https://pixabay.com/id/photos/pria-pohon-rambut-panjang-3974160/

“Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja”.

Kehed

Coretan tangan seorang gondronger : panggil aja Kehed

Terkadang manusia akan mendadak hilang ingatan akan kalimat itu. Apalagi saat bertemu dengan seorang lelaki gondrongers, seakan kalimat atau kata-kata itu tak pernah terdengar bahkan tak pernah ada. Lalu bagaimana perasaan seorang lelaki gondrong akan kenyataan itu? Ya, tidak salah lagi akan sangat kecewa ibarat tersayat sembilu tapi tak berdarah. Pemikiran seseorang saat bertemu dengan lelaki gondrong akan langsung penuh dengan hal buruk atau prilaku yang tidak baik, preman, copet, maling, suka mabuk-mabukan, dan sebagainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gondrong adalah ketika seorang lelaki sudah lama tidak memangkas rambutnya. Seorang gondrong menurut saya mempunyai sifat seperti unik, sabar, tabah, keras kepala, dan melawan arus. Karena tanpa sifat itu akan diragukan seorang lelaki bisa menjadi seorang gondrongers melawan celaan-celaan realita. Awalnya cobaan secara fisik yang pada awalnya menjadi hambatan. Mulai dari rasa gatal dan gerah bersumber dari kepala. Hal ini akan mulai terasa karena faktor “ketidakbiasaan” memiliki rambut panjang. Tetapi ada banyak solusinya, bisa menggunakan berbagai perwatan mulai dari yang alami sampai yang buatan (shampoo dan sebagai nya).

Mulai ekspresif dengan gondrong

Sebagian orang atau kebanyakan orang memulai menjadi seorang gondrongers dari bangku kuliah. Penyebab umumnya pada saat SD, SMP atau SMA yang mewajibkan untuk berambut pendek. Setelah itu akan cenderung lebih ekspresif. Sedangkan saat kuliah tidak mengharuskan rambut pendek sehingga bebas memiliki rambut pendek ataupun gondrong. Walaupun pada saat tertentu mewajibkan untuk berambut pendek, saat ospek misal.

Alasan mahasiswa atau yang bukan mahasiswa pun memiliki alasan tersendiri mengapa meraka memilih menjadi seorang gondrongers. Mulai dari menambah kepercayaan diri, terinspirasi dari seseorang yang ia kagumi, ikut-ikutan atau bahkan sampai perlawan terhadap penilaian orang bahwa berambut gondrong yang berprilaku tidak baik. Yap, menurut saya mahasiswalah yang menjadi korban pada saat menjadi seorang gondrongers harus mendapatkan persepsi kurang baik dari masyarakat atau lingkungan. Mengapa demikian? Hal ini saya ambil dari pengalaman pribadi saya saat memilih berambut panjang, persepsi masyarakat langsung terlihat atau langsung terdengar bahwa pada saat seseorang memutuskan menjadi seorang gondrongers, maka masyarakat akan langsung menilai bahwa orang tersebut berperilaku buruk.

Pijakan awal gondrongers  didiskriminasi

Sejarah rambut gondrong sendiri di Indonesia sudah ada sejak jaman kerajaan atau zaman dahulu kala atau zaman sebelum penjajahan bangsa barat. Dan cerita-cerita itu dapat dibuktikan dengan foto, gambar, deskripsi orang-orang terdahulu, atau setidaknya dari serial televisi yang bercerita tentang pahlawan nasional maupun pahlawan daerah dari bebagai kalangan atau lapisan masyarakat. Kita bisa melihat bahwa lelaki berambut gondrong tidak sepantasnya mendapat persepsi yang kurang baik. Bahkan saya sebagai seorang muslim sendiri saya mendapat gambaran bahwa Nabi Muhammad SAW juga memiliki rambut yang panjang. Seperti yang kita ketahui bahwa beliau adalah panutan bagi umat Islam. Zaman sekarang pun banyak dari kalang ulama, musisi ,budayawan, seniman, dan profesi lain yang memiliki rambut gondrong. Lantas, masih pantaskah masyarakat memandang seorang berambut panjang dengan persepsi yang kurang baik?

sourece : https://www.freepik.com/

Stigma Gondrong

Dipandang sebelah mata atau mendapat persepsi kurang baik dari lingkungan sekitar atau masyarakat adalah resiko yang pasti dialami seorang gondrongers. Dimanapun berada pasti saja akan mendapatkan persepsi serupa. Mungkin hanya sedikit orang, atau bahkan hanya orang lain yang pernah menjadi seorang gondrongers saja yang akan menerima atau memaklumi hal tersebut.

Menurut beberapa sumber, berkambangnya sitgma negatif apabila seorang lelaki mempunyai rambut gondrong sejak dari zaman penjajahan. Mulai dengan kedatangan bangsa barat ke Nusantara walaupun masih banyak masyarakat yang beranggapan rambut gondrong sama saja dengan rambut pendek. Karena di zaman itu masih sangat banyak pahlawan atau panutan masyarakat yang masih memiliki rambut gondrong. Terus kapan mulai nya persepsi kurang baik dari masyarakat terhadap lelaki gondrong? Ya, jawabannya berasal dari zaman orde baru. Mulai dari penayangan media televisi yang membuat peran antagonis bagi lelaki berambut gondrong.

Tayangan di televisi saat itu menunjukan bahwa lelaki berambut gondrong adalah orang yang berprilaku buruk. Mulai dari menjadi preman, pencopet, maling, dan sebagainya. Bahkan musisi, budayawan, seniman atau lelaki yang memiliki rambut gondrong pun dilarang tampil di televisi nasional, karena dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah. Stigma buruk pemerintah yang melabeli kaum gondrongers berlanjut pada tindakan-tindakan represi. Seperti sering terjadi razia atau penangkapan terhadap lelaki yang berambut gondrong pada kala itu. Bahkan pemerintah membentuk sebuah satuan/badan untuk menekan orang-orang gondrongers ini, dan membuahkan lembaga bernama BAKOPERGON (Badan Komisi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Gondrongers juga Manusia kok, kita juga punya hati

Begitulah perilaku diskriminatif pemerintahan terhadap lelaki berambut gondrong pada zaman orde baru. Kala itu Pemerintah beralibi bahwa lelaki yang memiliki rambut gondrong mempunyai sifat yang acuh, pembangkang, simbol perlawanan atau bahkan TIDAK INDONESIA/Nasionalis. “Karena menganut budaya barat”, (katanya). Tetapi menurut saya dengan semua hal yang pemerintah lakukan saat itu pemerintah juga mecabut hak kebebasan berekspresi bagi seorang lelaki gondrong.

Ya seperti kita tahu, bahwa sekarang kita tidak hidup di zaman kolonial maupun zaman orde baru. Dimana akan sangat sulit lagi dengan perlakuan-perlakuan yang pernah terjadi sebagai lelaki gondrong. Tapi, karena hal tersebutlah yang juga membuat kita sebagai gondrongers mendapat persepsi yang kurang baik di mata masyarakat. Kenapa? Hal semacam presepsi yang kurang baik bagi lelaki gondrong sudah tertanam di masyarakat setelah zaman orde baru. Bukan menyalahkan satu pihak tapi lebih kepada rasa kecewa terhadap perlakuan kurang adil yang terjadi pada gondrongers, yang di cap memiliki prilaku kurang baik atau berpribadian buruk.

Padahal sangat besar kemungkinan bahwa, tidak semua lelaki berambut panjang berkelakuan buruk. Walaupun, ya memang ada yang seperti itu, tapi sama halnya dengan orang yang berambut pendek. Juga belum tentu berkelakuan baik. Dan seorang gondrongers yang berkelakuan baik juga sangat banyak, mungkin salah satunya adalah saya Juga. Hehehe

Rapi? kenapa hanya karena rambut gondrong bisa menilai rapi atau tidaknya seseorang? Itu pertanyaan yang selalu terngiang di kepala saya. Padahal Indonesia sendiri adalah Negara Demokrasi yang katanya bebas berpendapat dan bebas berekspresi, dan mengedepankan hak asasi manusia (HAM). Tapi hal tersebut hanyalah bualan-bualan, yang nyatanya tetap saja masih banyak orang yang tertindas serta perampasan hak asasinya. Dari sebagian kecil atau sangat kecil rakyatnya. Ini hanya sebuah tulisan atau suara dari seorang gondrongers yang merasa teraniaya atau dianggap berkelakuan buruk padahal tidak melakukan apapun sesuatu yang buruk. JANCOK.

SEKIAN! LALU APA SALAHNYA MENJADI SEORANG GONDRONGERS ???

Sumber : Plukme.com ; Medium.com; Pema-usm.blogspot.com; Suaramahasiswa.com pixabay.com Freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *