Que Sera Sera – Salah satu lagu lama 1960-an yang perlahan-lahan ku dengar kembali. Kemudian tiba-tiba muncul seperti air jernih mengalir. Apapun yang ada di dalam lagu ini, adalah pesan terus terangnya yang membuat pendengar selalu awet. Pengarangnya adalah Ray Evans dan komponis musiknya Jay Livingston. Duo musikus yang tenar di zamannya. Doris Day penyanyi kenamaan asal Amerika yang membawakan lagu ini, dengan khidmat dan sangat menunjukkan suasana musik serta budaya pada masa itu. Klasik. Seakan-akan aku dibawa ke hulu asal muasalnya, tentu juga mengandung makna yang sangat relevan pada masa ini dan seterusnya.

Belakangan ini memang banyak sesuatu terjadi, utamanya pertanyaan-pertanyaan akan datangnya masa depan. Bisa saja hal tersebut menjadi suatu keresahan yang menjadi bumbu perkembangan diri atau malah menjadi suatu rasa takut, cemas yang berlebih dalam melangkah serta memutuskan sesuatu. Takut nantinya akan menjadi sebuah penghambat. Rasa risau itu, ya memang harus ada namun tidak dapat menjadi pedoman utama. Kemantapan hati dan fokus ke tujuanlah yang menjadi pedoman. Karena, tujuan membawa kita ke sana.

Dalam mengambil keputusan tentu akan menghasilkan resiko, entah baik atau buruk. Jika menghasilkan suatu yang buruk mungkin orang akan terpaksa menerima dengan gerutu atau terpaksa mengikhlaskannya. Namun jika baik, mungkin juga orang akan bahagia sampai lupa cara menyukurinya. Sewajarnya, masa depan memang merisaukan. Hanya saja kita hidup di masa sekarang, bukan di masa lampau. Terlebih jika mungkin diri terjerembab di jaring-jaring masa lalu. Memang menyakitkan, jika ingatan itu kita mengiringinya dengan senyum haru dengan mantra Que sera, sera. Bukan hanya menyesali kesakitan saja, hal yang telah terjadi berupa kebahagiaan yang terlewati bersama juga cukup mengena di rasa. Kita akan dipaksa untuk mengikhlaskan atau malah menyesalinya. Semuanya adalah pilihan. Berikut memilih dan menjalaninya adalah pekerjaan berat, sangat menantang.

***

Ada juga yang mengatakan bahwa kita tidak hidup di masa sekarang. Tetapi kita hidup di masa depan. Karena, kata sekarang sudah tidak ada dan tidak dapat dipastikan. Memang hidup selalu berjalan, bahkan lebih gelap dari pada mati lampu. Apa daya sejak tulisan ini ada memang detikan waktu terus berjalan memutari garis edarnya. Aku berusaha untuk menerangkan kata sekarang juga tidak ada. Kita selalu bergerak dan dinamis. Usaha-usaha dalam menyiapkan sesuatu yang akan datang sudah dimulai dari sekarang. Karena kata ‘sekarang’ bertransformasi sangat cepat menjadi masa lalu. Mungkin saja, jika kerja dari rasa ‘keikhlasan’ bisa secepat itu apakah kita masih juga jauh dari damai dan jernih?.

Andaimu, keikhlasan tidak semudah itu. Jika saja ada kata syukur dan menerima yang menghubungkan antara ‘sesal’ dan ‘ikhlas’ barangkali semuanya akan mempercepat. Setidaknya kalau memang tidak cepat, seseorang telah mencobanya. Lantas syukur itu ada yang mengatakan adalah kecerdasan bagi seorang. Dalam kondisi bagaimana dan seperti apa, prespektif/sudut pandang akan bermain di situ. Kecerdasan seseorang memandang objek, tepatnya dirinya sendiri sebagai objeknya, akan diuji. Miris jika pintar mampu menilai seseorang tapi lalim menilai kondisinya.

Bagi kalian yang sedang mengalami risau akan suatu yang akan datang, maka biarlah yang terjadi akan terjadi. Menggapai masa yang tidak kita ketahui, dan yang sebenarnya kita bisa menebak-nebak, meraba-raba, tapi hasil adalah bukan ranah kita. Tenanglah jiwa dan raga yang sedang berkelana. Riuhlah yang sedang berlari di jalan untuk pulang. Begitu juga yang telah terjadi, baik kemanisan, kemanjaan, kesakitan akankah sama di kemudian hari? Que sera, sera. Whatever will be, will be.

Ilustrasi Gambar : pixabay.com

About the Author

Tri Raharjo

Pria 173 cm, strawberry menjadi buah favorit, dan teman yang baik meski suka gajelas

View All Articles