Sepulang Ngaji dari Langgar

Oleh: Edeliya Relanika (1) Pukul 5 sore, aku buyar ngaji, lalu lapar. Lapar mengutuk tanganku memukul gemas kepala dengan kopyah putih keras. Kenapa tangan menjadi anarkis pada diri sendiri? Karena Wak Inggih masih menghukum Ulfah, tiada lancar melantunkan hapalan surah pendek sampai khatam. Terpaku, kami masih terlikat di lantai Langgar. Kami arek Kroman Gang 7 Lanjutkan Membaca

JEJAK SI MINTHI

“JEJAK SI MINTHI” Hai peliharaan kecil bermesinku Temanilah blantikmu setiap ia melaju Antarlah ia ke jalannya dengan tubuh mungilmu Kokohkan besi tua mu bila ia mengendarai mu Berlelahlah bersamanya Menikmati kehidupan monoton di kota perantauannya Janganlah lupa Untuk kau meneguk satu atau dua liter pertalite Sebab jalan tak sependek yang terkira -Thontowi J

NAFKAH DI NEGRI TAK BERANTAH

“NAFKAH DI NEGRI TAK BERANTAH”   Saban malam di kota perantauanku Ada yang menikmati dengan memejamkan penglihatannya Sebab mata tak kuasa menahan pancaran neon neon Ada yang menenggak kopi, seruput demi seruput Sebab pencernaan tak hanya tentang nasi dan lauknya Dan ada pula yang masih sibuk dengan masalah finansialnya Sebab perjalan panjang bukan hanya nafas Lanjutkan Membaca