Suatu ketika perjalanan mungkin akan terasa biasa saja, atau bahkan mungkin saja mengandung momen yang sakral. Perpindahan akan menghasilkan sesuatu hal yang baru. Baik dalam hal prespektif, kearifan, pengalaman bahkan perpindahan alam.

Kenikmatan semuanya itu sering tertutup debu berupa rasa letih, biaya, perubahan waktu istirahat. Namun, percayalah semua keluhan tentang perjalananmu tidak akan menghasilkan apapun, kecuali penyesalan. Karena paket lengkap dari perpindahan adalah lelah itu sendiri. Menikmati akan lebih baik.

Lalu melanjutkan perjalanan adalah termin yang harus dilalui hingga garis finis capainya. Karena itu adalah kelengkapan dari suatu proses perpindahan. Terlebih jika proses menata dan memanajem diri sedang tidak stabil. Itu hal yang ku dapat dan mampu ku ingat sedikit. Mungkin selanjutnya setelah ini.

Lantas, aku selalu menemui hal baru ketika melakukan hal itu. Seakan-akan aku menjadi lebih berani. Terlebih aku merasa dilahirkan kembali.

Pelan aku meninggalkan langkah dari rumah, sedih perasaaan dan pikirku. Kaki menjadi berat, namun apadaya untuk menyelesaikan tanggung jawab belajar di jauh sana, mau tidak harus berangkat. Sekali dua, momen haru memang menguji, kadang baru 100 km dari rumah, hal-hal haru tiba-tiba datang. Dan terpaksa aku harus menyeka air yang keluar dari mata. Tak apa. Memang hal baru bisa didapat dengan mengorbankan atau menunda suatu hal lama, pertemuan misalnya.

Motor supra juga terus melaju. Kelahiran baru pun juga terus terjadi. Aku jadi tahu ini dan itu. Menjadi tahu jalan, lorong sempit, orang berumah di jalanan, jembatan besar, sungai dengan sejarah panjang di Jawa Timur. Ah, indahnya pikiran dan bayanganku dulu perlahan sudah bisa ku cicil hutangnya. Meskipun aku hanya dulu mengetahuinya lewat visual gambar, sekarang aku berkesempatan menyaksikannya. Sadar dan diingatkan, bahwa kelahiran taruhannya adalah keselamatan, nyawa. Tak heran memang ketika aku berpamitan, kata yang tak pernah ucul sama sekali adalah “nyangoni slamet” atau “ku beri bekal berupa keselamatan”.

***

Katanya dulu, kuat saja jika tidak selamat adalah sia-sia. Punya apa-apa namun tidak selamat juga tiada guna. Aku rasa memang indah dan begitu mendalam kalimat-kalimat purba itu.

Lalu dalam diampun sering kita melakukan perjalanan. Baik berdasarkan pengalaman ataupun dunia ide. Semuanya benar dan melengkapi, karena tidak sedang membahas antara lahir ide terlebih dahulu atau pengalaman dahulu. Perjalanan dalam diam sungguh begitu mengasyikan. Kita dapat menciptakan hal bebas apa yang kita mau. Menuju kemana saja. Atau mungkin menjadi siapa saja. Hal itu membuat diri terstimulus daya imajinatifnya dan berlatih. Namun, hakikatnya sama, tujuanlah yang membedakan. Dia akan tersesat hilang atau kembali lagi menjalani hidup untuk tujuan berikutnya.

Seperti itu, tujuan perjalananku menurutku adalah kembali ke keluarga sebagai rumah asal. Walaupun bagiku semua perjalananku adalah rumah, namun rumah awal adalah tujuan. Lalu menghijaukan rumput dan bunga-bunga yang mewangi. Tidak lagi milik tetangga yang lebih hijau atau indah. Selamat melaju di roda 2, 4, 8 atau di bopongan orang-orang pada perjalananmu. Perjalanan memang gelap, layaknya remang, bahkan sampai mati lampu. Namun semua itu yang menantang dan menjadikan lebih hidup. Maka aku izin diri untuk bergerak, berpindah, dan kembali.

 

Sumber Gambar : pixabay.com

About the Author

Tri Raharjo

Pria 173 cm, strawberry menjadi buah favorit, dan teman yang baik meski suka gajelas

View All Articles