Era Disrupsi dan Jurnalisme

Era Disrupsi dan Jurnalisme – Apakah kalian sering mendapat pesan berantai di grup-grup Whats App mengenai kejadian yang menghebohkan masyarakat, seperti misteri jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, hingga tenggelamnya KRI Nanggala yang bahkan pihak terkait belum mengkonfirmasi penyebabnya?. Tidak perlu kaget, di era disrupsi sering terjadi begitu banyak disinformasi dan buruknya disiplin verifikasi masyrakat untuk mengkaji sebuah pesan. Menurut Ambardi (2019) Disinformasi diartikan sebagai produksi informasi yang salah, dan pembuat serta penyebarnya mengetahui bahwa informasi itu salah.

Produksi dan penyebaran informasi yang salah terjadi dengan sengaja untuk tujuan politik atau komersial. Sehingga media massa menjadi “kambing hitam” untuk saling tuduh satu sama lain, hingga ujungnya adalah terjadinya perpecahan. Hal tersebut adalah salah satu contoh kasus dari produk yang bernama “Disrupsi” dimana era inovasi dan perubahan tatanan secara fundamental karena hadirnya teknologi digital yang kian pesat. Sobari dalam Handayani (2020) menambahkan bahwa disrupsi adalah transisi yang signifikan dari suatu perubahan yang berbeda dari sistem yang sebelumnya.

Disrupsi, Post Truth, dan Pola Konsumsi Informasi

Hadirnya era disrupsi tidak seimbang dengan kesiapan masyarakat dalam menerima informasi begitu cepat, sehingga kerap kali menelan informasi secara mentah. Masyarakat tidak lagi bersandar kebenaran pada fakta aktual melainkan kepercayaan yang terbentuk oleh sentimen beberapa kelompok yang menganggapnya benar. Kondisi seperti ini merupakan “Post Truth”.

Bukti nyatanya adalah saat masa Pemilihan Umum (Pemilu), media selalu menyajikan hasil yang berbeda pada saat hasil quick count, dan semua calon saling mengklaim kemenanganya, walaupun tanpa bukti yang benar benar kuat. Ketika salah satu calon kalah, munculah narasi kecurangan pemilu yang digaungkan dan juga dipercaya oleh tim pemenanganya. Masyarakat secara tidak langsung selalu mendapatkan informasi yang belum tentu kebenaranya sehingga menyebabkan disinformasi.

Maraknya disinformasi yang beredar secara luas di masyarakat, bukan hanya disebabkan oleh gagalnya masyarakat dalam memaknai “kebenaran“. Era disrupsi merubah pola pembentukan informasi dan konsumsi masyarakat secara drastis. Sebelumnya penyiaran Informasi melalui media cetak, televisi ataupun media daring, sekarang berubah menjadi bebas melalui pesan pesan, gambar, maupun video yang sifatnya broadcast yang belum bentu kebenaranya. Pengguna media sosial kini cenderung menggantikan peran fungsi pers dan media massa sebagai quality control informsai.

Jika menelaah perbedaan pola konsumsi informasi, maka pengaruhnya sangat besar. Pada era media cetak, saya mengambil sebuah contoh yaitu koran. Kita hanya mendapat informasi dari rubrik-rubrik yang tersedia secara terbatas. Secara otomatis kita tetap membacanya karena kita telah membeli koran tersebut, karena koran merupakan salah satu sumber informasi yang accessible. Sedangan dengan media daring kita bisa bebas mencari apa yang kita cari, kita sendirilah yang menentukan bacaan kita sendiri.

Kualitas Media Era Disrupsi dan Kepercayaan Publik

Jurnalisme era disrupsi memiliki peranan cukup besar dalam mengendalikan opini publik, hal ini seringkali menjadii celah bagi pemilik media untuk melakukan intervensi untuk kepentingan tertentu. Lekatnya hubungan pusaran politik dengan pemilik media menambah catatan buruk kualitas media di Indonesia. Hal tersebut menambah dampak negatif bagi jurnalisme di era disrupsi. Media lebih mengedepankan kecepatan dan kuantitas produksi media dari pada kualitas produk jurnalistik. Kerap kali prinsip cover both side dan disiplin verifikasi terabaikan. Pers sebagai pilar keempat demokrasi pun tercederai. Masyarakat secara tidak langsung menerima informasi yang setengah matang, yang nirfaedah dan kerap kali mengabaikan kode etik dan prinsip jurnalisme.

Penyajian kualitas media yang buruk, membuat beberapa msayarakat mengurangi rasa kepercayaan terhadap media. Hal ini didukung oleh survei yang dilakukan oleh Dewan Pers yang menyatakan di pertengahan tahun 2021 ini menunjukkan menurunnya tingkat kepercayaan terhadap media, dengan total skor menjadi 53 dari sebelumnya 61 pada tahun 2020 dan 65 pada tahun 2019. Hal ini menunjukan bahwa, setiap tahun indeks kepercayaan publik terhadap media kian menurun. Hasil survei menyatakan bahwa pembaca menilai media massa bersikap memojokan salah satu pihak, tidak lagi independen seperti semestinya. Sebanyak 59% responden menilai bahwa wartawan secara sengaja terlalu memframing berita ke sudut tertentu dan melebih lebihkan suatu kejadian.

Rasa percaya publik akan terus turun dengan sebab yang bervariasi, jika tidak diminamlisir. Perubahan ekologi dan lingkungan media adalah salah satu sebab penting yang memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap media dan produk jurnalistiknya. Trust atau rasa percaya publik ke media pemberitaan secara potensial bisa hancur ketika media “alternatif” dan media sosial memberikan versi yang berbeda terhadap fakta aktual di lapangan.

Pandemi dan Petaka Media

Disrupsi digital membawa beberapa media beralih menuju media digital yang lebih compatible dan accessible oleh masyarakat. Oleh karenanya eksistensi media cetak yang sudah ratusan tahun ada, kini mulai meredup dan bahkan terkesan usang. Disrupsi menuntut industri media mengembangkan kualitas sumber daya wartawannya untuk bisa mengubah informasi menjadi ke bentuk digital. Hal ini membuat wartawan tradisional kerap kali terpinggirkan, terlebih adanya pandemi dan krisis ekonomi membuat mereka kehilangan pekerjaanya.

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengungkapkan setidaknya terdapat 110 kasus terkait masalah ketenegakerjaan termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Demikian pula survei dari Aliansi Media Siber Indonesia juga (AMSI) mengemukakan terdapat empat media melakukan PHK. Selain itu, 20 persen anggota melakukan pemotongan gaji dan tunjangan hari raya, 15 Persen menunda gaji, dan 80 persen anggota membatalkan perekrutan karyawan baru. Cepatnya transisi era disrupsi ditambah dengan masalah pandemi ini membawa dampak besar bagi dunia jurnalistik di Indonesia, tak terkecuali petaka dan bencana yang menghampirinya. Perlunya kesiapan dan pemahaman literasi media yang kuat agar mampu survive di dalamnya.

Refferensi

Ambardi K. 2019. Jurnalisme, “Berita Palsu”. & Disinformasi. Jakarta. UNESCO Office

Handayani, S. A. (2020). Humaniora Dan Era Disrupsi Teknologi Dalam Konteks Historis. UNEJ e-Proceeding, 19-30.

Sumber Data :

Laporan Tahunan Dewan Pers 2020

Catatan Akhir Tahun Aliansi Jurnalis Independen 2020

Survei dan Riset Aliansi Media Siber Indonesia 2020

Freepik.com

Penulis

Wikan Agung N
Twitter : @wikanagung12
Linktree : linktr.ee/wikanagung

Editor
Nasrullah. MK Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi

Tagged in:

, ,

About the Author

Wikan Agung Nugroho

Mahasiswa Jelata (Jelang Lima Tahun), sedang bercita-cita jadi bulan yang tak kuasa ditelan fajar, dan juga seorang pria yang sudah ahli dalam perkara mencintai tanpa harus memiliki

View All Articles