Di masa PPKM Level 4 ini, melihat data tingginya serangan Covid-19 di Indonesia membuat saya bertanya-tanya, ternyata virus ini rata-rata menyerang kalangan menengah keatas yang tinggal di kota. Sekiranya ada beberapa alasan mengapa trend penyebaran Covid-19 di desa lebih baik daripada di kota. Dalam tulisan ini saya akan mengambil studi kasus di desa saya yang terletak di Kabupaten Malang.

Terlebih dahulu perlu digarisbawahi, sependek pengetahuan saya hingga saat ini belum ditemukan obat yang benar-benar ampuh menyembuhkan serangan Covid-19. Karena sejatinya virus ini nantinya akan dibunuh oleh antibodi dan sistem imun tubuh kita ( halodoc.com1 ).  Jika imun tubuhnya kuat, virus masuk akan langsung kelar. Nah, bagaimana membangun sitem imun dan antibodi yang kuat bisa kalian cari sendiri. Namun menurut penelitian dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID2) orang-orang  yang terbiasa terkena penyakit flu, demam, batuk, dan beberapa penyakit yang disebabkan virus akan lebih tahan terhadap serangan Covid-19. Hal ini karena antibodi dalam tubuh orang tersebut sudah terbentuk kuat dan sudah terbiasa berpaparan dengan virus. Inilah mengapa seorang kuli bangunan di desa saya jika kena masuk angin, cukup kerokan aja tahu-tahu pagi harinya sudah sembuh. Semakin sering dia terkena penyakit, antibodi tubuhnya akan semakin terbentuk, sehingga Covid-19 akan kelar sendiri boss.

***

Sekarang kita bahas lebih mendetail. Di masa PPKM masyarakat desa saya khususnya yang bermata pencaharian di lapangan seperti petani, pengerajin batu bata, pedagang pasar, kuli bangunan, kuli panggul, dan lain-lain memiliki sistem imun yang kuat. Kenapa bisa begitu? Bayangkan saja sebagai petani di sawah yang tubuhnya sudah terbiasa dengan panas matahari berjam-jam lamanya, belum lagi nanti kehujanan. Kemudian seorang kuli batu bata, mereka bekerja mulai pagi hingga dini hari dengan mencari dan menggali tanah liat lalu mencetaknya. Kemudian malam harinya mereka membakar batu bata agar kering sempurna. Betapa kuat tubuh mereka karena sudah terbiasa dengan berbagai macam tantangan sehingga membentuk antibodi yang tangguh.

Di sinilah perbedaanya mylov, mengapa orang-orang positif Covid-19 rata-rata adalah kalangan menengah ke atas, khususnya cluster perkantoran? Sekarang kita lihat, bagaimana mereka bisa membentuk antibodi yang kuat jika setiap harinya mereka bekerja mulai pagi hingga sore hanya dengan menghadap komputer di bawah ruangan ber-AC, syukur syukur kena matahari. Kemudian lebih sering makan fast food, walaupun tidak semuanya. Ketika Covid-19 datang antibodinya akan lemah dan kalah, sehingga akan menujukan hasil positif. Inilah mengapa cluster perkantoran di kota-kota besar sangat chaos.

Meanwhile di desa saya kasus meninggal karena Covid-19 tidak menyentuh angka belasan. Dalam aktivitas sehari-haripun di desa saya, ada tidaknya Covid-19 tidak berpengaruh besar bagi para pekerja di lapangan, kecuali pada sektor pendidikan meskipun di masa PPKM.  Hal ini bukan karena mereka mematuhi protokol kesehatan yang ketat, yang pakai masker sedikit. Cuci tangan menggunakan hand sanitizer apalagi, mereka hanya cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Salat Jum’at pun juga masih tetap terlaksana seperti biasa. Bahkan sosialisasi vaksin di desa saya belum pernah terjadi, mereka mendapatkan informasi vaksin hanya dari TV.  Bukannya mereka tidak percaya Covid-19, mungkin saja tubuhnya sudah terbiasa kerja kasar sehingga virus tersebut terlihat seperti biasa saja.

***

Inilah mengapa orang gila juga tahan terhadap Covid-19, lha wong sampah aja mereka makan, tapi mereka tetap baik-baik aja tuh. Lagipula orang-orang pada menjaga jarak dengan mereka, bayangkan betapa kuatnya imunitas orang gila.

Hal yang juga menarik perhatian adalah ketika teman-teman saya yang tinggal di kota besar pada sibuk broadcast mencari oksigen dan donor darah plasma konvelesen. Teman-teman desa saya justru bingung dan memepertanyakan kenapa bisa sampai segitunya. Lha posko isolasi PPKM Mikro di desa aja dibuat main gaplek, malah sampai berencana disewakan.

“Wis lek ganok sing ngenggoni, sewakno ae per wengi piro ngunu” (Sudah itu kalau gak ada yang isolasi dan nempatin, sewakan aja per malam berapa gitu)

Kesimpulannya dari kasus Covid-19 ini, bersyukurah kalian yang sudah terbiasa hidup keras dan susah. Mengutip kata dr.Tirta dalam live instagramnya, “memang orang-orang kecil tertinggal dari segi duniawi dan kualitas hidupnya, namun justru merekalah yang akan menang dan selamat duluan dari Covid-19,”.

Refrensi :

  1. halodoc.com
  2. cnnindonesia.com

Penulis

Wikan Agung N
Twitter : @wikanagung12
Linktree : linktr.ee/wikanagung

Editor


Nasrullah. MK. Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi

About the Author

Wikan Agung Nugroho

Mahasiswa Jelata (Jelang Lima Tahun), sedang bercita-cita jadi bulan yang tak kuasa ditelan fajar, dan juga seorang pria yang sudah ahli dalam perkara mencintai tanpa harus memiliki

View All Articles