Pecandu Temu

Para Pecandu Temu – Mereka adalah peziarah rindu, penyusur sungai kenangan. Pengembara jalan sepi masa silam, juga kafilah dari kota perasaan mati. Mereka bertemu di persimpangan jalan yang mereka tempuh sendiri. Mereka Inilah kisah kasih platonis paling rumit, sarat akan perasaan janggal, cerita paling rumpang yang pernah aku saksikan.

Malam itu, temaram cahaya menyoroti meja bundar yang menopang dua cangkir kopi, sebotol air mineral dan sebauh asbak. Diatas dua kursi yang tak saling berhadapan menanggung tubuh dengan beban kehidupan berat. Mereka saling berbincang dengan kata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

Sementara aku adalah seputung rokok terakhir yang tergeletak, tembakau dan cengkeh yang terlinting kertas, kini telah tandas. Membersamai hisapan secara bergilir,  menyebar kesekian arah menemani perbincangan mereka. Aku hiinggap di udara kemudian terberai oleh angin, sebagian dari diriku dilepaskan dari belenggu rasa kepemilikan, sebelum aku padam menjadi jelaga, abu juga sampah yang nantinya terbuang. Aku telah mengudara menggenapi kehidupan mereka malam itu.

Pecandu Temu

Mereka Para Pecandu Temu merupakan sebuah jiwa yang tersesat pada dua raga, setidaknya itulah yang mereka deklarasikan. Sementara Aku adalah saksi akan peristiwa pertalian dua orang pada sebuah simpul hubungan antar individu. Aku takjub dan haru melihat dua aliran ruh yang bermuara pada lautan perasaaan yang damai itu. Mereka larut dalam perjumpaan yang tak terduga, dengan sederhana berkenalan dan saling menjajaki perasaan melalui mata. saling mengeja dan seketika perasaaan asing itu hilang, menjadi akrab tanpa perlu kata sepakat.

Entah apa yang merasuki mereka pada peralihan satuan tanggal ini, malam telah melewati batas. Setidaknya lebih dari empat jam mereka membicarakan tentang mata yang buta, hati yang terdera perih, kata menakutkan yang memendam kalut. Segala ketimpangan yang Janggal juga cinta dan mati, mereka menamai setiap detail point dengan kata berikut maknanya, dan menyusun sesuai abjad dalam kamus pembunuh malam.

Melalui secarik tulisan di atas tissu, aku menyelami setiap kata, mengeja bahasa rasa yang mereka coba goreskan menjadi semacam monumen. Dan prasasti itu bertuliskan:

“Getar pertama itu, memisah ruang, mencatat waktu.
Jarak kerinduan membentang, menuntut temu.
Siapa kira, segala sesuatu yang berbeda,
bermuasal dan bermuara pada Satu.
tak terkecuali aku dan kamu!”

Puisi Kembara Rasa dalam “Kitab Among Diri”, 2018.

Aku mafhum, mereka terlena oleh perasaan manunggal, semacam dahaga yang terpuaskan. Dalam tatapan yang teduh mereka membiaskan perasaan yang hangat, sebuah takaran ideal yang tak berlebihan, getaran konstan yang lembut, bukan gelombang yang menggulung dengan binal.

Sesal Sakau Rindu

Sebelumnya mereka pernah merasakan kenyamanan yang jatuh pada keinginan yang menggebu, kemudian dibangunkan oleh kenyataan yang menyadarkan. Serupa ketika lelap tidur di sore hari yang melenakan, sebab euforia pesta yang mewah dan meriah di kapal pesiar. Kemudian lempeng bumi tiba-tiba beergetar dan menjadi gempa dalam waktu yang singkat. Langit menghiasinya dengan badai hujan sekaligus petir bersama, menjadi tsunami tak terprediksi dan menenggelamkan bahtera. Bencana itu datang tanpa tanda-tanda peringatan, meluluh lantakkan seluruh harapan, hancur dan menyisakan kekecewaan, mengganti keriuhan pesta yang masih berlangsung menjadi kepanikan.

Mereka Para Pecandu Temu itu telah mencecapi kebahagiaan yang kini tinggal menjadi kata pernah. Mereka telah purna dari trauma oleh kehilangan kekasih atau sekedar berpisah sebab keputusan, tidak seperti saat ini. Kenyamanan itu kembali hadir dalam takaran yang pas, sebuah hidangan dengan keharuman aroma membangkitkan gairah, sementara kelezatannya memenuhi segenap lidah.

Perasaan Sederhana Itu

Mulanya mereka adalah manusia merdeka, kemudian ketenangan dan kedaulatan perasaanya diinvansi oleh orang asing, perasaan yang benar-benar lain. Aku yang terbakar oleh nuansa itupun tak luput menjadi perumpamaan, sebuah peringatan. Seperti cara mencintai dengan sederhana, inilah cara yang mereka ingin. Juga temaram yang sayup-sayup meneduhkan, mereka saling menolak untuk menjadi paling bercahaya dan menyilaukan.

Bagi mereka, bila hidup ini bersandar pada dasar, maka hidup ini begitu sederhana. Hanya saja manusia selalu membutuhkan penjelasan lanjutan, kata ganti, istilah, perhitungan angka, alasan tamabahan, dan drama. Maka menjalani kehidupan dengan apa adanya akan terlihat tidak begitu menarik. Tapi tidak bagi mereka, justru kehidupan yang tidak mengikuti arus utama inilah cara yang asik dan terkesan unik.

Sebelum aku diistirahatkan pada pusara asbak, aku telah dihisap oleh mereka. Membaur pada aliran sel darah hemoglobin, kemudian menjadi residu carbon monoksida dan menyusup jauh kedalam micro sell kesadaran bahkan fikiran mereka.

di relung hati, mereka sama saling mengagumi. Dari alam fikiran, mereka saling sepakat.  Aku merasa bahagia menjadi bagian dari mereka. Dan aku yakin semesta raya telah dibuat cemburu. Kini mereka hanya bergumul pada diskusi diam, dengan mata terpejam, sesekali terbuka untuk mengedar pandangan kesegala penjuru.

Adalah Rela

Aku kembali menjadi sebuah kesadaran bahwa hidup harus tetap berlangsung, bergerak dan beranjak. Meninggalkan semua pencapain yang akan segera menjadi usang, kemudian aku hinggap pada rasa rela yang mereka butuhkan. Buakankah selama ini kita selalu selalu disibukkan dengan keinginan untuk mendapatkan?. Kini mereka sama saling memiliki ku, mereka kembali berpisah dan melepaskan. Membuat semesta kembali bergerak, setelah jenak mereka memperhatikan mereka.

Pada akhirnya aku dengan penuh kerelaan harus meninggalkan mereka, mempersilahkan sesal dan kerinduan hinggap dalam kehidupan mereka. Percayalah tanpa aku, mereka kini telah menjadi sakau oleh pertemuan. Sementara aku pergi, mereka akan tetap menjadi budak perasaan yang menindas. Menjadi kebanyakan orang-orang lain, yang secara sadar atau terpaksa harus menyerah sakau kerinduan.

Sebab itulah mereka jatuh kembali pada ketergantungan rasa yang menindas, jauh dari kebahagiaan mandiri. Dan ketahuilah pertemuan pertama itu telah mencipta candu, dan pertemuan selanjutnya hanya akan menjadi pelipur, bukan obat. Oleh sebab mereka lupa bahwa kebahagiaan itu tanggung jawab pribadi, sekarang dan selanjutnya mereka menjadi pecandu temu. Percayalah sekalipun perjumpaan itu terjadi hanya akan menambah kerinduan selanjutnya. Dan Aku kembali menjadi udara menuju kehampaan rasa.

……. Selanjutnya, Aku Adalah…..

Nasrullah. MK Al-Chudjazi

Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi
Facebook : @al.chudjazi

One thought on “Kisah Para Pecandu Temu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *