Pada Setitik Embun Itu

Pada setititk embun yang menguap itu;
Ada sebutir rasa yang tak lantas membeku,
tentang rindu yang dingin,
dan jiwa yang dibelai angin.

Pada kabut yang menyemai pagi itu;
Adalah kenangan yang diperingati,
oleh mimpi yang memeluk tidurnya sendiri,
sementara malam kian berlalu.

Pada suara yang memcah sepi itu;
Merupakan kidung yang bersenandung,
tentang senandika semesta yang merindu,
menjadi lembayung penghias mendung.

Pada lena peristirahatan jenak itu;
Seketika aku jatuh pada perasaan resah,
tentang angan dan ingin yang tak berarah,
tentang hidup yang seharusnya berserah.

Prihal waktu yang semakin menjadi ilusi,
ia tetap saja seperti rantai besi,
bahkan kayu kuk yang membelenggu kaki,
sedang Aku tetap saja meringkuk sepi.

Mawar Pelangi Pagi

Puan, kiranya aku adalah tangkai berduri!,
maka engkaulah mawar yang berseri.
Jika kau ingin mahkotamu merekah indah,
maka janganlah kau, patahkan aku begitu saja.

Bila kau adalah cahaya pagi,
maka biarlah embun menari diudara,
melepas diri dengan suka cita,
dan menguap menjadi setitik pelangi, dipagi hari.

Semoga kau tidak buta warna.

Nasrullah. MK Al-Chudjazi

Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi
Facebook : @al.chudjazi

About the Author

Nasrullah MK. Al-Chudjazi

Lurah Sekaligus Carik

Om-om "single parent" anak satu yang berprofesi sebagai penggembala aksara, sering disebut sebagai Cah Angon. Karena sering hilang ingatan, saat ini tengah sibuk merawat kesadaranya lewat tulisan.

View All Articles