Yang Tak Pernah Siap Patah – Lagi – lagi, dan lagi. Dia menuduh ku! Entah, apakah wataknya memang begitu. Menganggap apa yang ia fikirkan tentang seseorang, perlu divalidasikan secara langsung dan terus terang? Ataukah ia merasa memiliki indera keenam, dengan kemampuan cenayang atau bagaimanalah? Aku tak tahu! Tapi tuduhannya kali ini benar – benar membuatku geram. Ini kenaifan juga tahayul yang menyesatkan.

Malam itu sangat menyebalkan, bukan saja karena esoknya adalah hari minggu. Sehingga jalanan begitu padat, penuh dengan pasangan jiwa yang tersesat oleh ketergantungan perasaan dan kesenangan pasif. Di sepanjang trotoar jalan, kursi – kursi juga jalur pedestarian padat oleh pasangan manusia yang pamer kemesraan. Kedai – kedai penuh dengan segerombolan orang yang menekur menghibur diri dan menghamburkan waktu.

Aku tidak iri, hanya saja risih. Mengumbar keintiman perasaan di muka umum, bagiku adalah hal yang tidak patut. Selain tidak sesuai dengan norma sosial, juga hal ini tidak dibenarkan oleh kebudayaan timur. Dan mereka yang membunuh malam hanya untuk kebahagiaan semu di kedai, bagiku adalah tabiat yang sia – sia.

***

Terlebih dia menuduhku yang bukan-bukan, malam itu. Menurutnya aku adalah kamus, ensiklopedia bahkan perpustakaan yang berjalan. Aku bukanlah seorang guru, atau pengajar, apalagi dosen. Ketika aku menyanggahnya, dia justru mencibirku sebagai orang yang bijaksana. Penasehat kehidupan yang memberi manfaat cuma-cuma.

Padahal Aku bukanlah mentor bagi mereka yang kurang bersyukur akan karunia Tuhan. Apalagi Motivator, pengobral kata semangat bagi orang yang tengah jenuh dan butuh gairah baru, menemani mereka yang kurang percaya diri. Ataupun juga konselor, tempat orang yang berkeluh kesah. Sebagai tempat pembuangan dan mendaur limbah pemikiran mereka.

Dan yang lebih personal, ia menuduhku sebagai Philantro-sophis, Penderma Cinta. Manusia yang hatinya berkelimpahan rasa cinta, dan tak segan membagi untuk segenap manusia. Ia menyayangkan bila orang sepertiku harus diprivatisasi, menjadi bahan koleksi pribadi. Karena Matahari tidak bertuan, atau bersertifikat hak milik.

Ia malah meramalkan bahwa aku akan selalu kesulitan menjalin asmara, cara mencintaiku justru akan menyakitkan. Dan akan jarang bisa memahami keberlimpahan rasa itu. Ia menyamakanku dengan bara api. Hangat bila berada di dekatnya, namun tiada mungkin memeluknya. Lagi – lagi dengan tenang, ia menghujamku dengan simpulan yang cenderung melecehkan.

***

Ketiga tuduhannya itu tak mendasar, ia sembrono dalam menilai, tidak memperhatikan kondisi perasaan, bahkan terkesan mengejek. Cara bicaranya yang enteng dan dipercuek, seperti membuang sampah tanpa rasa tanggung jawab.

Bukan bermaksud rendah hati, aku menanggapi sangkaan itu dengan asas praduga tak bersalah. Aku menimpalinya dengan senyum kemudian mengulang perkataanya. Bukan untuk mempertegas, namun hanya mengakhirinya dengan tanda tanya. Ia Justru terkekeh dan berseru “lihatlah, kenaifanmu justru menunjukan betapa lembutnya hati mu!”

Ia menganggap pertanyaan ku hanyalah retorik.  Dan keraguanku atas ucapannya dinilai bentuk dari sebuah sikap yang  lugu. Sebagai seoarang wanita ia cukup mendominasi  percakapan malam itu. Ia justru merasa heran, mengapa aku tidak mencoba untuk bermain-main dalam kehidupan. Meskipun baginya, aku memliki kreatifitas untuk bermaian dengan adrenalin, menurutnya aku terlalu berhati-hati dalam menjalani hidup, kurang menantang dan cenderung monoton. “Jangan terlalu alim-lah!” gurauanya.

Dan semakin aku sanggah ia semakin menjadi-jadi. Ia memaparkan dengan hiperbola yang di sengaja. Justru terkesan ironi. Sementara aku mendengarnya mengoceh, pintu basement menghentikan jalan kami, dan berpisah. Ia adalah teman sejak kecil ku. Mulai dari Sekolah dasar hingga di Institute ini kami hampir satu ruang belajar dan berkarya.

 

Baca Juga : Belajar Tentang Cinta

***

Maka segala serapah yang ia tujukan padaku malam itu, adalah pengecualiaan untuk diambil hati. Ia memasuki mobil, dengan seorang lelaki di dalamnya. Mereka telah tiga tahun menikah, dan selama itu juga aku menjadi apa yang ia tuduhkan.

Aku berjalan menunduk, seperti pejuang perang yang pulang seorang diri tanpa penyambutan.  Segenap penghidupan ku adalah pemakaman, dan aku menjadi pohon beringin besar yang tumbuh menaungi kuburan. Begitu garang, kokoh dan rindangnya pohon besar itu di permukaan. Di dalamnya terdapat ratusan perasaan mati yang tertanam. Dan seperti itulah pohon tanpa buah.

Meskipun harus aku akui, ujaran serupa acap kali aku dengar. Baik dari rekan intitute, ataupun client dan mitra bisnis. Nampaknya aku adalah lilin, yang leleh untuk menerangi. Boleh jadi apa yang ia sampaikan berniat memuji. Namun bagi ku, perkataanya adalah tuduhan, bahkan ejekan yang terlalu kejam. Selanjutnya sudah bisa dipastikan, saat itu aku tak bisa tidur semalaman. Bagaimanapun ia, Dia adalah satu-satunya orang yang membuatku seperti ini.

Dialah Elisa, teman seperasuhan,  Assisten sekaligus  manager-ku. Satu –satunya orang dekat dalam hidupku. Sejak kecil tumbuh bersama, hidup bersama. Selalu bersama tanpa saling memiliki. Satu-satunya wanita yang aku cintai, selain ibuku. Namun hanya karena aku takut membuatnya sakit hati, perasaan itu aku kubur, dan merelakanya menikah dengan lelaki lain. Aku yang tak pernah siap patah hati, lebih memilih mananam perasaan cinta. Merawatnya tumbuh, dan membiarkannya hidup sebagai pohon. Yang kokoh menjulang, meski tanpa buah.

______________

Yang Tak Pernah Siap Patah (2017)

Penulis :
Nasrullah. MK. Al-chudjazi
Twitter : @al_chudjazi
Instagram : @al.chudjazi

About the Author

Nasrullah MK. Al-Chudjazi

Lurah Sekaligus Carik

Om-om "single parent" anak satu yang berprofesi sebagai penggembala aksara, sering disebut sebagai Cah Angon. Karena sering hilang ingatan, saat ini tengah sibuk merawat kesadaranya lewat tulisan.

View All Articles