Bukan aku pencurinya, ini sebuah tuduhan yang tak mendasar. Wanita tua itu adalah orang yang baik, dan aku tau betul kebaikannya. Hampir setiap hari kami mengobrol, aku selalu menjadi pendengar yang baik. Memang ia adalah tipikal orang yang ceriwis, selalu mendominasi pembicaraan dengan cerita yang kurang seru. Cerita tentang semasa mudanya yang selalu menjadi idola para lelaki. Pengalaman kerjanya di instansi penegak hukum yang penuh intrik, yang sudah menjadi rahasia umum dan memang kurang menarik.

Namun ia adalah satu-satunya tetangga yang baik kepada ku, Aku tau betul kebaikannya bukanlah sekedar basa-basi karena ia kesepian. Mana mungkin aku berbuat jahat kepadanya, aku tidak pandai berbohong. Tidak memiliki bakat menjadi kriminal. Meskipun saat aku SD pernah babak belur, hanya karena aku mengambil pensil yang terjatuh di lantai. Belakangan aku baru mengetahui pensil itu milik gadis idola bintang kelas, anak dari wali kelas ku. Namun aku jujur, aku menemukannya, bukan mencurinya. Sejak saat itulah aku kapok memungut segala sesuatu yang tidak jelas.

Aku memang terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan, bahkan sejak SMP keluarga lurah mengankat ku. Mereka menyekolahkan ku hingga lulus SMA. Aku sangat memahami akan makna kebaikan dan hak milik. Sehingga aku tak pernah malu untuk terus terang meminta, dari pada harus diam-diam menguntit yang bukan hak ku. Aku mengerti betul akan hakikat harga diriku dan nama baik keluarga ku. Karena sejak kecil aku hidup dari kebaikan banyak orang, maka aku lebih takut mengecewakan daripada harus menghadapi pedihnya rasa dikecewakan, sudah biasa. Sekali lagi, bukan aku pencurinya. Bukan sekedar diatas meja introgasi ini saja, melainkan sedari awal aku telah sampaikan pledoi ku ini.

***

Pak RT gendut itu yang menuduh ku. Mungkin ia menaruh rasa jengkel kepada ku. Hal ini aku maklmi, karena aku sering terlambat bahkan tidak membayar uang iuran kampung. Aku sadar diri betul tentang hal ini. Dari caranya berbicara kepadaku selalu saja dengan nada merendahkan. Meskipun demikian, aku memang tak tau malu. Terus terang saja, aku selalu menghadiri setiap acara warga, kumpulan bahkan hampir setiap malam aku ikut ronda di pos jaga. Dan Pak Jamali, Pak RT gendut itu yang sudah seperti juragan kampung, selalu saja mencibirku. Menurutnya aku hanya numpang makan, pemulung jajan dan pengemis rokok.

Coba tanya saja warga lain, atau seandainya wanita tua itu tersadar, mintai saja keterangan padanya. Aku yakin orang-orang pasti membelaku. Meskipun demikian aku mengerti. Apa artinya banyaknya suara kebenaran, bila keadilan hanya berpihak pada orang yang dekat dengan kekuasaan.

Kalaupun seandainya kesaksian warga tentang keseharian ku, tidak meringankan posisi ku sekarang. Aku bisa menerimanya. Mungkin aku dan pak jamali adalah saksi kunci menurut berita acara perkara bukan? dan kasus ini butuh seseorang jadi tersangka kan? atas nama keadilan, atas nama prestasi jabatan? padahal aku sendiri pun tak tau secara pasti bagaimana kronologinya. Yang aku dengar dari perbincangan warga, bahwa Pak RT memberikan kesaksian yang memberatkan ku. Dia bersaksi bahwa sesaat sebelum Bu Sri tak sadarkan diri, ia melihat pelakunya lari kearah rumah ku, sebelum ia melayangkan benda tumpul di batok kepala dan membuat Bu Sri pingsan.

Perhiasan wanita tua yang hilang semalam itu, bukan aku pencurinya. Meski harus aku akui, semalam aku berjaga sampai larut, memang tinggal aku saja yang bertahan di pos keamanan. Aku pulang saat azan shubuh berkumandang. Namun bukan aku pencurinya. Sebetulnya saat Bu Sri berangkat ke masjid di sudut komplek perumahan, kami sempat berpapasan dan bertegur sapa seperti biasa. Kemudian aku pulang, dan tidur.

***

Iya betul, rumah Bu Sri itu bersebelahan dengan rumah kontrakan ku, namun saat itu aku tidak mengetahui apapun, Aku tertidur pulas. Sampai suatu ketika aku mendengar jeritan seorang Wanita. Sedangkan aku masih belum-belum sadar. Aku terlambat bangun. Hingga keributan diluar terjadi, aku keluar untuk memeriksa. Aku hanya melihat pak jamali menggendong Bu Sri yang sudah tak sadarkan diri. Kemudian tetangga sekitar dan jamaah masjid datang beramai-ramai, namun pak jamali menghardikku. Ia menuduhku, dan menyuruh mengembalikannya. Di sisa-sisa kesadaran karena masih ngantuk, sontak aku terbelalak dan bingung. Belum juga ku timpali pembicaraanya dia sudah memaki-maki.

Aku sudah memberi penjelasan, tapi menurutnya aku hanya beralasan. Bukankah alasan itu pasti akan berbeda, beragam versi cerita. Smentara aku telah memberi keterangan yang sama, namun tidak juga ia percaya. Di zaman edan ini, bukannya tidak ada orang yang jujur, melainkan tiada orang yang mau menerima kejujuran. Benar kata marjuki, tetangga ku itu. Tapi sudahlah.

Hari ini, Tanggal 28 Juni 1983. Aku, Sudarmono, lahir di Pasuruan tanggal 23 Pebruari 1956 menerangkan, bahwa kasus pencurian perhiasan emas di rumah janda tua atas nama Sri Wayuni, yang senilai sembilan ratus dua puluh lima ribu rupiah, bukan aku pencurinya atau penyebab dari kematiannya. Sekalipun aku harus di penjara belasan tahun, aku terima. Namun ketahuilah, aku hanya orang yang hidup sendiri. Tiada seorang pun yang akan peduli dengan hidupku, jadi siapa yang akan menjamin biaya hidup ku di penjara nanti? Sekalipun aku bukan pencurinya, bagi ku hidup didalam maupun diluar penjara sama saja.

꧁_________꧂

Penulis :
Nasrullah. MK. Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi

About the Author

Nasrullah MK. Al-Chudjazi

Lurah Sekaligus Carik

Om-om "single parent" anak satu yang berprofesi sebagai penggembala aksara, sering disebut sebagai Cah Angon. Karena sering hilang ingatan, saat ini tengah sibuk merawat kesadaranya lewat tulisan.

View All Articles