Sepulang Ngaji dari Langgar

Oleh: Edeliya Relanika (1) Pukul 5 sore, aku buyar ngaji, lalu lapar. Lapar mengutuk tanganku memukul gemas kepala dengan kopyah putih keras. Kenapa tangan menjadi anarkis pada diri sendiri? Karena Wak Inggih masih menghukum Ulfah, tiada lancar melantunkan hapalan surah pendek sampai khatam. Terpaku, kami masih terlikat di lantai Langgar. Kami arek Kroman Gang 7 Lanjutkan Membaca

Edelweiss Kering di Dalam Vas

Oleh: Edeliya Relanika Edelweiss tercerabut, walau hanya seikat Angin angin gunung menjadi semrawut Lebah-lebah kalang kabut Tanah menjadi begitu masam Membawa luka pada bebatuan Aku, yang mencabutmu, memanglah jenis manusia biadab Aku mencintaimu, Edelweiss adikku Kuantar penggantimu yang mengering ke rumah, pulang kembali Pada sebuah hunian kecil di kota tua Tepatnya di ruang tamu, di Lanjutkan Membaca

SENANDUNG CANDU

Pernahkan malam menjanjikan bintang Siang menjanjikan terang Tidak pernah bukan? Mereka tak pernah berjanji, Namun selalu menepati Bagaimana engkau bisa berjanji, Dan lantas pergi untuk mengingkari? Atau aku yang terlalu percaya diri? Akan prasangka yang setiap hari menghampiri? Emmmm…. Sepertinya memang seperti itu Aku sudah terlalu Candu akan Dirimu “@kosa_rasa“