Ki Manteb Sudarsono dan Ki Seno Nugroho

Sekitar 8 atau 9 bulan lalu yang dipanggil oleh Hyang Manon adalah muridnya Ki Seno Nugroho, sekarang giliran dari sang guru yang menyusul, Ki Manteb Sudarsono. Pamitnya dua dalang satu yang fenomenal dan satu yang merupakan dalang sepuh dari dunia perkeliran ini jujur membuat banyak khalayak sedih. Tak luput juga saya sebagai penikmat seni wayang kulit. Muridnya mempunyai visi dalam dunia perwayangan sangat maju.

Ki Manteb Sudarsono dan Ki Seno Nugroho merupakan Maestro Dalang di dunia wayang kulit. Hubungan mereka adalah guru dan murid. Jika Ki Manteb lebih cenderung menggunakan pakem Surakarta dalam mementaskan wayang, maka Ki Seno mengkreasikan perpaduan dua gagrag (standar -red), yakni Jogjakarta dan surakarta, juga bahasa Limbukan yang sederhana.

Awal Ingatan

Dengan memperkenalkan wayang lebih dekat, Bagongnya yang nakal membuat penikmatnya jatuh cinta. Banyak teman-teman saya setiap malam menikmati pergelaran Ki Seno Nugroho, akan tetapi tidak dengan saya. Waktu itu saya memilih setia dengan lakon wayang yang pakem, sehingga saya belum menikmati pentas beliau ketika masih gesang (hidup). Banyak teman-teman yang baru mengenal wayang dan merasa terhibur, sehingga klepek-klepek dengan banyolan dan keseruan lakon yang apik.

Sialnya, saat saya mencoba menikmati pentas-pentas Ki Seno Nugroho baru berjalan seminggu. Ternyata benar keseruannya membuat gelak tawa penonton, baik secara langsung atau melihat lewat kanal Youtube. Dan saya mulai berselancar menonton setiap malam cuplikan pentas beliau.

Ealah ndilalah la kok dalam hari ke-7 saya menikmati, ada kabar beliau kapundhut (meninggal – Red). Mendengar kabar itu saya sedih. Bagongnya yang keras menyuarakan kegelisahan rakyat kecil sudah tidak ada yang baru lagi. Sobat ngebyar sudah tidak dapat lagi menyaksikan secara langsung pagelaran wayang kulit dari Ki Seno Nugroho, penyajian yang penuh canda tawa dengan sinden-sinden supel.

Pesan Punokowan

Mendengar kabar seorang murid dari Ki Manteb yang kapundhut di saat sedang naik-naiknya, pada puncak karirnya. Rahasia tuhan memang tidak dapat ditebak. Setiap fragmen yang beliau sajikan, pasti ada saja pesan-pesan untuk selalu tidak takut mati. Tidak Tuhan mengambil takut apa-apa yang milikinya, karena itu hanya titipan belaka, bahwa rezeki, jodoh, dan mati itu bisa datang kapan saja sesuai kehendak-Nya. Senada dengan petuah Jawa luhur.

Urip Mung Sa Derma. Apa Kang Diugemi Bakal Kasuwun Bali.
Hidup hanya sebatas. Apa Yang digenggam akan diambil kembali.

Ki ageng Gribig

Ironinya, bahwa pesan itu banyak disampaikan oleh tokoh Bagong ataupun Petruk. Dua saudara anak Semar dari Punokawan dengan lelakon yang pokoknya muncul di Goro-goro (Huru-hara). Mereka semua adalah rakyat jelata yang menyampaikan pesan itu kepada Ratu ataupun tokoh-tokoh Pandhita.

Artinya, jika kita mau bersikap apa adanya dan jujur terhadap diri kita. Pesan apapun yang mulia tidak mengenal kasta dan tatanan, kemudian terlaksana sampai pada akhir hayat beliau.

Sang Maestro

(Ki Manteb Sudarsono sedang memainkan Rahwana/Dasamuka dalam pentas wayang dengan lakon Anoman Obong)

Setelah itu, alasan tulisan ini muncul yaitu berpulangnya sang Maestro guru besar perwayangan, Ki Manteb Sudarsono pada 2 Juli 2021 di Karangpandan, Karanganyar. Pria sepuh kelahiran Sukoharjo ini terkenal dengan sabetannya atau seni perang wayangnya. Itu adalah hasil kerja keras dan turunan dari sang legendaris, Ki Narto Sabdo.

Saya menikmati pentas Ki Manteb dengan khidmat, utamanya saat tokoh Anoman muncul saat perang untuk membantu Rama merebut Shinta dari Rahwana. Ataupun dengan berbagai adegan yang ekspresif dalam wayang berjalan, menari, menangis, tertawa, dan segala gerakan wayangnya. Meskipun dengan suara akhir yang cukup engap, karena faktor usia, beliau tetap semangat menyajikan lakon-lakon yang menyejukan mata dan telinga.

Ikonik iklan salah satu obat sakit kepala dari 1996-2021, dengan semboyan ‘pancen oye!’ adalah beliau ini. Siapa yang tidak kenal dalang tersohor ini. Iklan TV dan pentasnya yang dulu sering mendapat ruang di TVRI dan Indosiar zaman dulu. Meskipun hanya beberapa jam, menemani malam bapak dan saya dalam menikmati kesehatan televisi kala itu.

Puncak karirnya memang sudah terlewat, tapi beliau lah cerminan dan tolak ukur pedalangan sampai wafatnya beliau saat ini. Dan dalang mulyo salah satunya beliau, punya turunan murid yang mewarisi ilmunya. Keberlimpahan ilmu, anak ideologis, dan mungkin harta mencerminkan kamulyan beliau.

Prestasi dan Ingatan

Dalang bergaya surakartan ini memiliki banyak prestasi, salah satunya dengan memecahkan rekor MURI mendhalang dengan waktu 24 jam non-stop di Semarang. Tak hanya itu, salah satu murid dari Mbah Darman Gondodarsono (ahli sabet), adalah satu-satunya dalang yang wayangan rutin di Jakarta setiap bulan selama satu tahun penuh dengan lakon Banjaran Bima (kisah bima). Karir gemilang itu saya kira akan berulang kembali, entah ke muridnya yang mana. Atau siapapun yang kewahyuan.

Romantisme guru dan murid tercermin di hubungan Ki Manteb dan Ki Seno. Awalnya Ki Seno tidak mau mendhalang walaupun beliau adalah anak dalang terkenal di Yogyakarta. Namun dengan bujukan Ki Manteb yang bersedia untuk melatihnya sendiri secara langsung, membuat Seno muda berubah pikiran. Apalagi dengan kobaran kata-kata, “anak dalang kok ora ndalang, anak dalang kudu dadi dalang, sik arep neruske kiprah seni ne dalang terus sapa”, membuat Seno semakin mantap untuk mendhalang.

Gurunya yaitu Ki Manteb dengan gaya Surakartan tidak menuntut muridnya untuk menirunya. Beliau membebaskan muridnya sesuai dengan karkter yang dia yakini. Setiap pentas Ki Manteb yang disaksikannya, ia diminta untuk mengambil nilai-nilai yang ia butuhkan untuk bekal di pakeliran. Sampai ini, lahirlah dalang Seno yang keluar dari kawah candradimuka dengan segala kelengkapannya. Sepeninggalnya Ki Seno, anak-anaknya yang meneruskan untuk menjadi dalang diangkat murid oleh Ki Manteb dan beliau bersedia mengajarinya sendiri di Karangpandan. Namun sebelum cita-cita beliau tuntas dan anak dari muridnya itu mentas, Tuhan mempunyai kehendak lain. Begitu romantisnya guru dan murid ini sampai hari-hari terakhirnya.

Cindera Pamungkas

Semoga berpulangnya sang maestro yang didahului murid salah satu murid kesayangannya dengan keharuan yang mendalam ini, akan muncul bibit-bibit luar biasa dalam dunia perwayangan. Saya sebagai penikmat wayang akan selalu menunggu.

Kiprah suatu seniman adalah kebebasan dalam bereksplorasi. Kebebasan yang hakiki adalah menemukan batasan. Batasan dalam kebebasan berseni dari guru dan murid tersebut adalah kematian.

Untuk melanggengkan mereka yang sudah mengadap Tuhannya adalah dengan selalu menghidupkan kenangan dan ingatan, yaitu dengan selalu dan terus menceritakannya. Suwargo langgeng, sugeng tindak.

__________________________

Penulis :
Tri Raharjo
Twitter : @TRhrjo

Editor :
Nasrullah. MK. Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi