondisi pasar agak naik, Pikiranku, lha yo rugi kalo jual harga pasar seperti ini. Namun pikiran itu kalah oleh pengalaman yang sudah puluhan tahun terasah tajam oleh bapak ibu.

Jika panen molor, sampai keluar bunga sudah kurang layak sebagai konsumsi. Akhiranya kangkung itu terjual sak payune di pasar atau kemudian secara cuma-cuma ke tetangga-tetangga. Dikuatkannya perasaan ini dengan ngendikan, “Rugi karo untung kuwi wis biasa, jeneng e wong tani. Sik penting tlaten bakale panen”. Saya bersyukur, dengan keadaan pas-pasan ini, kehilangan sesuatu menjadi biasa saja, sedih yang biasa, jika mendapatkan sesuatu pun juga biasa saja, nggak sik ndakik-ndakik. Semoga nilai ini bisa diugemi untuk kondisi nanti saat berlebih.

Low Profile

Percaya atau tidak petani dengan penghasilan besar puluhan juta bahkan sampai ratusan juta dengan petani yang hasilnya jutaan per panen mempunyai tampilan yang serupa dan tak jauh beda. Beberapa kali bertemu dengan salah satu tuan tanah jeruk dengan puluhan juta rutin, pergi ke ladang tetap menggunakan supra modifan, baju sponsor pestisida, dan rumahnya katergori rumah yang biasa, bukan yang gedongan atau semi gedongan.

Selain itu, sikapnya juga masih ramah, hangat, dan mengisahkan perjuangannya dari petani biasa sampai mempunyai lahan dan petani pekerja yang banyak. Pungkasnya dengan, “Alhamdulillah mas, barokah e wong tani”.

Dari berbagai nilai itu, semakin menambah penghargaanku terhadap petani. Tanpa petani, aku yakin kita akan kesulitan hidup. Dari itu juga mengajarkan keyakinan untuk hidup dengan biasa saja. Serta menambah keinginanku menjadi petani nantinya, karena aku sadar hidup dengan barokah rejeki petani. Jadi, Bicara Tentang Petani adalah berbicara tentang soko guru bangsa ini.

________________________

Penulis :
Tri Raharjo
Twitter : @TRhrjo