Kisah Pencari Kejelasan

Kisah Pencari Kejelasan

“Aku tak ingin patah,

tapi kau pintaku begitu

Aku ingin bertumbuh,

kau larang juga

Aku ingin punya makna lagi, kau bilang jangan”

Para Pencari Kejelasan

Sudah kesekian kalinya aku membaca puisi yang kubuat beberapa jam lalu. Puisi ketujuh yang kutulis malam ini, setelah lelah menangis sejak sore tadi. Sejujurnya aku merasa bangga ketika lancar menulis dalam keadaan yang tidak bisa dibilang baik. Siapa yang akan baik-baik saja setelah putus dengan seorang kekasih?

Para Pencari Kejelasan

***

Para Pencari Kejelasan

“Sepertinya kita sudah tidak satu pemikiran lagi Rif,” akhirnya ia buka suara, setelah diam beberapa saat pasca kutanyakan mengapa ia mengabaikan pesanku empat hari berturut-turut.

Kali ini aku yang diam, tak tahu harus menanggapi apa. Bukan, bukan kata-kata itu yang aku harapkan keluar dari mulutnya. Harusnya ia meminta maaf dan memberikan penjelasan yang rasional, bukan?

“Nggak satu pemikiran gimana maksudnya Di?,” tanyaku heran. Ia terlihat resah, tak seperti Radi yang kukenal dua tahun lalu belakangan. Kurasa satu setengah tahun berpacaran juga bukan waktu yang singkat untuk saling memahami sifat masing-masing.

“Aku sebentar lagi lulus, setelah itu kerja. Waktuku mungkin takkan cukup untuk sekadar keluar denganmu Rif,” jelasnya dengan raut sedih. Dahiku berkerut, tetes demi tetes air mata berjatuhan begitu saja dari wajahnya, sementara aku masih memasang wajah bingung dan berpikir keras.

Ia menjelaskan beberapa hal setelahnya, namun sayang aku masih belum memahami setiap alasannya. Kata-kata yang ia lontarkan hanya masuk dan langsung keluar dari telingaku.

“Intinya apa Radi? Tolong jangan berputar-putar, aku bingung,” tegasku, lalu ia menghela nafas dan mengambil jeda beberapa detik.

“Sebaiknya kita kembali jadi teman aja Rif,”

***
Butterflies: The Ultimate Symbol Freedom (https://www.theodysseyonline.com/butterflies-ultimate-symbol-freedom)

Hidup itu bukan hanya persoalan asmara Rif, lagipula hidup juga cuma sementara, masa mau sih diam di tempat terus?”

Pikiranku

Aku ulang lagi kata-kata yang kubuat sendiri itu. Hidup hanya sementara, jangan diam di tempat terus. Hidup hanya sementara, jangan diam ditempat terus.

Beberapa hari belakangan aku lebih sering berdiam diri, masih mencoba memproses percakapan terakhirku dengan Radi. Perasaanku kesal dan belum puas dengan penjelasan yang ia sampaikan padaku. Masa iya tiba-tiba saja minta putus, padahal tidak ada konflik yang terjadi sebelumnya? Sungguh tidak adil bagiku.

Kucoba mengeliminasi berbagai alasan yang rasional. Seperti misalnya mungkin ia bosan denganku, tapi menurutku jika bosan, berpisah bukanlah jalan keluar.  Atau ia tertarik dengan perempuan lain? Ini mungkin saja terjadi, tapi masa iya?

Sial, pikiranku benar-benar keruh. Satu-satunya jalan yang tepat adalah bertemu dengannya lagi.

Ya, aku harus memaksa dia untuk menjelaskan alasan yang sebenar-benarnya. Aku tidak bisa menerima kalau keadaannya terus begini, aku punya pendirian dan harus tegas. Diputuskan dengan cara begini membuat harga diriku seperti diinjak-injak. Kuputuskan untuk menelepon Radi saat itu juga.

“Besok pagi aku mau ke kostmu, kita bicara sekali lagi untuk menyelesaikan semuanya,“ ucapku tegas, sementara diujung telepon tidak terdengar suara sama sekali.

Radi memilih untuk tidak menjawab, tapi tekadku sudah bulat. Kuputuskan sambungan telepon tanpa menerima respon apapun. Kuharap esok pagi semuanya akan menjadi jelas dan selesai.

Kisah Pencari Kejelasan

Kisah Pencari Kejelasan

Penulis:
Orenji

Tagged in:

, ,