Para Pecandu Temu – Mereka adalah peziarah rindu, penyusur sungai kenangan. Pengembara jalan sepi masa silam, juga kafilah dari kota perasaan mati. Mereka bertemu di persimpangan jalan yang mereka tempuh sendiri. Mereka Inilah kisah kasih platonis paling rumit, sarat akan perasaan janggal, cerita paling rumpang yang pernah aku saksikan.

Malam itu, temaram cahaya menyoroti meja bundar yang menopang dua cangkir kopi, sebotol air mineral dan sebauh asbak. Diatas dua kursi yang tak saling berhadapan itu menanggung tubuh dengan beban kehidupan berat. Mereka saling berbincang dengan kata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

Sementara aku adalah seputung rokok terakhir yang tergeletak, tembakau dan cengkeh yang terlinting kertas, kini telah tandas. Membersamai hisapan secara bergilir,  menyebar kesekian arah menemani perbincangan mereka. Aku hinggap di udara kemudian terberai oleh angin. Sebagian dari diriku dilepaskan dari belenggu rasa kepemilikan, sebelum aku padam menjadi jelaga, abu juga sampah yang nantinya terbuang. Aku telah mengudara menggenapi kehidupan mereka malam itu.

***

Mereka para pecandu temu merupakan sebuah jiwa yang tersesat pada dua raga, setidaknya itulah yang mereka deklarasikan. Sementara Aku adalah saksi akan peristiwa pertalian dua insan, yant tersimpul pada hubungan antar individu. Aku takjub dan haru melihat dua aliran ruh yang bermuara pada lautan perasaaan yang damai itu.

Mereka larut dalam perjumpaan yang tak terduga, dengan sederhana berkenalan dan saling menjajaki perasaan melalui mata. Mulanya saling mengeja, namun seketika menghilangkan perasaan asing. Menjadi akrab tanpa perlu kata sepakat.

Entah apa yang merasuki mereka pada peralihan satuan tanggal ini, malam telah melewati batas. Setidaknya lebih dari empat jam, mereka berbicara tentang mata yang buta, hati yang terdera perih, kata menakutkan yang memendam kalut. Segala ketimpangan yang Janggal1 juga cinta dan mati.

Mereka merumuskan kata penyebut pada setiap detail point, dengan nama berikut maknanya. Dan menyusunnya sesuai abjad sebagai kamus pembunuh malam. Melalui secarik tulisan di atas tisu itu. Aku menyelami setiap kata, mengeja bahasa rasa yang mereka coba goreskan menjadi semacam monumen. Dan prasasti itu bertuliskan:

“Getar pertama itu, memisah ruang, mencatat waktu.
Jarak kerinduan membentang, menuntut temu.
Siapa kira, segala sesuatu yang berbeda,
bermuasal dan bermuara pada Satu.
tak terkecuali aku dan kamu!”

Puisi Kembara Rasa dalam “Kitab Among Diri”, 2018.2

***

Aku mafhum, mereka terlena oleh perasaan manunggal, semacam dahaga yang terpuaskan. Dalam tatapan yang teduh mereka membiaskan perasaan yang hangat. Sebuah takaran ideal yang tak berlebihan, getaran konstan yang lembut, bukan gelombang yang menggulung dengan binal.

Sebelumnya mereka pernah merasakan kenyamanan yang jatuh pada keinginan yang menggebu, kemudian dibangunkan oleh kenyataan yang menyadarkan. Serupa ketika lelap tidur di sore hari yang melenakan, sebab euforia pesta yang mewah dan meriah di kapal pesiar.

Kemudian lempeng bumi tiba-tiba beergetar dan menjadi gempa dalam waktu yang singkat. Langit menghiasinya dengan badai hujan sekaligus petir bersama, menjadi tsunami tak terprediksi dan menenggelamkan bahtera. Bencana itu datang tanpa tanda-tanda peringatan, meluluh lantakkan seluruh harapan. Segalanya hancur dan hanya menyisakan kekecewaan, mengganti keriuhan pesta yang masih berlangsung menjadi kepanikan.

Mereka para pecandu temu itu telah mencecapi kebahagiaan yang kini tinggal menjadi kata pernah. Meski mereka terbiasa oleh trauma kehilangan yang terkasih, atau sekedar berpisah karena keputusan, namun tidak kali ini. Kenyamanan itu berbeda, ia hadir dalam takaran yang pas. Sebuah hidangan dengan keharuman aroma membangkitkan gairah, sementara kelezatannya memenuhi segenap lidah. Sedang mereka belum mempersiapkan diri untuk kehilangan.

***

Mulanya mereka adalah manusia merdeka. Namun kebahagiaan yang mandiri, kedamaian hati, dan kedaulatan perasaanya terserang oleh orang asing. Perasaan yang benar-benar lain. Aku yang terbakar oleh nuansa itupun sekarang menjadi kepulan asap, serupa awan hitam dilangit mendung. Aku tak luput menjadi perumpamaan keganjilan malam itu, seperti sejarah. Yang tampak padat dan berisi, namun bila disentuh ia hampa dan rapuh3.

Meski sebelumnya aku sebagai bara api yang melahap sebatang rokok-pun mereka peringati, sebagai cara mencintai dengan sederhana. Inilah cara yang mereka ingin4. Juga temaram yang sayup-sayup meneduhkan, mereka saling menolak untuk menjadi paling bercahaya dan menyilaukan.

Bagi mereka, bila hidup ini bersandar pada dasar, maka hidup ini begitu sederhana. Hanya saja manusia selalu membutuhkan penjelasan lanjutan, kata ganti, istilah, perhitungan angka, alasan tamabahan, juga drama5. Sehingga menjalani kehidupan dengan apa adanya akan terlihat tidak begitu menarik. Tapi tidak bagi mereka, justru kehidupan yang tidak mengikuti arus utama adalah cara yang asyik.

Sebelum aku diistirahatkan pada pusara asbak, aku telah dihisap oleh mereka. Membaur pada aliran sel darah hemoglobin, kemudian menjadi residu karbon monoksida dan menyusup jauh kedalam micro sell kesadaran bahkan fikiran mereka.

Di relung hati, mereka sama saling mengagumi. Dari alam fikiran, mereka saling memuji.  Aku merasa bahagia menjadi bagian dari mereka, menurutku semesta raya telah dibuat cemburu. Kini mereka hanya bergumul pada diskusi diam, dengan mata terpejam, sesekali terbuka untuk mengedar pandangan dan senyuman.

Aku kembali menjadi sebuah kesadaran bahwa hidup harus tetap berlangsung, bergerak dan beranjak. Meninggalkan semua pencapain yang akan segera menjadi usang, kemudian aku hinggap pada rasa rela yang mereka butuhkan.

Buakankah selama ini kita selalu sibuk dengan keinginan untuk mendapatkan?. Kini mereka sama saling memiliki ku, sebuah kerelaan. Mereka kembali berpisah dan melepaskan. Membuat semesta kembali bergerak, setelah jenak terhipnotis oleh parade perasaan mereka.

***

Pada akhirnya aku harus meninggalkan mereka, mempersilahkan sesal dan kerinduan hinggap dalam kehidupan mereka. Percayalah tanpa aku, mereka kini telah menjadi bergantung akan pertemuan.

Sementara aku pergi, mereka akan tetap menjadi budak perasaan yang menindas. Menjadi kebanyakan orang-orang lain, yang secara sadar atau terpaksa menyerah sakau oleh kerinduan. Percayalah pertemuan yang menciptakan rindu itu memiliki zat adiktif, sehingga pertemuan selanjutnya hanya akan melipat gandakan kerinduan. Di ruang pesakitan, mereka mencoba merehabilitasinya. Mengisolasi diri secara mandiri, membatasi akses komunikasi.

Hidup bukanlah sekedar dimensi dua atau tiga yang bergerak, kehidupan terus berkembang. Segalanya berubah, berjalan sesuai alurnya. Seperti air yang mengalir, arusnya mengalur ke muara. Apakah ia bergerak linier? atau justru berputar seperti siklus? Entahlah, yang Pasti mereka kini terkungkung pada perasaanya. Mungkin mereka sedang lupa bahwa kebahagiaan itu tanggung jawab pribadi, sehingga mereka jauh dari kebahagiaan mandiri. Sekarang menjadi pecandu temu.

Aku menjadi kepedihan mereka, sekali lagi sebagai saksi akan pertemuan pertama yang mencipta candu. Sudah semestinya pertemuan mereka selanjutnya hanya akan menjadi pelipur, bukan obat. Selagi mereka sekarat, aku telah terlebih dahulu menjadi perasaan mati.

Dan selanjutnya Kau Adalah….

꧁_________꧂

Refrensi :
1) Riant Daffa. Janggal (2019)
2) _Re, Puisi Kembara Rasa dalam “Kitab Among Diri”, (2018)
3) Dee Lestari, Filosofi Kopi (2006)
4) Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin (1989)
5) Antoine de Saint-Exupéry, Le Petit Prince (1943)

Nasrullah. MK Al-Chudjazi

Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi
Facebook : @al.chudjazi

About the Author

Nasrullah MK. Al-Chudjazi

Lurah Sekaligus Carik

Om-om "single parent" anak satu yang berprofesi sebagai penggembala aksara, sering disebut sebagai Cah Angon. Karena sering hilang ingatan, saat ini tengah sibuk merawat kesadaranya lewat tulisan.

View All Articles