Perjalanan Gilang Yang Hilang- Malam itu Gilang terburu-buru, mengendari motor Honda Tiger melaju kencang menuju kota Batu. Dengan perawakan yang idealnya mengendari Honda Beat, ia trengginas mengendalikan motor dengan kecepatan rata-rata 90 KM per jam. Ia memotong jalur, menghindari kemacetan Kota Malang. Dari Kepanjen ia menerabas jalur pegunungan. Meskipun ia belum pernah lewat jalur ini, ia nekad hanya berbekal panduan Google Maps.

Ketika Ia berhenti mengisi bahan bakar di SPBU Kepanjen. Di sela antrian, ponselnya berdering. Namun Ia membiarkannya. Setelah ia mengisi full tangki bensinya, ia menjauh dari area Pom untuk memeriksa ponsel. Di layarnya menampilkan Pukul 19.57 WIB, Suhu 270 C, Kepanjen – Kabupaten Malang. Pada bilah notifikasi telah ada: 7 Panggilan masuk, 16 Whatsapp Call dan Spam ChatP”. Ia mengerutu, mengabaikan pemberitahuan tersebut, dan mulai menjalankan fungsi rute GPS. Kemudian Ia memasang handsfree, mengenakan helm mengencangkan tas ransel, dan menaikkan risleting jaket gunung yang tebal. Selanjutnya ia menekan doube starter, menyalakan mesin motor dan melaju selayaknya kurir yang terlambat.

Kondisi jalan raya nampak ramai, terlebih pada waktu itu adalah musim giling pabrik Gula Kebon Agung. Arak-arak truk besar bermuatan penuh oleh tebu, membuat jalanan semakin padat dan lambat. Di pertigaan Jalibar (Jalur lintas Barat) ia memutuskan belok kiri, mengambil arah Gunung Kawi, Ngajum. Selanjutnya perjalanan gilang malam itu tercatat waktu sebagai berikut.

20.47

Setelah ia melewati hutan dengan medan tempuh yang terjal (naik–turun) berliku, juga beberapa jembatan, Ia memperlambat laju motornya. Udara malam yang dingin membuatnya ingin merokok. Namun ia belum menemukan tempat yang tepat. Saat ini ia berada di jalan yang kecil, hanya cukup satu kendaraan roda empat. Sebelah kanan jurang dan sebelah kiri tebing, penuh dengan belokan.

Sampai ketika ia melewati sebuah gapura kayu, tabal batas desa yang tak lagi jelas tulisannya. Kemudian ia menghentikan motornya dan membuka ponsel. Di bar atas ponselnya menunujukan ketiadaan sinyal, Ia sudah menduga sebelumnya. Narrator GPS sudah tak terdengar ketika memasuki perkampungan, namun dari layar ia melihat bahwa jarak tujuannya hanya sekitar seratus meter lagi. Ia berusaha mencari jalur, namun ketika ia perbesar tampilan peta namundaya ponselnya lemah, hanya tinggal 7 persen. Kemudiania mematikan layar ponsel dan memasukannya pada saku jaket.

Kemudian merogoh saku jaket, mengambil sebatang rokok dan meyalakannya. Sadar akan tersesat, alih alih putar haluan. Ia justru melanjutkan perjalanan, dan berharap bertemu dengan warga untuk meminta petunjuk arah.

Namun kini telinganya berdenging, kepalanya pusing, dan perutnya mual. Ia mencium aroma yang sama sekali berbeda, semerbak aneka bunga juga anyir bau darah bercampur. Ia mengalami keterasingan diri malam itu. Diantara senyapnya pemukiman, ia mendengar gending-gending gamelan dengan jelas. Namun ia mencoba tetap tenang dengan menikmati sebatang rokok dan meneruskan perjalanan.

20.51

Perlahan ia mengendarai motornya dengan perasaan was-was, kemudian ia menepi, membiarkan motornya tetap menyala dan melihat jam tangan. Secara saksama ia memperhatikan kondisi jalan kampung itu. Hanya ada hutan tanpa lampu, namun dari kejauhan nampak jelas cahaya gemerlap. Ia merasa lega, menurutnya cahaya itu adalah lampu penginpan, tempat wisata yang tumbuh menjamur di Kota Wisata Batu, atau setidaknya lampu rumah warga sekitar.

Ia menekan kopling, menginjak persenoling. Namun sianya motornya mendadak mati, ia mencoba menghidupkan kembali, namun gagal menyala. Ketika kunci dalam posisi on, lampu motornya tetap padam. Gilang memriksa tangki bensin, kondisi aki dan kabel kelistrikan. Namun semuanya normal, tangki bensin pun lebih dari separoh terisi.

Ia menuntun motornya, pada jalanan turun ia menungganginya. Sampai memasuki perkampungan, dan sudah terlihat rumah warga. Ia memastikan ada orang yang dapat dimintai bantuan, dan hasilnya nihil. Semua rumah yang dilaluinya terlihat tak ada kehidupan, jalanan desa pun tampak sepi. Ia memperhatikan rumah-rumah di kanan-kiri jalan begitu suram, tak ada cahaya lampu. Apa mungkin tak ada listrik disini? Guamamnya.

Ia terus mengendalikan motor mati, yang berjalan turun. tepat dihadapannya ia melihat ada keramaian, di sebrang pertigaan tusuk sate. Ia merasa gembira, akhirnya menemui harapan. Ia melepas rem dan sesekali memanjat tanah, mempercepat laju motornya. Ia berharap segera mendapatkan bengkel dan segera bisa menghadiri pertemuan meski tidak tepat waktu.

21.13

Keramaian itu berada di tanah lapang, sedang berlangsung pertunjukan jaranan, caplokan dan bantengan, tarian kesenian. Kemudian ia menghampiri penjual kacang rebus yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan, namun dia penduduk desa ini. Gilang beranjak mencari anak muda lokal, yang menurutnya pasti bisa membantunya.

Namun dari penuturan pemuda desa yang ia jumpai, tiada bengkel di perkampungan ini. Setelah ia menjelaskan motornya perlu diperbaiki dan ia sedang terburu-buru. lantas pemuda itu menyarankan untuk mengikutinya, dan memarkir kendaraannya di tepi jalan.

Gilang menurut dan mengikuti pemuda itu. Mereka kini berada di kerumunan, pemuda itu memperkenalkan gilang pada Kang Karso. Setelah berkenalan dan meminta tolong, Gilang mengajak mereka berdua ke tepi jalan, sebelah penjual kacang rebus di pinggir jalan, tempat motornya parkir. Selagi Kang Karso memeriksa motornya, gilang bercerita tentang kronologi kejadiannya. Kang Karso-pun hanya mengangguk dan mulai memperbaiki, sementara Gilang memesan tiga porsi kacang rebus.

Pemuda itu menemani gilang, mereka menikmati kacang rebus dan berbagi rokok. Pemuda itu bernama Kacung. Ia berusia dua puluh tujuh tahun, dan hidup di sanggar budaya desanya. Kacung menjelaskan, bahwa malam ini ada Nyadran yang di selenggarakan setiap Malam jum’at legi pertama bulan suro. Mereka pun berbincang, bertukar cerita dan sesekali bercanda.

21.42

Gilang mulai gusar, ia melihat jam tangan. Setidaknya setengah jam ia disini, dan hampir satu jam ia tersesat. Kacung yang menangkap kegelisahannya mencoba menghibur. Terangnya ia sudah memasuki Kota Batu, dan lokasinya dan tujuannya sudah sangat dekat. Kacung memberi candaan, katanya Kang karso adalah orang yang handal dalam memperbaiki, asalkan Gilang tak memanggil nama lengkapnya. Gilang tersenyum heran, dan mengangkat kedua alisnya. Kacung menjelaskan nama lengkap Kang Karso, adalah  Karsosangli. Gilang makin terkocok perutnya, sekarang ia terkekeh.

Entah karena kacung yang membawakan dengan tertawa, namun nama Karsosangli memang terdengar lucu bagi Gilang. Secara spontan ia bertanya pada Kang Karso, seolah mencari penegasan. Kang Karso berdiri, dengan mata mendelik menimpali dengan nada yang sengaja ditinggikan, ia menjabarkan namanya sendiri; Karsosangli. Bongkar iso, Masang Lali*. Mereka semua tertawa, tak terkecuali bapak tua penjual kacang rebus.

Rupanya motor Gilang sudah menyala, menurut kang Karso hanya kuncinya saja yang tidak terpasang dengan baik. Mereka semakin terbahak-bahak, menertawakan Gilang yang hanya tercengang. Setelah itu gilang mengambil dompet, membayar kacang rebus dan mengambil uang lima puluh ribuan. Namun kang Karso yang mengetahui gelagatnya, menyergah. Kang Karso menolak, ia hanya menngambil sebatang rokok.

Gilang mengucapkan terimakasih pada Kacung, Kang Karso dan Penjual kacang rebus. Ia berpamitan dengan mereka, dan meninggalkan rokok Surya Pro Merah yang hanya tinggal 6 Batang. Sebelum Gilang berangkat Penjual kacang rebus menunjukan arah jalan, dan berpesan.

20.48

Setelah berbalik arah dari lokasi tadi, Gilang mengambil gang kecil setelah pertigaan sesuai dengan petunjuk arah penjual kacang rebus. Di gapura kayu yang serupa dengan di temuinya tadi, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia memeriksanya, namun panggilan tak sempat ia jawab. Sebelum ia menelepon balik kekasihnya, ia mencermati layar ponselnya dengan seksama. Di layarnya menampilkan Pukul 20.47 WIB, Suhu 180 C, Kota Batu. Dan daya ponsel berwarna hijau denagn daya 73 persen.

Gilang tertegun, mengedar pandangan ke sekian arah. Ia membuka helm, suara irama gamelan dan riuh kerumaunan tadi seketika lenyap. Ia menghirup hawa dingin, bulu kuduknya berdiri. Ia sejenak menepi, memarkir motornya kembali. Ia berjalan berbalik arah, melihat jalan utama dan mengintip keramaian di sudut pertigaan tadi. Namun kondisinya ia rasa begitu lain, jalan yang relatif mulus tadi ternyata tanah liat, pun tak sebesar tadi. Ia menyadari bahwa perkampungan yang ia lewati hanyalah rimbunan pohon dan belukar. Sementara tanah lapang yang ramai akan pertunjukan kesenian itu adalah Pemakaman. Perjalanan gilang malam itu begitu terasa aneh memang.

Gilang membisu, kakinya terpaku. Lamat-lamat dari kejauhan suara-suara itu terdengar lirih, ia makin menegang. Diantara rasa takut dan bingung, alam sadarnya dihentak oleh nada dering panggilan masuk. Kini ia tercerabut dari kesunyian yang dingin, ia mengambil ponsel, menjawab panggilan dan berjalan kearah motornya. Ia hanya memastikan sebentar lagi sampai, tanpa basa- basi ia melanjutkan perjalanan, segera.

20.58

Tiara, Andi, Sas, dan Teguh telah menunggunya di rooftop Alpines Hotel. Tiara ngomel karena hampir saja terlambat. Sementara Andi heran bagaiman gilang bisa sampai hanya dalam hampir setengah jam, padahal dalam keadaan lancar perjalanan biasanya sampai tiga jam bahkan lebih. Gilang yang ragu menceritakan perjalanan malam itu, hanya menimpalinya dengan candaan congkak. Ia menunda ceritanya, dan hanya memberi isyarat pada Sas. Bahwa ia menggunakan Mode Senin.

Sas yang memahami, hanya berucap bahwa gilang berhutang lagi kali ini. Gilang tersenyum, memperbaiki posisi sandaran duduknya. Kemudian ia menanyakan persiapan kali ini, ia menghidu secangkir kopi, dan menyeruputnya. Kopi itu masih panas, Tiara yang memesannya. Ia merogoh saku jaket, dan kembali di kagetkan oleh satu pak rokok tadi. Ia mulai membukanya, mengambilnya sebatang. Ia meraih korek dari Andi, membakar rokoknya yang terselip di bibirnya.

Mereka semua nampak bersiap-siap, countdown telah menunjukan angka 20 detik lagi. Kini mereka telah fokus memperhatikan layar ponsel masing-masing, kedua tangan bersedia menunggu hitungan mundur battle match Mobile Legend. Gilang kembali diam, urat syarafnya menegang. Matanya hampir tercongkel keluar, ketika melihat nama Squad lawan, ParadeNyadran. Dan nama para pemainya adalah: Hylos_Kepang, KacungNatalia, BakoelKacang, KarsoShang_Lee, dan Banteng A.K.A Mino.

____________

Perjalanan Gilang

* Bongakr iso, masang lali (Jw) Maksudnya : Bisa membongkar, tapi lupa cara memasang kembali.

Source Gambar:
Pixabay.com

About the Author

Nasrullah MK. Al-Chudjazi

Lurah Sekaligus Carik

Om-om "single parent" anak satu yang berprofesi sebagai penggembala aksara, sering disebut sebagai Cah Angon. Karena sering hilang ingatan, saat ini tengah sibuk merawat kesadaranya lewat tulisan.

View All Articles