Kucing dan Tikus adalah Ancaman

Apakah kalian pernah membayangkan perang hewan dalam skala besar akan benar- benar terjadi ? Memang selama ini umat manusia belum melihat dan mengalaminya. Namun kalian mesti waspada bahwa hewan-hewan di sekitar lingkungan kita berpotensi besar menggulingkan umat manusia layaknya buku Animal Farm karya George Orwell. Lantas bagaimana bila kucing dan tikus adalah ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia?

Bagaimana Teror Kucing yang Sebenarnya

Siapa sangka kucing hewan peliharaan kita yang lucu dan imut sangat berpotensi menjadi ancaman alam dan lingkungan, tak terkecuali umat manusia. Overpopulasi kucing adalah penyebabnya. Banyak dari kita memelihara kucing dan dibiarkan berkeliaran di sekitar lingkungan rumah kita entah itu di gang dan perkampungan.

Secara alamiah, kucing akan memasuki masa birahinya dan otomatis mereka akan mencari pasangan dan kawin dengan kucing kucing tetangga kita yang dibiarkan liar juga. Seketika mereka hamil kemudian melahirkan, tak banyak dari kita yang mau merawat anak anak kucing ini, dan melepaskan mereka begitu saja. Hewan-hewan ini akan tinggal di tempat-tempat yang kumuh dan makan makanan yang tidak bersih, masih mentah, atau bahkan mencari makan di tempat sampah. Hal inilah yang memicu hewan-hewan liar terserang berbagai penyakit yang mana dapat ditularkan pada manusia.

Ibu kota kita Kota Jakarta, memiliki data jumlah kucing yang fantastis. Menurut laporan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Jakarta Timur memperkirakan pada akhir 2021 jumlahnya kucing akan  meningkat menjadi 2.861.326 ekor1.

Dr.rer.Nat. Marselina Irasonia Tan da Chairani Chusnia, S.Si seorang ahli perkembangan hewan dan sains ITB menjelaskan bahwa Jumlah populasi kucing liar yang berkeliaran yang terlalu banyak di lingkungan aktivitas manusia dapat menimbulkan berbagai masalah. Permasalahan kesehatan masyarakat dan penyakit zoonotic (penyakit yang dapat menyebar dari hewan ke manusia), penyebaran penyakit ke kucing peliharaan, gangguan terhadap publik, gangguan ekosistem, dan kesehatan kucing liar itu sendiri2.

Sependek logika saya juga bahwa kucing pada dasarnya hewan karnivora. Ketika populasi mereka meledak dan  makanan mereka benar benar habis, satwa endemik dan beberapa hewan terdekatnya  bukan tidak mungkin mereka akana memangsanya. Tidak segan-segan pula mereka memangsa umat manusia. Wih Ngeri

Strategi Tikus dan Proyek Kelaparan Umat Manusia

Dengan overpopulasinya kucing, apakah membuat jumlah tikus sedikit ? Memang tikus sendiri memiliki musuh alami yakni kucing, layaknya serial Tom and Jerry. Mungin dari kalian juga sering menjumpai kucing kalian pulang-pulang sambil ngegigit tikus. Dimana kucing rumah kita akan sangat gesit jika mereka memburu tikus yang berkeliaran.

Namun jangan salah sangka menurut laporan National Geographic akibat perubahan iklim yang melanda bumi, kenaikan suhu global sebesar 2 derajat celcius pada akhir abad ini. Peningkatan suhu tersebut rupanya memberikan kondisi perkembanganbiakkan yang paling subur bagi tikustikus. Sehingga menyebabkan hewan pengerat seperti tikus memiliki masa kehamilan yang sangat cepat, yaitu hanya selama 14 hari saja. Tikus juga hanya membutuhkan waktu satu bulan setelah lahir untuk bereproduksi. Itu artinya, satu tikus yang hamil bisa menghasilkan 15.000 hingga 18.000 tikus baru dalam waktu kurang dari satu tahun3.

Kucing yang lucu dan imut-imut aja bisa menularkan penyakit, apalagi tikus mylov. Namun tidak cukup sampai situ saja ancaman tikus yang sebenarnya. Saya sendiri seorang mahasiswa pertanian, yangmana sewaktu mendapat mata kuliah dasar perlindungan tanaman dijelaskan bahwa serangan  hama tikus sendiri mampu merusak 80% tanaman padi satu petak sawah dalam satu malam. Bayangkan saja mylov, tidak saja menularkan penyakit tikus ini juga menyerang sumber makanan umat manusia. Bahkan katanya tikus ini juga dapat mempercepat kiamat4.

 Baca juga : Sepak Bola Tarkam

Perang Besar yang Menunggu Waktu

Ketika populasi kucing dan tikus tidak terkontrol dan semakin meledak lantas apa yang terjadi? Saya membayangkan keduanya akan berperang untuk mempertahankan populasinya, ya mirip-mirip film War of Planet Apes-lah atau nggak Civil War-nya Marvel.  Keduanya akan saling serang dan menjarah dan menguasai rumah-rumah manusia. Sementara kita sibuk mencari perlindungan.

Sebenarnya banyak cara untuk mengendalikan populasi mereka, khususnya kucing. Salah satunya adalah melakukan sterilisasi yakni proses pengangkatan organ reproduksi kucing, sederhanya dikebiri atau dimandulkan. Namun sterilisasi sendiri banyak menuai pro-kontra, entah dibilang menyalahi kodratlah, menyiksa kucing, tidak etis, dan berbagai macam alasan warga +62.

 

Refrensi :

  1. https://kumparan.com/kumparannews/menerka-jumlah-kucing-di-jakarta-hingga-tahun-2021-1547206689104270805/full
  2. https://sith.itb.ac.id/id/pengendalian-populasi-kucing-di-sekitar-kampus-itb-ganesa/
  3. https://nationalgeographic.grid.id/read/13992069/akibat-perubahan-iklim-populasi-tikus-meningkat-sepuluh-kali-lipat
  4. https://sediksi.com/opini/populasi-tikus-dan-percepatan-kiamat/
  5. Gambar : https://www.wallpaperbetter.com/id/hd-wallpaper-zidlb/download

About the Author

Wikan Agung Nugroho

Mahasiswa Jelata (Jelang Lima Tahun), sedang bercita-cita jadi bulan yang tak kuasa ditelan fajar, dan juga seorang pria yang sudah ahli dalam perkara mencintai tanpa harus memiliki

View All Articles