Bayangkan sekiranya kau adalah lukisan dari selembar kain putih, seorang wanita tua dengan penuh kesabaran menyulammu dengan tulus keikhlasan, sementara petani tua mulanya menanam kapas dengan penuh kerja keras. Dan kau adalah kebanggan sekaligus kebahagiaan.

Sekarang kau berada di sebuah galeri pameran, tubuh mu terlihat begitu indah dengan rupa lukisan yang terbingkai kayu jati aking berukir. Di sederet pigura baik yang menempel di dinding, atau yang diam di atas kayu penyanggah, mereka semua sama seperti mu. Kau tak sempat berkenalan dengan mereka, namun kalian saling mengenal. Dan kini kalian menjadi pusat perhatian pada gala pertunjukkan akbar, Mahakarya pelukis gila.

Para pengunjung berdatangan memberi tatapan yang beragam; Seorang pemuja menatap mu tajam dalam diam, sambil mengerucutkan dahi. Sementara kau mengintip dari kain pembungkus, dan pengunjung lainya hanya melihatmu dengan cara pandang yang sama, menganggap bahwa kalian hanya lukisan. Sampai tiba ketika sang pemuja itu perlahan menghampiri mu, caranya memberi kesan pertama seolah kalian saling kenal sebelumnya.

***

Dari ratusan pengunjung, ribuan sorot mata yang silih berganti pada pameran tunggal itu, hanya satu yang membuat mu ingin terlihat seperti bintang utama. Caranya memperhatikan mu seolah bercermin, ia mencari hal yang paling indah dari raut mukanya saat menatap mu. Dan kaupun demikian, terlihat dari permukaan kanvasmu yang menegang, guratan lukisan mu yang mengencang, dan bidang permukaanmu semakin jelas menunjukan kontras warna, juga gradasi cahaya yang menyentuhmu. Hingga kaupun tak sabar untuk memerkan dirimu.

Sesaat kau berdo’a, kau berharap supaya ia merupakan pemenang dalam pelelangan nanti. Seorang dengan potongan ideal, juga stelan pakaian yang mewah tentunya tidak keberatan pasang harga tinggi untuk mu. Kau merapal segala mantra-do’a yang sebelumnya kau anggap sebagai upaya sia-sia, cara yang usang juga konyol. Kau menyebut nama-nama yang selama ini kau anggap semu, namun kini kau agungkan dan kau sucikan.

Apa yang membuat mu terlepas dari diri mu yang dulu. Kau orang yang menganggap dunia hanyalah sebagai ruang dagang kreasi seni. Hanya berisi para pelukis oportunis yang memiliki kekuasaan; Kuas, kanvas dan cat hanyalah alat pemenuhan hidup, cuma tentang untung rugi. Sedang orang sepertimu cukup menurut sebagai obyek kreatifitas belaka, demi bertahan hidup. Selebihnya hanya orang-orang kaya yang membeli karya sebagai legalitas status kekayaan saja. Seagai penikmat kehidupan. Namun sekarang tiba-tiba saja kau meniru lukisan tua itu, yang usang.

Sempat suatu ketika lukisan tua itu menyapa mu, saat ia baru dibeli dengan harga diri oleh pelukis mu. Kalian berbincang tak sebanding, kau lebih cenderung acuh tak acuh dan angkuh, sementara lukisan tua itu berbicara dengan teduh. Ia berujar bahwa kehidupan itu seluas kanvas, namun lukisan itu memiliki kehidupan seluas angkasa. Namun kau hanya diam dengan senyum sumbing. Lantas mengapa kau saat ini merenungi perkataan itu?

***

Benar saja, lepas siang ini telah memasuki sesi pelelangan. Kau yang sedari tadi absen dari tawaran langsung, kini masuk pada daftar nominasi lukisan lelang. Kau bersama beberapa lukisan yang sebelumnya disimpan sekarang dipajang pada bidang pertunjukan inti, kau sekarang berdiri gagah pada penyanggah besi yang kokoh. Hanya ada beberapa antara kawanan mu saat ini, mereka yang memiliki nilai tinggi; Lukisan dari pelukis tersohor, Lukisan perang peradaban, Lukisan pemandangan, Lukisan astral, Lukisan usang dan kau sendiri sebagai lukisan angkuh yang menyedihkan.

Saat sesi pelelangan berlangsung, kau terlihat begitu cemas. Pemujamu terlambat datang, namun kau merasa sedikit lega. Sampai hanya kau sendiri sekarang. Kemudian juru lelang memperkenalkan mu dengan menggebu-gebu. Berharap kau laku dengan harga tertinggi kali ini. Dia menjelaskan bahwa diri mu adalah kehidupan bagi sang pelukis. Sehingga ia memasang mu dengan harga dirinya. Sontak para pengunjung tercengang ketika tirai mu di buka.

Kau adalah lukisan yang berbeda. Bingkaimu terbuat dari kayu aking berukir ulir, kanvasmu tebal dari sulaman kapas. Dan bidang permukaan mu penuh dengan corak warna, dan hanya ada satu obyek gambar yang berada tepat di tengah. Sedang kau memiliki gambar utama yang berwarna kontras dari latarnya, Hitam. Kau membawa pesan dari pelukismu, juga memiliki kesan bagi pemuja mu.

Ternyata seluruh pengujung kini adalah pemuja mu. Sekarang kau menyadari bahwa dirimu adalah puncak dari gala, dan kau menjadi bintang utama seperti yang kau harapkan sebelumnya. Saat ini kau adalah lukisan terindah sepanjang sejarah, meski kau hanya lukisan yang berisikan tiga huruf ; A K U.

Baca Juga : Para Pecandu Temu

***

Namun kau berhasil menjadi mahakarya abad ini, semua orang membicarakan mu dengan takjub dan bangga. Sementara sang Pemuja mu kini malah tak memandang mu sama sekali. Kau kecewa, ia membuat mu cemburu karena lebih memilih lukisan tua yang usang. Hingga membuat mu kehilangan rasa, meski kau adalah puncak kegemilangan di atas para bintang pertunjukkan lainya.

Kau adalah lukisan yang terjual dengan harga yang fantastis, bahkan paling mahal dalam sejarah pameran lukisan. Seorang pemilik perusahaan sekaligus pejabat negara membeli mu. Baginya kau adalah perwujudan hidupnya. Otentik, unik, superrior dan mengesankan.

Namun seiring perjalanan waktu, kehidupan terus berkembang dan setiap hari adalah permulaan*. Hanya sampai lima tahun kau terpajang di ruang tamu. Selalu menjadi kebanggan pemilikmu, sebagai jamuan juga tontonan bagi pengunjung istana, juga bagi para tamu kehormatan. Namun sekarang kau berakhir di gudang penyitaan. Hal ini terjadi setelah pemilik mu tertangkap aparat penegak hukum, yang menjadikan mu tersandra pada ruang gelap ini.

Jauh dari kehidupan ramai, kau tergelatak di lantai. Hanya setahun setelah kejadian itu. Debu menyelimuti mu, lumut juga jamur tumbuh di atas permukaan mu. Bahkan serangga-serangga hina menggerayangi mu, dan kau mulai tersambar oleh perasaan rindu akan sepasang orang sepuh. Seorang lelaki tua yang menanam kapas, dan wanita keriput yang menyulam mu dulu.

꧁_________꧂

Refrensi :
*) Puisi William Stafford, Every morning all over again.
pada wingdrove.com

Penulis :
Nasrullah. MK. Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi

About the Author

Nasrullah MK. Al-Chudjazi

Lurah Sekaligus Carik

Om-om "single parent" anak satu yang berprofesi sebagai penggembala aksara, sering disebut sebagai Cah Angon. Karena sering hilang ingatan, saat ini tengah sibuk merawat kesadaranya lewat tulisan.

View All Articles