Candrageni dan Cabai Lahan Kering – Sudah 5 menit, suara ketukan pintu tak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam isi rumah. Sebuah rumah di pelosok desa yang bahkan listrik hanya ada 12 jam. Tetiba seonggok manusia membukakan pintu rumah seluas 120 m2. “Permisi mas, ini saya mengantarkan surat dari kampus atas nama Candrageni” Sahut tukang pos pengantar surat. “Iya pak saya sendiri Candrageni” Jawab Candrageni.

Surat itu dibawanya masuk kedalam kamarnya yang remang-remang hanya bersilaukan cahaya matahari yang lolos dari kaca selambunya. Langit runtuh seketika surat berukuran A4 itu dibukanya dari tutup amplop. Dan kedua bola matanya menatap kuat, bibirnya mencekung bersamaan dengan luruhnya air mata Candra.

Sudah 2 semester ini candra tidak bisa mengikuti kegiatan proses kuliah di salah satu kampus negeri di kota seberang. Pandemi virus yang menghantam proses belajar mengajar, harus dilakukan secara daring dan jarak jauh. Sedangkan untuk membeli perangkat dan koneksi internet. Hasil dari sawah dan buruh tani belum bisa mencukupi, hingga akhirnya Surat Pemberhentian Masa Studi Mahasiswa itu sampai di tangan Candra.

Pak Busari dan Bu Tuni sempat bangga anak semata wayangnya itu, karena bisa mendapatkan beasiswa kuliah di kampus negeri. Walaupun begitu ia tetap banting tulang sebagai petani dan buruh penggarap sawah, untuk kehidupan keluarganya dan candra di tanah rantau.

Hasil panen yang terus-terusan rendah dan harga pasar yang murah, menyebakan perangkat elektronik beberapa inchi itu tak terbeli. Belum cukup sampai situ, Jikalupun sudah terbeli ia harus menempuh 50 Km untuk bisa mendapatkan sinyal internet di salah satu kantor provider.

***

“Sudah le rausah sedih gitu, mau gimanapun yo susah memang ngelawan keadaan, dan yo jangan nyalahin keadaan juga” Pak Busari yang tiba tiba suaranya masuk ke telinga Candra.

“Pandemi i nggateli (menyebalkan) oh Pak” timpal Candra. “Wis le sinau (belajar) gak mesti ning sekolah, ning sekelilingmu iku yo ilmu, bisa ning sawah, pasar, warung” sahut Pak Busari.

Bu Tuni sambil memasukan kayu bakar ke dalam tungku menyarankan “Le sekarang mending fokus terapkan ilmu pertanianmu sing mbok dapat ning kampus, ikut o nggarap lahannya bapak ae.”

Candrageni merupakan mahasiwa pertanian yang sudah 2 tahun belajar, dengan tujuan ingin sedikit mengangkat derajat petani yang dianggap profesi terpinggirkan.

“Emang musim tanam iki mau nanam opo pak” tanya Candra.

Pak Busari menimpalinya “Kalau tak lihat puncak musim hujan-nya, mau nanam cabai aja le”.

“Yowis pak, mending aku sawah aja” sahut Candra. Berbekal pengalaman  seadanya, Candra mengabdikan dirinya sebagai “Petani Muda”. Ia membantu bapaknya menggarap sawah.

Suatu kali di pematang lahan kering 250 m2, Pak Busari bertanya pada anak laki-lakinya. “Gimana le, menurutmu kata orang orang ning TV “Indonesia Krisis Petani Muda”.

Candra sontak menjawabnya “Ya kadang ada benernya se pak, Sopo yang sekarang mau jadi petani, hargane sering murah, tapi kadang yang ngomong Indonesia Krisis Petani Muda tanpa sadar juga menjadi pelaku yang membuat harga lahan tanah melambung mahal tak terjangkau anak anak muda.”

***

Musim panen tiba, cabai Candra dan Pak Busari panen 15 kali dengan harga fluktuatif, di awal panen harganya murah, namun di panen 8 hingga terakhir harga langsung melambung tinggi. Dalam satu kali panen memang tak lebih mendapat 50 Kg cabai, namun saat panen ke-8 harganya stabil diatas 50.000 rupiah. Setidaknya Pak Busari dan Candra mengantongi kurang lebih 13 juta dari hasil panen cabai ini.

“Ya beginilah le, petani sebenarnya nggak kalah dari Pegawai apalagi PNS, bahkan omsetnya bisa lebih to ?.”

Candra menjawab “Kalau harganya menang gini dan bisa stabil enak ya pak.”

Pak Busari terkekeh “Ealah le, cabai kita laku mahal gini itu, bapak harus nunggu berapa lama le, sekali mahal itu lihaten orang orang ning kota pada teriak-teriak cabai mahal.”

Pak Busari menambahkan “Pada intinya petani pengennya harga stabil, asal untung layak 30-40% dari modal, cuma siapa mau ngurus struktur pasar supaya fluktuasi yang tinggi tidak terjadi ? Pemerintah gak pernah hadir ngurusin ini.”

Pak Busari sedikit curhat “Kasihan petani, pemerintah selalu giat dan responsif berusaha buat kebijakan untuk meminimalisir harga pangan yang tinggi, tapi mereka kemana ketiga harga pangan murah. Bahkan untuk nutup modal biaya produksi petani aja susah, apalagi buat musim tanam selanjutnya.”

Candra terkesima dengan pemahaman bapaknya yang hanya tamatan SMP.

Dia kemudian merenung dalam hatinya “Emang Ijazah hanya bukti kalau kita pernah sekolah, bukan kita mampu berpikir”

About the Author

Wikan Agung Nugroho

Mahasiswa Jelata (Jelang Lima Tahun), sedang bercita-cita jadi bulan yang tak kuasa ditelan fajar, dan juga seorang pria yang sudah ahli dalam perkara mencintai tanpa harus memiliki

View All Articles